Short Story

We believe that the short story matters.

Welcome to short story section. the short story is one of the most exciting and important literary forms, and that it can, and should, reach the widest possible readership.

short story

100 Cerita Rakyat Nusantara

Inilah 100 kisah abadi di beragam kota tanah air. Kisah romantis tentang cinta sejati, kisah tragis dalam keluarga, dan beragam kisah seru menghadapi raksasa. Setiap kisah mengajarkan pada anak untuk berani berjuang, cerdik menghadapi masalah, dan selalu jujur kepada siapa pun. Mari menjelajahi Indonesia lewat 100 cerita nusantara! Buku ini adalah buku ketiga cerita nusantara yang ditulis oleh Dian Kristiani....

by DIAN K detail
short story

Kumpulan Dongeng 4 Musim

    Lemari Pendingin Pierre Milou     Pierre Milou si koki istana sedang bingung. Dia teringat musim dingin tahun lalu saat badai salju melanda Kerajaan La Roche. Berminggu-minggu wilayah kerajaan terkepung tumpukan salju. Tak seorang pun bisa keluar masuk wilayah kerajaan. Akibatnya, Kerajaan La Roche mengalami kesulitan pangan. Persediaan makanan menipis. Untung saja sebelum jatuh korban jiwa, badai salju berlalu. Kerajaan La Roche...

by ERNITA DIETJERIA detail
short story

52 Dongeng di Hari Sabtu

Sangat Mirip Aslinya!   Celaka! Martin susah bangun pagi ini. Alarmnya sudah berbunyi, tapi Martin benar-benar tidur nyenyak. Dia baru saja menhentikan deringnya, tapi maiah tertidur iagi. Sekarang—alangkah bodohnya!—dia terlambat pergi ke acara kejuaraan bagi pemahat pemuia. Tahun ini, tema kejuaraan itu adaalah “memahat benda sehari-hari yang sangat mirip aslinya.” Martin merasa hal ini sangat lucu. Namun ketika dia akhirnya tiba, semua pemahat pemula lainnya sudah memilih objek mereka: sepasang sepatu, sebuah jam, sebuah teko... yang masih tersisa hanya sebuah bantal! Memang, ini objek yang idea bagi si tukang tidur. Namun, Martin lebih suka sesuatu yang lebih rumit, yang kurang persegi, yang kurang datar... Pokoknya apa saja selain bantal! Namun apa boieh buat, Martin tetap harus mengerjakannya. Dengan tekun, dia memotong,  memahat, membuat lengkungan, dan memoles sebuah bongkah batu putih yang besar. Pada akhirnya, pahatan bantal itu menjadi andalannya. Ketika waktu pemeriksaan final tiba, dia sudah siap. Oscar, Caesar, dan Gaspard; ketiga anggota juri, melewati pahatan demi pahatan dan menilai karya satu demi satu. ketika mereka sampai di tempat Martin, Oscar meneliti bantal putih yang besar itu. "Orang mengira bahwa bantal ini empuk,"katanya mengagumi. "Dan juga lembut untuk disentuh,” Caesar menambahkan. Sementara Gaspard mendekati bantal dari batu itu. Dia meletakkan kepalanya dengan nikmat... dan segera tertidur. Juri memutuskan dengan bulat. Inilah pahatan yang paling mirip yang pernah dibuat!" kata Oscar dengan antusias. "Saya sependapat," kata Caesar menyetujui. Grok, fyuuuu! Gaspard memutuskan sambil mendengkur. Dengan membiarkan rekan mereka tidur, Oscar dan Caesar pun menyerahkan piala pemahat pemula terbaik kepada Martin. Beberapa waktu kemudian, ketika Gaspard akhirnya bangun, benda-benda pahatan itu sudah dipamerkan untuk umum. Namun sebelumnya, Oscar meletakkan sebuah catatan kecil di bantal Martin. “Jangan dipakai untuk perang bantal!” (Diambil dari halaman 30-31)

