Short Story

We believe that the short story matters.

Welcome to short story section. the short story is one of the most exciting and important literary forms, and that it can, and should, reach the widest possible readership.

short story

50 Dongeng Negeri Timur

Kucing Liar yang Berubah (Dongeng dari Jepang) "Kebaikan hati akan menular pada orang di sekitar kita." "Hiii, kucing jelek!" seru anak perempuan. Temannya ikut mencibir, "Hus! Sana kucing kotor!" Dungaree sedih mendengar ejekan dari anak-anak itu. Dungaree memanglah kucing liar. Dulu, dia dibuang di parkiran. Hingga dewasa, tak ada yang seorang pun yang mau memelihara Dungaree. Karena tak pernah ada...

by Tethy E & Dian K detail
short story

Rahasia Ratu Peri

Peri Pelupa Kristabel sedang sedih. Lagi-lagi, dia dimarahi Ratu karena membuat kesalahan. Kemarin dia ditugaskan mengumpulkan anak-anak ikan yang baru menetas untuk dihitung. Namun, bukannya mengucapkan mantra pemanggil, dia justru mengucapkan mantra penumbuh sayap. Alhasil, anak-anak ikan itu mempunyai sayap dan terbang. Sebagian terjatuh di rumput, dan sebagian di atas pohon. Para induk ikan panik melihat anak-anaknya beterbangan. Terjadilah kekacauan dan kepanikan di sekitar laut peri. Ratu peri pun mengetahui kejadian ini. Ratu menjadi marah, “Bagaimana kalau anak-anak itu terjatuh jauh dari pantai dan tidak terselamatkan? Ikan kan tidak dapat bernapas di darat!” Bukan hanya kali ini Kristabel membuat kekacauan. Dia pernah membuat para penyu kehilangan tempurungnya. Ups... Dia pernah salah menumbuhkan rambut di seluruh badan binatang laut. DIa pernah membuat para kepiting mempunyai banyak sekali capit. Serta, dia mengubah warna hiu menjadi merah mudah bermotif hati! Kristabel bertugas menjaga laut dan pantai peri. Sayangnya, dia selalu membuat kesalahan. Padahal, dia tidak pernah bermaksud seperti itu. Semua terjadi karena dia sangat pelupa, sehingga tidak pernah bisa menghafal mantra dengan benar. Keesokan harinya, Ratu meminta tolong padanya untuk menyelamatkan seekor ubur-ubur yang terjepit di batu karang. Maka, Kristabel langsung menyelam, mencari ubur-ubur itu. “Nah, itu dia! Tenanglah, aku datang untuk menyelamatkanmu. Akan kuucapkan mantra untuk menggeser batu karang ini,” katanya. Kristabel mengucapkan mantra dan... semua tentakel ubur-ubur malah terkepang! Batu karangnya sama sekali tidak bergeser. “Maaf, mantranya salah. Ini yang benar.” Sekali lagi dia mengucapkan mantra dan... tentakel ubur-ubur itu menjadi berpita di mana-mana. Beberapa makhluk laut yang melihat kejadian itu mulai tertawa. Ubur-ubur itu sama sekali tidak senang. Tentakelnya penuh kepang dan berpita. Padahal, dia ubur-ubur jantan! Berkali-kali dia mengucapkan mantranya, tapi tidak ada yang berhasil. Akhirnya, dua paus turun tangan. Mereka menggeser batu karang yang besar itu dan membebaskan ubur-ubur yang terjepit. “Kenapa aku tidak pernah bisa menghafal mantra?” katanya sedih. Kesedihannya dilihat oleh seekor lumba-lumba. Dia menghampiri Kristabel dan bertanya ada apa. Kristabel menceritakan semuanya. “Kenapa tidak kamu bawa saja kitab mantranya ke mana-mana. Jadi kamu tidak usah bersusah payah menghafal semuanya,” kata lumba-lumba mencoba memecahkan masalah si peri. “Tidak mungkin. Kitab mantarnya sangat besar dan tebal. Aku tidak mungkin membawa benda sebesar itu ke mana-mana,” sahut Kristabel murung. Kristabel pulang ke rumah dengan sedih. Kalau dia terus-menerus membuat kekacauan, bisa-bisa dia dihukum keluar dari negeri peri. Ketika sampai rumah, dia menemukan sebuah...

