Short Story

We believe that the short story matters.

Welcome to short story section. the short story is one of the most exciting and important literary forms, and that it can, and should, reach the widest possible readership.

short story

Raksasa Berketombe

Prajurit yang Malas Membersihkan Telinga   Siang itu Matahari bersinar terik. Para prajurit yang sedang berlatih bela diri pun bercucuran keringat. Rawijo, salah satu prajurit yang malas membersihkan telinga, mulai kehausan. Saat kepala pasukan memberi nasihat tentang teknik bertahan, dia malah membayangkan es degan. “PASUKAAAAN! BERSIAGA DI BENTENG!” Indroguna sang pimpinan pasukan memberi aba-aba. Seluruh prajurit berderap naik ke benteng. Namun Rawijo yang pendengarannya terganggu, malah lari ke luar gerbang istana. Indroguna bengong. ‘Mau ke mana prajurit itu?’ pikir Indroguna. Sementara itu, Rawijo terus berlari menuju hutan karena tadi idia mendengar Indroguna menyuruh para prajurit mencari banteng. Rawijo berhasil menemukan banteng. Dia memasang bendera merah di punggungnya, lalu lari ke istana. Banteng hutan itu mengejarnya. Seorang prajurit yang berjaga di gerbang istana kaget melihat banteng liar itu. Karena ketakutan, prajurit itu pun segera bersembunyi di balik patung ikan bersama Rawijo. Banteng itu masuk ke dalam istana dan mengincar Indroguna yang mengenakan seragam serbamerah. “Waduh! Siapa yang membawa banteng kemari? Toloooong!!!” lengking Indroguna. Dia berlari ke arah lapangan untuk menghindari kejaran banteng itu. Beruntung, ada prajurit yang bisa menjinakkan hewan liar. Dia menyuguhkan ubi merah pada si banteng. Aneh. Hewan itu segera diam, dan ketika prajurit menepuk punggungnya, banteng itu pun keluar dari istana. Indroguna terengah-engah kehabisan napas. “Astaga! Kenapa banteng itu bisa masuk?” Para prajurit tak ada yang mengaku. Rawijo tidak mengaku karena dia kurang mendengar kalimat yang ditanyakan Indroguna. Keesokan harinya, latihan bela diri berlanjut. “Kali ini, aku akan mengajari kalian teknik tiarap,” ujar Indroguna serius. Rawijo, seperti biasa, melamun tentang ayam goreng dan sambal. “Kalau aku bilang tiarap, kalian harus merebahkan badan di tanah.” Para prajurit menggut-manggut, kecuali Rawijo. “Sekarang, TIARAAAAAPP!” pekik Indroguna. Lamunan Rawijo buyar, dan lagi-lagi dia salah dengar. Ketika semua prajurit benar-benar tiarap, dia malah tetap berdiri dan mulai berteriak-teriak. “WOOOOI! WOOOOI! LIHAT, AKU BERTERIAAAK! WOOOOI! WOOOOI!” Rawijo tak tahu kalau saat itu sang raja sedang sakit gigi. Mendengar teriakan Rawijo, gigi sang raja terasa semakin nyeri, dan kepalanya bertambah pusing. Sang raja pun mendadak marah besar. “PENGAWAL!” seru sang raja. Seorang pengawal kurus tergopoh-gopoh mendekat. “Panggil orang yang berteriak-teriak itu! Dia membuat penyakitku bertambah parah!” tegas sang raja. Di lapangan, Indroguna sudah ratusan kali menyuruh Rawijo diam, tetapi suaranya kalah dengan teriakan Rawijo. Akhirnya, pengawal yang diutus Raja pun mengangkat tubuh Rawijo ke pundaknya, dan Rawijo berhenti berteriak. Di dalam istana, sang raja segera bertanya kepada Rawijo, “Kenapa kau berteriak-teriak? Tidak tahukah kau kalau aku sedang sakit gigi?” Di luar dugaan, Rawijo malah terkikik. “Maaf, Baginda Raja, saya bukan sapi.” Raja ternganga. Dia tak paham maksud Rawijo. “Apa kau tak mengerti maksudku?” Rawijo justru menggeleng. “Tidak, Baginda. Hamba tidak punya pohon duku.” Sang raja kebingungan. “Kenapa jawabanmu aneh sekali? Apa telingamu bermasalah?” Rawijo tercengang beberapa saat. “Sebentar, Baginda. Biarkan saya berpikir.” Maka, Rawijo pun berpikir. Setelah hampir delapan jam berpikir, barulah Rawijo kembali bicara. “Saya minta maaf, Baginda. Saya tidak bisa makan permen gulali.” Kesabaran sang raja habis. Dia segera bangkit dan memberi perintah, “PENGAWAL! BAWA ORANG INI KE RUMAH TABIB JINGGON!” Begitulah akhirnya. Rawijo dibawa ke rumah tabib Jinggon, dan kotoran yang menyumbat telinganya pun dibersihkan. Kini pendengaran Rawijo kembali jelas. Namun, dia masih malas membersihkan telinga. Sebulan kemudian, Raja benar-benar marah karena Rawijo membawa monyet-monyet liar masuk ke dalam istana. Kalian tahu apa penyebabnya, Anak-anak? Betul. Lagi-lagi Rawijo salah mendengar. (Diambil dari halaman 36-43)