by Fleurus detail
short story

52 Dongeng di Hari Jumat

Kembang Api untuk Sebuah Ulang Tahun   Saat ini ada kesibukan besar di pulau bajak laut! Mereka merayakan ulang tahun ketujuh Nathan, putra kepala bajak laut. Untuk mempersiapkan ulang tahun itu, ayahnya telah mengirimkan kapal-kapal ke seluruh penjuru. Lihatlah kapal-kapal itu kembali dengan membawa barang-barang jarahan: berkoper-koper mainan curian dan berpeti-peti permen yang dirampok. Aris, biapak angkat Nathan, bahkan menangkap sebuah perahu layar agar anak angkatnya berlatih memimpin kapal pertamanya! Namun perahu layar itu tidak kosong. Kepala bajak laut melihat tiga tawanan turun dari perahu itu: seorang ayah, seorang ibu, dan anak mereka. Dia bertanya kepada anak itu, “Siapa namamu? Berapa umurmu?" "Namaku Armand dan umurku tujuh tahun," jawab anak laki-laki itu dengan takut-takut. Demi tengkorak bendera hitamku, kebetulan sekali. Kamu akan menjadi teman buat Nathan!" Armand merapat paa orangtuanya. Dia tidak ingin menjadi teman seorang bajak laut! “Tabahlah, Armand! Berusahalah agar kita selamat,” bisik ayahnya. Beberapa jam kemudian, Nathan berjalan-jalan dengan Armand di antara bergunung-gunung hadiah. “Wow, luar biasa!” Armand mengangkat bahu. “Ah, masih kurang kembang api untuk pestamu. Pada ulang tahunku yang ketujuh, aku mendapatkan pesta kembang api yang dapat dilihat sampai lebih dari seribu kilometer!” Nathan merasa iri dan berkata, “Ayah, aku juga mau kembang api!” Kepala bajak laut itu merasa tidak enak hati. Hari ini, dia telah berjanji untuk mengabulkan semua keinginan putranya! Oleh karena itu, dia membisikkan perinta ke telinga Aris. Beberapa menit kemudia, sebuah ledakan membuat seluruh pulau bergetar. Aris telah meledakkan gudang peluru! Kembang api berwarna-warni meluncur ke langit dan berpijar-pijar. Nathan terpseona, sedangkan Armand tersenyum. Tipu muslihatnya berhasil. Ternyata dari daratan, prajurit-prajurit raja melihat ledakan itu. "Para bajak laut itu sudah meledakkan gudang peluru mereka! lnilah saatnya menyerang mereka!" Dengan segera mereka naik ke kapal-kapal perang dan langsung menyerbu pulau itu. Ketika melihat mereka datang, para bajak laut bergegas ke meriam-meriam mereka. Namun, mereka tidak punya satu peluru pun untuk ditembakkan... dan pedang-pedang mereka tidak dapat berbuat banyak melawan para prajurit itu! Setelah peperangan yang singkat, semua ditangkap. Nathan menarik Iengan baju ayahnya, “Ayah, sekarang aku ingin meniup lilin-Iilinku!” Namun ayahnya begitu marah, sehingga Nathan hanya bisa terdiam.     (Diambil dari halaman 61-71)