by STELA ERNES detail
short story

50 Dongeng Negeri Timur

Kisah Tiga Ekor Burung (Dongeng dari Kamboja)   “Jangan silau oleh harta benda, karena bisa mengecewakanmu.” Alkisah, ada tiga ekor burung yang ditangkap oleh seorang penburu. Mereka adalah burung hitam, burung merak, dan burung bangau. “Wah, asyik. Ketiganya akan kulatih bernyanyi dan menari. Siapa tahu, Raja tertarik untuk membelinya. Aku bisa kaya!” begitulah rencana si pemburu. Maka, pemburu itu mulai bekerja keras melatih ketiga burung tangkapannya. “Ayo, bernyanyilah,” ujarnya pada burung hitam. “Dan kalian, menarilah yang indah,” pintanya pada burung merak dan burung bangau. Ketiganya terus dilatih, dan akhirnya mereka benar-benar bisa menyanyi dan menari dengan sempurna. Pemburu itu lalu membawa ketiga burungnya ke istana. “Hmm... Memangnya apa keistimewaan mereka? Tanya raja. “Ah, Baginda lihat saja sendiri,” si pemburu melepaskan burung hitam dari kandangnya. Burung hitam merasa tersanjung bisa bertemu Raja. Dia lalu bernyanyi seindah mungkin. “Hebat! Suaranya benar-benar indah. Aku suka,” Raja lalu memerintahkan pengawalnya untuk mengambil burung hitam, dan menaruhnya di sangkar emas. “Apa algi selain menyanyi?” tanya Raja lagi. Burung merak mengepak-kepakkan sayapnya, sehingga raja tertarik padanya. Dengan bangganya, burung merak menunjukkan kemampuannya menari. “Wah, dia juga hebat. Aku mau memeliharanya,” Raja juga memerintahkan pengawalnya untuk menaruh burung merak ke dalam sangkar emas. Sementara itu, burung bangau merasa cemas melihat kedua temannya dimasukkan sangkar emas. Aku tak mau hidup dalam sangkar emas. Sebagus-bagusnya sangkar itu, lebih nyaman tinggal bebas di luar sana dan berkumpul dengan keluargaku, pikirnya sambil terus memutar otak. Raja memandang burung bangau, “Nah, aku mau lihat apa kemampuannya?” Si pemburu menyuruh burung bangau untuk menari. Namun, burung bangau diam saja. “Ayo, menarilah kan kemarin sudah kuajari. Menarilah seperti burung merak tadi,” pinta si pemburu. “Koaaak koaaak!” burung bangau malah berteriak-teriak. Raja menutup telinganya. “Pergi! Enyahkan burung ini dari hadapanku. Bising!” Dengan sigap, para pengawal mengambil burung bangau, dan membawanya ke luar. Burung bangau tersenyum lebar. Dia bisa terbang bebas, dan kembali ke keluarganya. (Diambil dari halaman 173-176)