by Widya Rosanti detail
short story

Dongeng Cinta Budaya

Pempek yang Mengejutkan Tak ada makanan yang disukai Aldo selain Burger. Meskipun mamanya melarang, Aldo tetap saja memakannya. Suatu hari, datang sebuah mobil yang berhenti di sebelah rumah Aldo. Rupanya, itu adalah tetangga baru. Mereka terlihat ramah. Ada anak laki-laki seusia Aldo yang turun dari mobil. Keesokan harinya, Aldo dan keluarganya diundang ke rumah tetangga baru itu. Aldo pun mendapat teman baru, namanya Ale. Ale berasal dari Palembang, Sumatra Selatan. Mereka pindah rumah karena ayahnya pindah kerja ke kota. Mama Ale mempersilakan para tamunya menikmati hidangan. Aldo mengamati aneka makanan yang dihidangkan. “Makanan apa itu?” tanya Aldo kepada mamanya. “Itu namanya pempek,” kata mama Aldo. “Apakah rasanya seperti burger?” tanya Aldo penasaran. “Tentu tidak, pempek lebih lezat dan sehat,” jawab mama Ale. Aldo terlihat ragu-ragu untuk mencicipi. Mama Ale dengan cekatan mengambil piring untuk Aldo. “Ini namanya kapal selam. Di dalamnya ada telur ayam.” “Kalau yang bentuknya panjang ini namanya lenjer...” “Dan yang bentuknya seperti bola ini namanya adaan...” “Pempek perlu disiram cuko atau saus,” mama Ale menjelaskan. Dengan perlahan, Aldo mencicipi pempek di piringnya.” “Wow, rasanya lebih lezat daripada burger!” “Pempek juga sangat sehat karena dibuat dari campuran ikan segar,” mama Ale menambahkan. (Diambil dari halaman 49-72)

by Watik Ideo & Fitria Kurniawan detail
short story

52 Dongeng di Hari Senin

Lukisan Sang Raja Pada zaman dulu kala, hiduplah seorang pelukis yang sangat terkenal. Karena begitu terkenalnya, pelukis itu pun diundang sang Raja ke istana. “Kudengar kau memiliki bakat hebat. Lukislah aku!” kata sang Raja. Pelukis itu segera melaksanakan perintah Raja. Setelah selesai dia memperlihatkan kepada sang Raja sebuah lukisan yang hebat dan sangat mirip. Tetapi sang Raja berkata sambil meringis,...