by Fleurus detail
short story

Cerita Klasik Dunia

Orang yang Tidak Pernah Berbohong   Di pasar, orang-orang tertawa terbahak-bahak. “Kamu mengarang cerita itu,” kata mereka pada seseorang yang sedang berbicara. “Pembohong,” lanjut mereka. Lalu mereka semua tertawa lagi. “Tidak, aku tidak berbohong,” sanggah orang itu. “Setelah melalui dua puluh hari perjalanan dari sini, kalian bisa menemui orang bijak yang tidak pernah berkata bohong. Dia tidak pernah berbohong sekali pun.” Sementara orang-orang itu bercanda dan saling menggoda, lewatlah sang raja sambil menunggang kuda. Dia bertanya apa yang membuat orang-orang itu tertawa geli. Setelah tahu penyebabnya, sang raja ingin tahu lebih banyak lagi. Dia berkata kepada seorang pelayannya. “Aku ingin bertemu dengan orang bijak itu. Pergi dan bawalah dia kemari.” Orang bijak itu mengenakan pakaian lusuh. Tetapi dia sama sekali tidak takut saat dibawa ke hadapan raja. “Apakah benar kau tidak pernah berkata bohong?” tanya sang raja. “Benar,” jawab si orang bijak. “Apakah kau sendiri yang memutuskan untuk tidak pernah berbohong?” “Ya,” jawab si orang bijak. Sang raja tampak terkesan. “Niat yang sangat bagus. Akan tetapi, berhati-hatilah. Kebohongan selalu berusaha hadir di setiap perkataan,” ujar sang raja. Satu minggu berlalu. Pagi-pagi benar, untuk kedua kalinya raja memanggil si orang bijak. Orang itu tiba ketika raja sudah siap berangkat berburu. Jadi saat itu sang raja sedang memegang bulu tengkuk kuda dan kaki kirinya berada di sanggurdi, siap naik ke punggung kuda. "Pergilah ke istana musim panasku, dan beritahukan ratu yang sedang berada di sana bahwa besok kami akan tiba di sana untuk jamuan makan tengah hari,” titah sang raja. Si orang bijak membungkuk lalu pergi. “Sekarang kita akan bersenang-senang. Kita tidak harus pergi berburu, dan sebagai gantinya kita akan menikmati hiburan musik,” kata sang raja kepada rombongannya. “Besok kita akan pergi dan mengingatkan orang bijak itu betapa mudahnya seseorang dikelabui.” Sementara itu, si orang bijak bergegas menuju istana musum panas dan menjelaskan kedatangannya. “Mungkin Ratu harus menyiapkan perjamuannya, atau mungkin juga tidak,” tuturnya. “Mungkin Raja akan datang pada tengah hari, tetapi mungkin juga tidak.” “Aku meminta jawaban yang jelas,” ucap sang ratu. “Apakah Raja akan datang atau tidak?” “Saya tidak tahu,” jawab si orang bijak. Saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Raja setelah saya pergi. Apakah Raja lalu naik ke atas kuda, atau menurunkan kaki kirinya dari sanggurdi? Apakah Raja lalu pergi berburu, atau mengubah rencananya? Apakah Raja akan datang sesuai rencana, atau ada sesuatu yang terjadi sehingga beliau mungkin tidak datang?” Pada hari berikumya. sang raja datang, itu pun ketika malam sudah menjelang. Saat memasuki istana, dia melihat para pelayan membuka penutup hidangan yang mereka sajikan di meja. Sang raja tersenyum. “Si orang bijak yang meminta kalian untuk menyiapkan semua ini melakukan kekeliruan. Aku rasa dia tidak mengatakan yang sebenarnya," katanya. Namun. sang ratu memberi tahu suaminya apa tepatnya yang disampaikan oleh orang bijak itu dan bahwa mereka mempersiapkannya dengan kemungkinan Raja akan datang sewaktu-waktu. atau tidak datang sama sekali. Maka, sang raja pun sadar bahwa orang yang bijak itu hanya menyampaikan kebenaran atas hal-hal yang dia lihat dengan matanya sendiri. (Diambil dari halaman 76-81)