by Tethy E & Dian K detail
short story

Raksasa Berketombe

Prajurit yang Malas Membersihkan Telinga   Siang itu Matahari bersinar terik. Para prajurit yang sedang berlatih bela diri pun bercucuran keringat. Rawijo, salah satu prajurit yang malas membersihkan telinga, mulai kehausan. Saat kepala pasukan memberi nasihat tentang teknik bertahan, dia malah membayangkan es degan. “PASUKAAAAN! BERSIAGA DI BENTENG!” Indroguna sang pimpinan pasukan memberi aba-aba. Seluruh prajurit berderap naik ke benteng. Namun Rawijo yang pendengarannya terganggu, malah lari ke luar gerbang istana. Indroguna bengong. ‘Mau ke mana prajurit itu?’ pikir Indroguna. Sementara itu, Rawijo terus berlari menuju hutan karena tadi idia mendengar Indroguna menyuruh para prajurit mencari banteng. Rawijo berhasil menemukan banteng. Dia memasang bendera merah di punggungnya, lalu lari ke istana. Banteng hutan itu mengejarnya. Seorang prajurit yang berjaga di gerbang istana kaget melihat banteng liar itu. Karena ketakutan, prajurit itu pun segera bersembunyi di balik patung ikan bersama Rawijo. Banteng itu masuk ke dalam istana dan mengincar Indroguna yang mengenakan seragam serbamerah. “Waduh! Siapa yang membawa banteng kemari? Toloooong!!!” lengking Indroguna. Dia berlari ke arah lapangan untuk menghindari kejaran banteng itu. Beruntung, ada prajurit yang bisa menjinakkan hewan liar. Dia menyuguhkan ubi merah pada si banteng. Aneh. Hewan itu segera diam, dan ketika prajurit menepuk punggungnya, banteng itu pun keluar dari istana. Indroguna terengah-engah kehabisan napas. “Astaga! Kenapa banteng itu bisa masuk?” Para prajurit tak ada yang mengaku. Rawijo tidak mengaku karena dia kurang mendengar kalimat yang ditanyakan Indroguna. Keesokan harinya, latihan bela diri berlanjut. “Kali ini, aku akan mengajari kalian teknik tiarap,” ujar Indroguna serius. Rawijo, seperti biasa, melamun tentang ayam goreng dan sambal. “Kalau aku bilang tiarap, kalian harus merebahkan badan di tanah.” Para prajurit menggut-manggut, kecuali Rawijo. “Sekarang, TIARAAAAAPP!” pekik Indroguna. Lamunan Rawijo buyar, dan lagi-lagi dia salah dengar. Ketika semua prajurit benar-benar tiarap, dia malah tetap berdiri dan mulai berteriak-teriak. “WOOOOI! WOOOOI! LIHAT, AKU BERTERIAAAK! WOOOOI! WOOOOI!” Rawijo tak tahu kalau saat itu sang raja sedang sakit gigi. Mendengar teriakan Rawijo, gigi sang raja terasa semakin nyeri, dan kepalanya bertambah pusing. Sang raja pun mendadak marah besar. “PENGAWAL!” seru sang raja. Seorang pengawal kurus tergopoh-gopoh mendekat. “Panggil orang yang berteriak-teriak itu! Dia membuat penyakitku bertambah parah!” tegas sang raja. Di lapangan, Indroguna sudah ratusan kali menyuruh Rawijo diam, tetapi suaranya kalah dengan teriakan Rawijo. Akhirnya, pengawal yang diutus Raja pun mengangkat tubuh Rawijo ke pundaknya, dan Rawijo berhenti berteriak. Di dalam istana, sang raja segera bertanya kepada Rawijo, “Kenapa kau berteriak-teriak? Tidak tahukah kau kalau aku sedang sakit gigi?” Di luar dugaan, Rawijo malah terkikik. “Maaf, Baginda Raja, saya bukan sapi.” Raja ternganga. Dia tak paham maksud Rawijo. “Apa kau tak mengerti maksudku?” Rawijo justru menggeleng. “Tidak, Baginda. Hamba tidak punya pohon duku.” Sang raja kebingungan. “Kenapa jawabanmu aneh sekali? Apa telingamu bermasalah?” Rawijo tercengang beberapa saat. “Sebentar, Baginda. Biarkan saya berpikir.” Maka, Rawijo pun berpikir. Setelah hampir delapan jam berpikir, barulah Rawijo kembali bicara. “Saya minta maaf, Baginda. Saya tidak bisa makan permen gulali.” Kesabaran sang raja habis. Dia segera bangkit dan memberi perintah, “PENGAWAL! BAWA ORANG INI KE RUMAH TABIB JINGGON!” Begitulah akhirnya. Rawijo dibawa ke rumah tabib Jinggon, dan kotoran yang menyumbat telinganya pun dibersihkan. Kini pendengaran Rawijo kembali jelas. Namun, dia masih malas membersihkan telinga. Sebulan kemudian, Raja benar-benar marah karena Rawijo membawa monyet-monyet liar masuk ke dalam istana. Kalian tahu apa penyebabnya, Anak-anak? Betul. Lagi-lagi Rawijo salah mendengar. (Diambil dari halaman 36-43)

