Short Story

We believe that the short story matters.

Welcome to short story section. the short story is one of the most exciting and important literary forms, and that it can, and should, reach the widest possible readership.

short story

Dongeng Animasi 3D: Pangeran Kecil

Pangeran Kecil oleh: Antoine de Saint-Exupéry (disadur oleh Kyowon Editorial Department) Ketika masih berusia 6 tahun, aku menggambar untuk pertama kalinya. Gambar seekor ular boa pembelit besar yang menelan gajah bulat-bulat sambil mencernanya perlahan. Namun, orang dewasa tidak bisa memahami gambarku. Semuanya selalu berkata, "Wah, kamu menggambar topi." Karenanya, aku pun menggambar bagian isi perut ular boa pembelit tersebut. Dengan...

by Kyowon Editorial Department detail
short story

I Love My Dad

Hanya Aku dan Papa oleh: Watiek Ideo Papa dan Mama sudah lama berpisah. Aku tinggal bersama Mama. Suatu hari Mama berkata, "Mama harus tugas kerja sepekan di luar kota. Kamu tinggal sama Papa dulu, ya?" Aku pun membawa perlengkapanku ke rumah Papa. Papa mengantarkan aku pergi ke sekolah. Sepulang sekolah, Papa mengajakku ke kantornya. Aku menemaninya hingga sore di sana....

by Watiek Ideo detail
short story

Dongeng Aneka Hewan Laut

Kejutan yang Berantakan oleh: Iwok Abqary Hari ini Boni si ikan buntal berulang tahun. Greta dan teman-temannya ingin memberikan kejutan istimewa. Tapi, kejutan seperti apa, ya? "Tidak mungkin aku memberikan hadiah pita," keluh Greta. "Boni pasti tidak akan mau mengenakan pita di ekornya." "Tentu saja," jawab Crabi sambil tertawa. "Boni kan laki-laki." "Bagaimana kalau kita bikin kue tart?" usul Rubi....

by IWOK ABQARY detail
short story

Cerita Anak Pemberani

Aku Tidak Takut Gelap Oleh: Watiek Ideo Ada seorang anak cantik bernama Cindy. Tiap malam liburan, dia selalu menolak bila diajak kakak dan teman-temannya bermain kemah di halaman rumahnya. Hmm, Cindy kenapa, ya? Tiap ditanya, ada saja alasannya. Padahal, berkemah kan sangat menyenangkan. Ada satu cerita seru! Pada suatu malam, Cindy, Beno, dan Daren bermain bersama di rumah Tika. Tak...

by Watiek Ideo detail
short story

Keluargaku Kesayanganku

Pelukan Ibu Oleh: Theresia Praditya dan Orange Nira Apa kamu suka dipeluk Ibumu? Ya, aku sangat suka dipeluk Ibuku. Saat aku terbangun dar tidurku, Ibu ada di sampingku. Ibu mengucapkan "selamat pagi" sambil memelukku. Dan saat aku selesai mandi, Ibu akan mencium pipiku yang harum lalu memelukku. Saat aku berhasil menyusun balok menjadi tinggi, aku sangat gembira. Ibu pun ikut...

by Theresia Praditya detail
short story

Aku Cerdas Mengelola Emosi

Jajanan Lezat Oleh: Fitri Restiana Eca ingin sekali bisa menikmati semua jajanan di sekolahnya. Pisang cokelat, gorengan, es teh, pentol, dan banyak lagi! Seperti Suci, Hani, dan Alda. Setiap hari ketiga sahabatnya selalu menikmati aneka jajanan di sekolah. "Ini enak, loh," Alda menyodorkan gorengan dengan bumbu pedas ke hadapan Eca. Eca lalu mengambil dan memakannya dengan lahap, "Waah, besok aku...

by WATIEK IDEO & FITRI RESTIANA detail
short story

Kelinci Beledu: Bagian 2 (Tamat)

Musim panas yang terik pun tiba. Anak Laki-laki dan Kelinci Beledu suka bermain di hutan dekat rumah. Anak Laki-laki membuatkan sarang kecil dan menaruh Kelinci Beledu di sana, setelah itu dia pergi memetik bunga. Suatu hari, ketika sedang sendirian, muncul dua ekor kelinci. Kelinci-kelinci itu mendekat sambil mendengus, 'Bisa bergerak tanpa pegas? Sungguh aneh.' Kelinci Beledu pun merasa bingung. Salah...

by Margery Williams (Kyowon) detail
short story

Kelinci Beledu: Bagian 1

Ketika bangun pagi di suatu Natal, Anak Laki-laki segera berlari menuju tumpukan hadiah lalu membukanya dengan semangat. Ada kenari, jeruk, cokelat almond, mobil mainan, tikus mainan, dan banyak lagi... termasuk, sebuah boneka Kelinci Beledu yang sangat bagus dan berbulu lembut. Anak itu pun bermain dengan Kelinci Beledu untuk beberapa waktu. Saat waktu makan malam tiba, para tamu berdatangan dan membawa...