by Lois Rock detail
short story

Coka Ingin Jadi Beruang

Rumah Baru Riri Hai, namaku Riri. Aku adalah umang-umang kecil. Aku punya sebuah rumah yang selalu kubawa-bawa. Lihat, ini dia. Keren, kan, rumahku? Tapi... oh, gawat. Rumahku bolong. Aku harus mencari rumah baru lagi. "Mama, temani aku mencari rumah baru, dong” kataku kepada Mama. ”Rumahku sudah bolong. Lihatlah...” Aku menunjukkan Iubang kecil di atas cangkangku. Aku meninggalkan cangkang lama ku dan berjalan menyusuri pantai bersama dengan Mama. "Kamu mau rumah yang seperti apa?" tanya Mama. "Hmm," aku ingin rumah yang mengilap. Seperti rumah Tepo." "Aku juga ingin rumah yang besar. Seperti rumah Lulu,” kataku lagi. "Pokoknya rumah baru yang lebih nyaman daripada rumah Iamaku.” “Aah... ini dia." Aku merayap pelan ke arah cangkang kosong berwarna hijau laut. "Bagus kan, Ma?” Mama mengangguk-angguk. Aku merayap mundur memasuki cangkang hijau itu. Tapi... Uuhh... rumah ini terlalu luas buatku. Tidak cocok. "Kalau yang ini, bagaimana?" Mama berhenti di cangkang kosong berwarna biru. "Mirip seperti rumah baru Tepo." Aku tersenyum. Rumah itu memang bagus sekali. Mirip sekali dengan rumah Tepo! Aku pun segera merayap mendekati rumah itu. Tapi... "Halo, siapa kamu!” sapa seekor umang-umang dari dalam rumah itu. Wah, ternyata rumah itu sudah berpenghuni! "Rumah yang bagus sudah pasti ada penghuninya...." Aku jadi sedih. "Tidak apa-apa, Riri. Kita cari lagi yang lain,” Mama menghiburku. Tak jauh dari sana, aku melihat cangkakng berwarna cokelat. Cukup keren. Aku merayap masuk ke dalamnya. Tapi... Brrr... Akku menggigil! Dingin sekali di dalam! “Rumah ini juga ada iubangnya. Lubangnya malah lebih besar,” kata Mana. Aku sangat sedih sampai ingin menangis. “Pelan-pelan saja. Nanti juga pasti ada rumah yang cocok untuk kamu,”'Mama menghibur. Kami kembali berjalan dan melihat sebuah rumah kosong lagi. Kelihatannya nyaman. Aku mencoba merayap masuk. Aaah benar-benar nyaman. Rumah itu tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin. Pas sekali untukku "Aku sudah menemukan rumah baru!" seruku girang. “Yang ini?" tanya Mama. Aku mengangguk. "Yakin yang ini? Lagi-Iagi aku mengangguk. Tiba-tiba Mama tertawa. “Ini kan rumahmu yang dulu..." katanya. Aku memeriksa rumah baru itu. Warnanya Kuning dengan bulatan-bu\atan kecil dan... ada sebuah lubang kecil di atasnya. Wah, benar! Ternyata ini memang rumahku yang lama! Aku Ialu masuk kembali ke dalam rumah baru, eh... rumahku yang lama. Ternyata, rumah lamaku memang yang paling nyaman. (Diambil dari halaman 53-71)