by Widya Rosanti detail
short story

Dongeng Cinta Budaya

Pempek yang Mengejutkan Tak ada makanan yang disukai Aldo selain Burger. Meskipun mamanya melarang, Aldo tetap saja memakannya. Suatu hari, datang sebuah mobil yang berhenti di sebelah rumah Aldo. Rupanya, itu adalah tetangga baru. Mereka terlihat ramah. Ada anak laki-laki seusia Aldo yang turun dari mobil. Keesokan harinya, Aldo dan keluarganya diundang ke rumah tetangga baru itu. Aldo pun mendapat teman baru, namanya Ale. Ale berasal dari Palembang, Sumatra Selatan. Mereka pindah rumah karena ayahnya pindah kerja ke kota. Mama Ale mempersilakan para tamunya menikmati hidangan. Aldo mengamati aneka makanan yang dihidangkan. “Makanan apa itu?” tanya Aldo kepada mamanya. “Itu namanya pempek,” kata mama Aldo. “Apakah rasanya seperti burger?” tanya Aldo penasaran. “Tentu tidak, pempek lebih lezat dan sehat,” jawab mama Ale. Aldo terlihat ragu-ragu untuk mencicipi. Mama Ale dengan cekatan mengambil piring untuk Aldo. “Ini namanya kapal selam. Di dalamnya ada telur ayam.” “Kalau yang bentuknya panjang ini namanya lenjer...” “Dan yang bentuknya seperti bola ini namanya adaan...” “Pempek perlu disiram cuko atau saus,” mama Ale menjelaskan. Dengan perlahan, Aldo mencicipi pempek di piringnya.” “Wow, rasanya lebih lezat daripada burger!” “Pempek juga sangat sehat karena dibuat dari campuran ikan segar,” mama Ale menambahkan. (Diambil dari halaman 49-72)

by Watik Ideo & Fitria Kurniawan detail
short story

52 Dongeng di Hari Senin

Lukisan Sang Raja Pada zaman dulu kala, hiduplah seorang pelukis yang sangat terkenal. Karena begitu terkenalnya, pelukis itu pun diundang sang Raja ke istana. “Kudengar kau memiliki bakat hebat. Lukislah aku!” kata sang Raja. Pelukis itu segera melaksanakan perintah Raja. Setelah selesai dia memperlihatkan kepada sang Raja sebuah lukisan yang hebat dan sangat mirip. Tetapi sang Raja berkata sambil meringis,...

by Fleurus detail
short story

50 Cerita Jenaka

Gajah dan Orang Buta   Syahdan, hiduplah enam orang buta yang setiap hari berdiri di pinggir jalan. Mereka mencari uang dengan cara mengemis pada orang-orang yang lewat. Mereka tahu segala macam pemandangan yang ada di depan mereka karena mendengar pembicaraan orang-orang yang menyusuri jalan tersebut. Namun, tentu saja mereka tidak dapat melihat pemandangan itu karena mereka buta. Pada suatu pagi, seekor gajah dibawa menyusuri jalan tempat mereka berdiri. Ketika mereka mendengar seekor hewan besar berada di hadapan, mereka meminta kepada si pemilik gajah untuk berhenti sejenak agar dapat melihat hewan itu. Tentu saja mereka tidak dapat melihat gajah tersebut menggunakan mata, tetapi mereka pikir dengan memegangnya, dapat diketahui seperti apa rupa gajah itu. Orang pertama memegang bagian samping dari tubuh gajah itu. “Wah, wah!” katanya. “Sekarang aku tahu benar tentang hewan ini. Benar-benar seperti dinding!” Orang kedua hanya memegang bagian gading. “Saudaraku,” katanya, “engkau salah. Dia tidak seperti dinding. Bentuknya bundar dan halus serta tajam. Dia lebih mirip tombak, dan bukan yang lainnya.” Orang ketiga memegang bagian belalai. “Kalian berdua salah,” katanya. “Orang yang pandai tentu tahu bahwa gajah ini lebih mirip seekor ular.” Orang keempat mengulurkan lengannya dan meraih salah satu kaki dari gajah tersebut. “Oh, betapa butanya kalian!” katanya. “Jelas-jelas bentuknya bundar dan tinggi seperti pohon.” Orang kelima berkesempatan memegang bagian telinga. “Orang paling buta seharusnya tahu bahwa hewan ini tidak seperti hewan-hewan lainnya,” katanya. “Tubuhnya seperti sebuah kipas besar.” “Orang keenam sesungguhnya adalah orang yang paling tidak bisa melihat. Dia perlu waktu cukup lama untuk dapat menemukan gajah itu. Akhirnya, dia berhasil meraih bagian ekornya. “Orang-orang bodoh!” teriaknya. “Kalian pasti kehilangan akal. Gajah ini tidak seperti dinding, atau tombak, atau ular, atau pohon, juga tidak seperti kipas. Setiap orang yang berakal pasti dapat melihat bahwa tubuhnya sama persis dengan seutas tali.” Kemudian gajah itu kembali berjalan, sedangkan keenam orang buta tersebut duduk di pinggir jalan sepanjang hari sambil bertengkar. Masing-masing meyakini bahwa dialah yang paling tahu bagaimana tepatnya sosok gajah itu, mereka saling memaki karena tidak setuju satu sama lain. Orang-orang yang penglihatannya baik pun terkadang bertindak sama bodohnya seperti mereka. (Cerita oleh James Baldwin, diambil dari halaman 311-315)