by Margery Williams (Kyowon) detail
short story

Cerita Anak Pemberani

Uh! Siapa itu? Malam ini, Reno merasa cemas. Dia harus tidur sendiri di kamar barunya. "Kalau Reno tidak bisa tidur, bagaimana, Ma?" tanyanya. "Kamu akan baik-baik saja," kata Mama menenangkan. Mama mengantar Reno ke kamar, tapi Reno terlihat enggan. "Selamat tidur, Sayang," kata Mama. Klik... lampu pun dimatikan. Reno memandangi hiasan bintang dan planet yang menyala indah di dinding kamarnya....

by Watiek Ideo detail
short story

Dreamlets Sang Pembuat mimpi

What Goes On Inside the Wall? Apa yang Terjadi di Dalam Dinding   Whenever we see a wall, it’s normal to wonder what goes in behind it. For example, if your sister sleeps next door, when you wake up in the morning, probably you wonder whether she has also waken up on the other side of the wall. Or if you walk pass the classroom wall at school, you wonder how many students are inside. You see, it’s normal to wonder what’s behind a wall. However, we almost never wonder what goes on inside the wall. After all, there are only bricks and mortar inside the wall, right? Well, let me tell you a secret. Inside the wall live creatures you have never seen. These creatures are small, elastic, furry and cute. They can fly, can see through walls, and they are not visible to our eyes. Those creatures are the dreamlets. And their job is to create dreams. After a house or a building is built, right after the builders build the walls, the dreamlets will let themselves into the wall and will create a living space for themselves. Then they will dug tunnels that allow them to travel all over the building. They create small holes that they use to get ini and out from the wall. Dreamlet are not created identical. Some are quite and calm, others are mischievous and bold. Some are fat, some are thin. They come in different sizes and have different characters, just like ourselves. That is why the dreams taht we get usually vary. When we dream taht we are reading a book quietly under a big tree, this dream must have been created by a quiet dreamlet. Saat melihat dinding, mungkin kita membayangkan yang terjadi di balik dinding itu. Misalnya, jika kakakmu tidur di kamar sebelah, setelah kau bangun di pagi hari, mungkin kau akan berpikir apakah kakakmu juga sudah bangun di balik tembok itu. Atau ketika kau berjalan melewati tembok kelas di sekolah, kau mengira-ngira ada berapa anak di dalam kelas. Begitulah, bukan sesuatu yang aneh membayangkan hal-hal yang berada di balik sebuah tembok. Tapi, kita hampir tidak pernah memikirkan apa yang terjadi di dalam tembok. Lagi pula, bukankah di dalam tembok hanya ada batu batu dan semen? Nah, kuberi tahu sebuah rahasia. Di dalam tembok ada makhluk yang tidak pernah kau lihat. Makhluk ini mungil, lentur, berbulu, dan lucu. Mereka bisa terbang, bisa melihat menembus tembok, dan tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Makhluk ini bernama dreamlet. Mereka adalah pembuat mimpi. Setelah sebuah rumah atau bangunan dibangun, setelah para tukang menyelesaikan bagian dindingnya, dreamlet-dreamlet akan masuk ke dalam dinding dan membangun tempat tinggal untuk mereka sendiri. Lalu mereka akan menggali terowongan-terowongan supaya mereka dapat bergerak ke seluruh bangunan. Mereka juga membuat lubang-lubang kecil untuk keluar-masuk. Dreamlet berbeda satu dan lainnya. Ada yang pembawaannya tenang, ada yang berani dan suka ribut. Ada yang gemuk, ada yang kurus. Mereka sama seperti kita, punya bentuk dan ukuran berbeda-beda, juga sifat yang tidak sama. Itulah sebabnya mengapa kita punya mimpi yang beragam. Ketika kita bermimpi membaca buku di bawah pohon yang rindang, mimpi itu pasti dibuat oleh dreamlet yang pendiam. (Diambil dari halaman 1-9)

by Arleen Amidjaja detail
short story

50 Cerita Jenaka

Aku Ingin Punya Sayap Sebuah nukilan dari buku Five Children and It oleh E. Nesbit Lima orang anak-- masing-masing bernama Cyril, Anthea, Robert, Jane, dan si bungsu yang masih bayi, dipanggil "si Anak Domba"-- pindah rumah dari London ke daerah perdesaan di Kent. Di dalam sebuah bak pasir belakang rumah, mereka menemukan sesosok makhluk aneh yang disebut Psammead atau Peri...