by Irena Tjiunata detail
short story

Bo & Kawan-kawan di Peternakan Kakek Ars

Lomba Lari Musim Panas   Musim panas sudah tiba! Ada satu hal yang ditunggu-tunggu semua anak di Peternakan Kakek Ars bila musim panas tiba. Apa itu? Lomba lari! Ya, setiap tahun Kakek Ars mengadakan lomba lari untuk menyambut musim panas. Vicky Kelinci ingin jadi juara dalam lomba lari, maka dia pun berlatih keras. Huh! Hah! Vicky terengah-engah. Namun, dia tidak berhenti. Dia terus berlari, bahkan lebih cepat. Tidak jauh darinya tampaklah Bo. Sapi kecil ini ikut berlari mendampingi Vicky. Bo membawa sebuah stopwatch untuk mengetahui berapa menit kecepatan lari Vicky. “Sedikit lagi, Vicky! Sedikit lagi!” teriak Bo menyemangati. Akhirnya, Vicky samapi juga di garis finis. “Hebat, VIcky! Waktumu lebih pendek daripada latihan terakhir,” seru Bo sambil bertepuk tangan. “Ya, aku ingin jadi juara di lomba lari nanti,” kata Vicky sambil terengah-engah. Akhirnya, hari pertandingan pun tiba. Peternakan Kakek Ars menjadi meriah oleh anak-anak yang akan ikut lomba. Semua peserta sudah bersiap-siap. Ketika peluit ditiup, semuanya melesat seperti anak panah, termasuk Vicky. Dia berlari sekencang-kencangnya. Di putaran kedua, Vicky memimpin! Dia berada di depan! Sekarang para pesertasudah memasuki putaran terakhir, yaitu putaran ketiga. Vicky masih berada di urutan paling depan. Sedikt lagi dia akan mencapai garis finis. Tiba-tiba, Vicky merasa seseorang mulai mendekatinya. Tanpa melihat, Vicky terus memacu dirinya. Garis finis sudah di depan mata. Pesaing di sebelahnya tambah mendekat. Sesaat kemudian dia mendengar teriakan penonton, yang menandakan para peserta sudah mencapai garis finis. Dia tidak tahu siapa pemenangnya. Dia berharap, dialah yang menjadi pemenangnya. Sesaat kemudian, terdengar suara Kakek Ars dari pengeras suara. “Pemenang untuk lomba lari adalah...” Vicky terdiam. Dia memejamkan matanya. “Karel Kuda!” OH! Vicky terenyak. Dia tak dapat memercayai pendengarannya. Dia kalah! Vicky terduduk lemas. Didengarnya pengumuman yang mengatakan bahwa selisih waktu antara Karel dan dirinya tipis sekali! Vicky melihat semua orang menyalami Karel. Banyak juga yang datang menyalami dirinya. Tetapi, sesungguhnya Vicky kecewa. Dia mengharapkan gelar juara pertama. “Vicky, selamat, ya!” Bo menghampiri sambil mengulurkan tangannya. Vicky hanya mengangkat bahunya. “Mungkin aku memang tidak cocok jadi pelari, Bo. Aku sudah berusaha keras, tapi gagal juga...” “Vicky, kamu kan masih punya banyak kesempatan,” kata Bo sambil menepuk-nepuk bahu Vicky. “Lagi pula, juara dua kan juga hebat!” “Ah! Juara dua atau tiga, itu sih bukan meneng! Aku ingin jadi juara satu!” Vicky berusaha bangkit. Namun, betapa terkejutnya dia karena tiba-tiba badannya didorong oleh Bo! “Bo! Apa-apaan, sih!” Vicky berusaha berdiri, tapi sekali lagi badannya didorong. Wajah Vicky memerah. Mata cokelatnya melebar! Vicky mengacungkan tinjunya pada Bo. “Eh, kenapa marah? Kan kamu sendiri yang ingin duduk di tanah terus?” “Kapan aku bilang ingin duduk di tanah terus?!” Bo berkacak pinggang sambil tersenyum. “Dari sikapmu. Menurutmu, kalau lomba itu harus selalu juara satu dan kalau kalah harus berhenti. Itu kan sama saja dengan kamu sekarang ini: kalau terjatuh, ya tidak usah bangun lagi. Duduk saja terus di tanah!” Vicky sudah hendak membalas. Tetapi, kemudian dia terdiam. Sepertinya perkataan Bo benar juga. “Bukan hanya kemenangan, lho, yang membuat kita hebat. Kalau kita mau berusaha lagi setelah kekalahan, itu baru lebih hebat!” Vicky mengangkat bahunya. Perlahan-lahan terbentuk senyum dari bibirnya. Dia tahu, Bo berkata benar. “Tarik aku, Bo. Kali ini aku benar-benar mau bangkit!” Bo mengulurkan tangannya. Lalu... Vicky menarik Bo kuat-kuat sehingga sai kecil itu terjatuh! Kedua sahabat itu pun bergelut sambil tertawa-tawa. (Diambil dari halaman 39-56)