by VIC PARKER detail
short story

30 Cerita Ulang Tahun

Di bagian bawah sebuah rumah kecil yang indah, Ayah dan Ibu Tikus berdiri bersama ketiga anak kembar mereka. Masing-masing membawa tas punggung. Ternyata hari itu anak-anak tikus tersebut baru saja merayakan hari ulang tahun mereka. Ketiga anak tikus itu baru saja berusia dua tahun, yaitu usia bagi seekor tikus untuk meninggalkan tempat kediamannya dan pergi menjalani kehidupan mereka sendiri. “Selamat...

by Catherine Mory detail
short story

20 Kebiasaan Baik: Cerita Etiket Sehari-hari

Hari ini, Mama mengajak Flo berbelanja ke supermarket. “Mama mau beli buah dulu ya,” ujar Mama. Sambil menunggu, Flo tertarik saat melihat sebuah keranjang dorong. “Aha!” Dan tak lama kemudian, terdengar teriakan, “Wuhuuu!” “Yuhuuu! Hahaha! Mamaaa! Aku dataaaang! Wusssh! Tiba-tiba... Brak! Krompyang! Krompyang! Nah, bermain-main dengan keranjang dorong itu memang asyik, tapi itu berbahaya dan bisa membuat celaka! Jadi, jangan...

by Watiek Ideo detail
short story

10 Dongeng Anak Pemberani

Pada Jumat malam. Alice menginap di rumah Pierre. Tiba-tiba Pierre berkata, “Aku punya cerita menyeramkan yang harus kau dengar!” Alice menatapnya, sambil mengulum sebatang permen loli di dalam mulutnya. “Hari Jumat lalu, seorang laki-laki muncul di rumah tetangga baruku...” Pierre mulai bercerita. “Lalu, apanya yang menyeramkan?” “Pertama, aku mendengar bunyi-bunyi aneh, lalu pada malam hari, aku melihatnya.” “Dia memindahkan mayat...

by Fleurus detail
short story

100 Cerita Rakyat Nusantara

Inilah 100 kisah abadi di beragam kota tanah air. Kisah romantis tentang cinta sejati, kisah tragis dalam keluarga, dan beragam kisah seru menghadapi raksasa. Setiap kisah mengajarkan pada anak untuk berani berjuang, cerdik menghadapi masalah, dan selalu jujur kepada siapa pun. Mari menjelajahi Indonesia lewat 100 cerita nusantara! Buku ini adalah buku ketiga cerita nusantara yang ditulis oleh Dian Kristiani....

by DIAN K detail
short story

Kumpulan Dongeng 4 Musim

    Lemari Pendingin Pierre Milou     Pierre Milou si koki istana sedang bingung. Dia teringat musim dingin tahun lalu saat badai salju melanda Kerajaan La Roche. Berminggu-minggu wilayah kerajaan terkepung tumpukan salju. Tak seorang pun bisa keluar masuk wilayah kerajaan. Akibatnya, Kerajaan La Roche mengalami kesulitan pangan. Persediaan makanan menipis. Untung saja sebelum jatuh korban jiwa, badai salju berlalu. Kerajaan La Roche...

by ERNITA DIETJERIA detail
close

Main menu