by VIC PARKER detail
short story

The Book of Bunnies

Ray, Si Kelinci Bulan   Suatu malam yang indah di musim semi, seekor kelinci kecil bernama Ray belum tidur. Dia sedang memandangi bulan yang bersinar keperakan. Ray memang suka memandangi bulan. Dia melakukannya setiap hari. Tiba-tiba sesuatu berwarna abu-abu turun dari bulan dan mendarat di dekatnya. Seekor kelinci yang sangat tua memperkenalkan dirinya sebagai Kelinci Bulan. Dan karena dia sudah tua, dia sedang mencari seorang penerus. Ray amat bersemangat. Dia pernah mendengar cerita tentang kelinci yang tinggal di bulan dan makan pai bulan. Dan sekarang, si Kelinci Bulan datang untuk menjadikannya muridnya. “Ya, tentu aku akan ikut!” kata Ray. Lalu mereka pun naik ke bulan bersama. Ray tersenyum lebar selama perjalanan. Tapi ketika mereka tiba di bulan, senyum Ray menghilang. Bulan sama sekali tidak seperti yang dia bayangkan. Dari dekat, bulan terlihat abu-abu suram dan penuh lubang, sama sekali tidak bersinar. Dan dia bertambah bingung ketika si Kelinci Bulan memberikannya sebuah sapu.  “Ayo kita mulai!” katanya. Ray melihat sapunya. Dia tidak tahu harus berbuat apa dengan sapu itu. “Apakah kita akan terbang dengan sapu ini?” tanyanya. Si kelinci tua abu-abu tertawa. “Terbang dengan sapu hanya terjadi di dalam buku cerita,” katanya. Ini yang kaulakukan dengan sapu,” lanjutnya. Lalu si kelinci tua mulai menyapu. Ray tak punya pilihan lain. Dia pun mulai menyapu. Dan, seraya mereka menyapu bulan, si kelinci tua menjelaskan bahwa permukaan bulan harus disapu setiap hari dai debu bulan. Hanya setelah disapu, bulan akan bersinar keperakan. Si kelinci abu-abu itu juga menjelaskan bahwa bagian yang harus disapu tergantung dari fase bulan, apakah bulan sabit atau bulan purnama. Tentu saja pekerjaan paling berat adalah saat bulan purnama karena seluruh permukaan bulan harus disapu. “Jadi inikah yang dilakukan oleh Kelinci Bulan?” tanya Ray. Si kelinci tua mengangguk. “Bagaimana denganpai bulannya?” tanya Ray. Lalu si kelinci tua abu-abu memberikan sesuatu yang bundar kepada Ray. Ray memakannya. Pai bulan ternyata tidak selezat yang dia pikir. “Maaf, Tuan Kelinci Bulan. Rasanya aku tidak bisa jadi kelinci bulan. Bolehkah aku pulang?” tanya Ray. Si kelinci abu-abu menghela napas. “Yah, memang semakin sulit untuk mencari yang mau menjadi kelinci bulan sekarang ini. Ketika aku melihat caramu memandang bulan setiap harinya, tadinya kuharap kau akan mau. Tidak apa. Kau boleh pulang,” kata si kelinci abu-abu. Si kelinci tua lalu memberinya sebuah batu bulan. “Jika kau berubah pikiran, pegang batu ini dan katakan Kelinci Bulan tiga kali,” katanya. Ray tahu dia tidak akan berubah pikiran, tapi dia menerima batu itu demi kesopanan. Dan setelahnya, Ray menemukan dirinya sudah kembali ke bumi. Sejak saat itu, Ray masih sering mengagumi bulan. Dia menyukai sinar keperakan yang jatuh ke permukaan tanah hutan. Dia juga begitu menyukai bulan sabit yang benar-benar sabit dan bulan purnama yang benar-benar purnama. Mungkin dia lebih menyukainya karena sekarang dia tahu itu adalah hasil kerja si kelinci tua abu-abu. Tetapi seraya bulan-bulan berlalu, Ray melihat ada perbedaan. Bulan menjadi tidak terlalu bersinar dan tidak terlalu perak. Sinar bulan telah menjadi redup. Hewan-hewan hutan lain bingung. Tidak ada yang dapat mereka lakukan selain mengeluh bahwa malam hari sudah tidak seindah dulu lagi. Tetapi dalam hati, Ray tahu apa yang terjadi. Si Kelinci Bulan telah semakin tua dan semakin lemah dan kelihatannya dia belum juga menemukan pengganti. Ray mengeluarkan batu bulannya. Dia memandang batu itu dan memandang hutan. Dia memandang rumput dan pohon. Dia memandang tumpukan wortel. Itu adalah hal-hal yang harus ditinggalkan si kelinci tua abu-abu sewaktu dia menjadi kelinci bulan. Ray bertanya pada dirinya sendiri, apakah pengorbanan seperti itu berarti. Dan malam berikutnya, ketika bulan tidak bersinar sama sekali, Ray memutuskan bahwa pengorbanan itu memang berarti. Maka dia pun memegang batu bulannya dan membisikkan kelinci bulan sebanyak tiga kali. Ketika tiba di bulan, si kelinci tua abu-abu sedang menyapu. Tapi Ray melihat bahwa si kelinci tua tidak akan dapat menyapu semua debu bulan itu. Ray pun mengambil alih sapu dari tangan si kelinci tua dan mulai menyapu. Dan malam itu, hewan-hewan hutan melihat bulan purnama yang paling bulat dan paling bercahaya. Dan ketika Ray melihat dari jauh bagaimana bersukarianya hewan-hewan hutan itu, dia tahu dia telah membuat keputusan yang benar. Dia yang akan menjadi Kelinci Bulan yang berikutnya. (Diambil dari halaman 41-60)

by Arleen Amidjaja detail
close

Main menu