by AGNES BEMOE detail
short story

Buku Cerita Paling Jorok

Bisul Rame-rame   Hari ini si kembar Rangga dan Rendra berlibur ke rumah paman dan bibinya di desa. “Aaaah! Aku sudah lama menunggu kalian!” sapa Rio, sepupu mereka. “Mana yang Rangga, mana yang Rendra?” kata Paman yang selalu bingung membedakan si kembar. Rangga dan Rendra hanya menyeringai. Berlibur di desa memang menyenangkan. Mereka bisa melakukan apa saja, di antaranya, melihat sawah hijau membentang, mencari kecebong dan belut, memancing ikan, bahkan menyantap jagung bakar di ladang. Namun, dari semuanya yang paling disukai adalah bermain di sungai! Byur! “Wuhuuuuu! Hahahaal” Rendra tergelak. Air terciprat ke mana-mana. Tiba-tiba... “Ughhhhl Sakit perut nih! Sepertinya aku mau buang air besar!” kata Rangga mengernyit. “Pup di sini saja!” kata Rio. “Hah! Yang bener!” kata Rangga. Rendra juga tampak terbelalak. “Tuh, lihat di bawah sana! Banyak kok yang pup di sungai Rasanya dingin-dingin asyik!” kata Rio terkikik. “Ssst, meski ayahku sudah membuat WC di rumah, aku tetap suka pup di sungai. Lebih seru dan enak rasanya,” tambahnya. Mula-mula Rendra ragu. Namun karena penasaran, sekaligus tak tahan dengan perutnya yang melilit, dia pun akhirnya melakukannya. Blukuthuk! Blukuthuk! “Ih! Jorok! Kamu kentut di air, ya!” Rangga mendengus. Rendra masih berjongkok di sungai. “Waaaaah! Kotorannya hanyuut!” teriaknya kegirangan. “Hiyaaah! Joroook!” Rangga berlari menjauh. Rio terbahak melihatnya. Hari demi hari berlalu. Tak hanya Rendra yang ketagihan pup di sungai. Rangga pun mulai ikut-ikutan. “Kamu benar! Pup di sungai memang asyik. Bisa sambll maain air! Hihihi!” Mereka pun melakukannya setiap hari. Suatu hari, terjadi kehebohan di rumah Paman. “Aduuuh! Pantatku! Huaaa! Sakiiit!” teriak Rendra. Di saat yang bersamaan, Rio dan Rangga juga mengerang kesakitan. Rupanya, pantat mereka bisulan! “Ayah sudah membuatkan WC di rumah. Itu lebih bersih. Air di sungai itu kotor. Kadang beberapa warga memandikan hewan ternak di sana.” Rendra dan Rangga menyesal bukan main, “Sekarang kalian istirahat saja di rumah, ya. Bibi akan buatkan ramuan untuk meredakan radang bisul kalian. Tak sampai setengah jam bibi ke dapur, sudah ada teriakan lagi. “Waaaaaaaaaaaa! Huhuhuhuhu! Bisulku pecaaaaah! Waaa!" Rangga berteriak kesakitan. Lelahan nanah bercampur darah pun terlihat begitu menjijikkan. Rio dan Rendra bergidik melihatnya. Mereka tetap menelungkup di tempat tidur dan menjaga agar bisul mereka tak pecah seperti Rangga. Bibi pun membersihkan bisul Rangga yang pecah dengan hati-hati. “Waaaa! Waaa! Pelan-pelan Biiiiiiii! Sakiiiiiiiiiit!” “Iya! Iya! Bibi ini sudah pelan-pelan, lho! Kalau sudah pecah begini, biasanya cepet kering dan sembuh,” hibur Bibi. Sejak saat itu, Rio, Rendra, dan Rangga tak pernah lagi pup di sungai. Mereka memang masih bermain di sungai. Tapi begitu selesai, cepat-cepat mereka mandi dan membilas sekujur tubuh dengan sabun dan air bersih di rumah. Mereka jugamelihat sendiri. Di sungai banyak hewan ternak yang berendam atau mandi. Kadang, air irigasi dari sawah yang sudah tercemar pestisida dan pupuk juga mengalir ke sungai. Wah! Pantes bisa kena penyakit kulit, ya! (Diambil dari halaman 61-71)

by Watik Ideo & Fitria Kurniawan detail
short story

20 Cerita Saat Situasi Darurat: Jangan Panik!

Duh! Aku Mimisan! Hari ini libur. Semua bergembira. Anak-anak sedang bermain di taman kota. Suasana meriah sekali. Elden, leslie, Lyra, Frazer, Gwen, Ivor, dan Madden, anjing kesayangan Gwen juga sedang bermain di sana. Elden, Lyra, dan Ivor sedang bertanding adu cepat di seluncuran. Lesli, Gwen, dan Frazer bermain lempar frisbee. “Ayo Gwen, lempar lebih keras lagi!” seru leslie menyemangati Gwen....

by Watiek Ideo & Fitri Kurniawan detail
short story

52 Dongeng di Hari Selasa

Negeri Mimpi Pada suatu hari, di sudut taman, Pauline melihat seekor burung pipit terperangkap jebakan. Pauline mendekati burung itu dan membebaskannya. Tiba-tiba burung pipit itu berubah menjadi peri dan berkata pada Pauline, “Berkat kebaikan hatimu, kau membebaskanku dari mantra seorang penyihir. Buatlah satu permintaan, an aku akan mengabulkannya.” “Aku ingin aku tak perlu tidur lagi.” “Terkabul,” jawab sang peri dengan senyum misterius. Dia menggerakkan tongkatnya, dan hujan bintang jatuh ke rumput. Malam tiba, Pauline merasa sangat bertenaga. Dia bermain lama sekali dan akhirnya bosan. Ternyata tidak menyenangkan untuk bangun sendirian di malam hari dan harus menjaga ketenangan! Saat itu, muncullah kurcaci kecil yang berkilauan seperti kunang-kunang. Dia berputar mengelilingi Pauline, “Kami adalah kurcaci malam. Maukah kau mengunjungi kami?” Pauline menerima dengan senang hati. Dua puluh kurcai menempel pada bajunya, lalu menerbangkannya ke langit. Tak lama kemudia, dia tiba di sebuah dunia ajaib yang luar biasa. Dia berenang seperti lumba-lumba di laut yang berkilauan, terbang seperti elang di udara. Di dunia yang fantastis ini, dia bisa melakukan apa pun, kapan pun!” Sayangnya, para kurcaci tiba-tiba datang mengganggu permainannya. “Di atas bumi, matahari telah terbit. Kami harus mengembalikanmu ke rumahmu. Kami adalah kurcaci malam dan tidak berkuasa di siang hari.” Pauline sangat sedih meninggalkan dunia yang indah ini. Tapi para kurcaci segera menghiburnya, “Kau bisa kembali ke sini saat malam tiba. Wilayah kekuasaan kami adalah mimpi, kau hanya cukup tertidur untuk mencapainya.” Dengan kalimat ini, gadis kecil itu kembali kek kamarnya. Seisi rumah masih tidur. Pauline berpikir mengenai petualangannya dan menarik napas panjang. Karena keinginannya sendiri, dia tak akan pernah kembali ke negeri mimpi! Tapi baru saja dia menyesali keinginannya, peri yang menyelamatkannya kemarin muncul di hadapannya dan berkata, “Maafkan kunjungan mendadakku ini. Aku memutuskan untuk mengunjungimu di ujung malam tanpa tidurmu karena aku yakin keinginanmu pasti membuatmu kecewa. Kurcaci-kurcaci itu adalah teman-temanku. Aku tahu keajaiban yang mereka tunjukkan padamu! Aku akan mengubah mantraku. Setiap malam kau akan tertidur secepat kilat, agar bisa segera sampai di negeri mimpi.” Pauline tersenyum. Peri itu menggerakkan tongkatnya, dan hujan bintang kembali jatuh di halaman. (Diambil dari halaman 73-75)

by Fleurus detail
short story

Cerita Unik Binatang

Si Ekor Buntung “Hei, mau ke mana kau?! Akan kukejar kau ke mana pun juga!” teriak Moli si kucing dengan cemas. Olala, rupanya Moli sedang mengejar seekor cecak. Cuki si cecak berlari dengan kencang. Ups, hampir saja dia menabrak kursi di rumah Dito. Untuglah cuki berhasil meliukkan tubuhnya. Dia berlari lagi secepat kilat. Moli semakin geregetan. Dia pun berlari lebih cepat lagi. Cuki sem[at menengok ke belakang. Jantungnya dag-dig-dug karena musuh semakin dekat. Cepat-cepat Cuki melompat dan menempelkan kaki-kakinya di kaki meja makan. Kini dia merayap naik ke atas meja. Tapi... Oh, Moli sudah lebih dulu melompat ke atas meja! “Hahah... Mau lari ke mana, hewan kecil?” kata Moli sambil menjulurkan lidahnya. “Aaaaa!” Cuki berteriak ketakutan. Dia segera berbalik dan turun melalui kaki meja. “Wah, ke mana dia?” Moli mendengus-dengus. Cuki terengah-engah. Dia bersembunyi di balik kaki meja. Tubuhnya yang mungil menempel dan merapat di kaki meja. “Miaawww!!!” Moli kucng berteriak. Suaranya menggelegar. Cuki Cecak terkejut bukan main. Tanpa sadar, pegangannya terlepas dari kaki meja. Pluk. Cuki terjatuh. Dia mencoba bergerak perlahan, menggunakan sisa tenaga yang ada. Moli mendengus-dengus. Dia mencium bau tubuh cecak. “Aha, kau ada di deaktku rupanya. Mau sembunyi di mana lagi kau?” Moli tersenyum sambil menjulur-julurkan lidahnya, siap memangsa Cuki. Mata Moli melotot. Dia melihat Cuki sedang mencoba berlari. Moli langsung mengejarnya, dan... HAP! Olala, Cuki tertangkap! Kaki Moli berhasil menangkap ekor Cuki. “Hahaha, tertangkap kau sekarang!” kata Moli senang. Cuki melepaskan diri dengan sekuat tenaga, tapi tidak berhasil. Akhirnya, Cuki menggunakan cara terakhir. Dia memutuskan ekornya. Begitu ekor terlepas, Cuki berlari sekencang-kencangnya. “Hah? Tinggal ekornya saja! Dan ekor ini bergerak-gerak! Hiiii...” Moli melepaskan ekor itu. Dia bergidik. “Iiih, hewan aneh. Kabur saja, deh!” Akhirnya Moli pergi, sementara Cuki merayap di dinding perlahan-lahan. Lalu, di beristirahat di langit-langit rumah Dito. Dia agak sedih  melihat ekornya buntung. “Tak mengapa. Nanti ekorku akan tumbuh kembali. Lebih baik aku pulang saja dan menceritakan pengalaman ini pada Ibu.” (Diambil dari halaman 17-19)

by Nagiga detail
short story

Cerita Seru Hewan Bawah Tanah

Istana Rayap yang Tak Pernah Selesai Kerajaan rayap selalu sibuk setiap hari. Para prajurit mendapat tugas dari ratu rayap untuk memperluas istana. Lorong-lorong baru pun dibuat, begitu juga kamar-kamar tambahan. Para prajurit sudah mengerti tugas masing-masing. Ada yang mengangkut tanah, mencampurnya dengan lem, dan menempelnya menjadi dinding-dinding yang kokoh. ltulah yang dilakukan oleh Rhett saat itu. Dia sibuk menempelkan adonan tanah ke dinding-dinding. Namun, coba lihat wajahnya! Berkali-kali keningnya berkerut. “Ini tidak cocok! Yang itu juga!” gerutunya. Adonan tanah yang sudah ditempel  di dinding segera dilepaskan lagi.  “Ini terlalu lembek. Yang ini terlalu kasar dan tidak rata!" katanya sambil mengelap peluhnya. “Apa yang kau Iakukan, Rhett? Kenapa kau melepas adonan tanah itu?" ujar Zhen. “Tak kau Iihatkah tadi? Adonan itu masih kurang melekat dengan baik,” gerutu Rhett. “Kurasa tidak,” kata Zhen. “Ah, kau mengolok-olokku, ya? Kau ingin semuanya menertawakan hasil kerjaku, kan?” Rhett berbicara ketus. “Lho, itu tidak benar. Aku tidak berpikir seperti itul” teriak Zhen sedikit tersinggung. Dia pun memutuskan untuk rneninggalkan Rhett. Pada waktu itu, para rayap prajurit masih saja sibuk. Rhett juga masih berkutat dengan adonan tanahnya. Beberapa hari kemudian, semua bangunan sudah selesai. Ratu pun meminta para prajurit untuk beristirahat. Tiba-tiba, hujan turun dengan lebat Untungnya seluruh bangunan sudah melekat kuat. Hujan dan badai pun tak bisa merusaknya. Tetapi, oh tidak! Air hujan mengalir ke dalam istana! “Bagaimana mungkin ini terjadi?” kata sang kepala prajurit. Mereka pun memeriksa seluruh bangunan. Kemudian mereka melihat Rhett sedang beusaha mencegah air masuk. “Apa yang terjadi, Rhett?” teriak sang kepala prajurit. “Apa kau masih belum menyelesaikan pekerjaanmu?” tanya Zhen. Wajah Rhett pucat pasi. Dia diam saja. Segera sang kepala prajurit rnemerintahkan para prajurit untuk menambal  dinding-dinding itu. Untunglah, akhirnya air berhenti rnengalir ke dalam istana. Semuanya kini tenang kembali. “Maafkan aku, ya. Seharusnya aku bisa menyelesaikan pekerjaanku sama seperti kalian,” ucapnya terbata-bata. “Oh Rhett, aku sudah mengingatkanmu. Tapi kau malah marah-marah padaku,” ujar Zhen. “Iya, aku hanya ingin terlihat sempurna,” jawab Rhett sambil menunduk. “Kami semua memaafkanmu, Rhett. Sekarang sudah aman. Lebih baik kita semua beristirahat,” kata Ratu. Mereka pun menuju kamar masing-masing dengan lega. (Diambil dari halaman 13-24)

by WATIEK IDEO DAN FITRI KURNIAWAN detail
close

Main menu