by Fleurus detail
short story

50 Cerita Jenaka

Gajah dan Orang Buta   Syahdan, hiduplah enam orang buta yang setiap hari berdiri di pinggir jalan. Mereka mencari uang dengan cara mengemis pada orang-orang yang lewat. Mereka tahu segala macam pemandangan yang ada di depan mereka karena mendengar pembicaraan orang-orang yang menyusuri jalan tersebut. Namun, tentu saja mereka tidak dapat melihat pemandangan itu karena mereka buta. Pada suatu pagi, seekor gajah dibawa menyusuri jalan tempat mereka berdiri. Ketika mereka mendengar seekor hewan besar berada di hadapan, mereka meminta kepada si pemilik gajah untuk berhenti sejenak agar dapat melihat hewan itu. Tentu saja mereka tidak dapat melihat gajah tersebut menggunakan mata, tetapi mereka pikir dengan memegangnya, dapat diketahui seperti apa rupa gajah itu. Orang pertama memegang bagian samping dari tubuh gajah itu. “Wah, wah!” katanya. “Sekarang aku tahu benar tentang hewan ini. Benar-benar seperti dinding!” Orang kedua hanya memegang bagian gading. “Saudaraku,” katanya, “engkau salah. Dia tidak seperti dinding. Bentuknya bundar dan halus serta tajam. Dia lebih mirip tombak, dan bukan yang lainnya.” Orang ketiga memegang bagian belalai. “Kalian berdua salah,” katanya. “Orang yang pandai tentu tahu bahwa gajah ini lebih mirip seekor ular.” Orang keempat mengulurkan lengannya dan meraih salah satu kaki dari gajah tersebut. “Oh, betapa butanya kalian!” katanya. “Jelas-jelas bentuknya bundar dan tinggi seperti pohon.” Orang kelima berkesempatan memegang bagian telinga. “Orang paling buta seharusnya tahu bahwa hewan ini tidak seperti hewan-hewan lainnya,” katanya. “Tubuhnya seperti sebuah kipas besar.” “Orang keenam sesungguhnya adalah orang yang paling tidak bisa melihat. Dia perlu waktu cukup lama untuk dapat menemukan gajah itu. Akhirnya, dia berhasil meraih bagian ekornya. “Orang-orang bodoh!” teriaknya. “Kalian pasti kehilangan akal. Gajah ini tidak seperti dinding, atau tombak, atau ular, atau pohon, juga tidak seperti kipas. Setiap orang yang berakal pasti dapat melihat bahwa tubuhnya sama persis dengan seutas tali.” Kemudian gajah itu kembali berjalan, sedangkan keenam orang buta tersebut duduk di pinggir jalan sepanjang hari sambil bertengkar. Masing-masing meyakini bahwa dialah yang paling tahu bagaimana tepatnya sosok gajah itu, mereka saling memaki karena tidak setuju satu sama lain. Orang-orang yang penglihatannya baik pun terkadang bertindak sama bodohnya seperti mereka. (Cerita oleh James Baldwin, diambil dari halaman 311-315)

by VIC PARKER detail
short story

30 Cerita Ulang Tahun

Di bagian bawah sebuah rumah kecil yang indah, Ayah dan Ibu Tikus berdiri bersama ketiga anak kembar mereka. Masing-masing membawa tas punggung. Ternyata hari itu anak-anak tikus tersebut baru saja merayakan hari ulang tahun mereka. Ketiga anak tikus itu baru saja berusia dua tahun, yaitu usia bagi seekor tikus untuk meninggalkan tempat kediamannya dan pergi menjalani kehidupan mereka sendiri. “Selamat...

by Catherine Mory detail
short story

20 Kebiasaan Baik: Cerita Etiket Sehari-hari

Hari ini, Mama mengajak Flo berbelanja ke supermarket. “Mama mau beli buah dulu ya,” ujar Mama. Sambil menunggu, Flo tertarik saat melihat sebuah keranjang dorong. “Aha!” Dan tak lama kemudian, terdengar teriakan, “Wuhuuu!” “Yuhuuu! Hahaha! Mamaaa! Aku dataaaang! Wusssh! Tiba-tiba... Brak! Krompyang! Krompyang! Nah, bermain-main dengan keranjang dorong itu memang asyik, tapi itu berbahaya dan bisa membuat celaka! Jadi, jangan...

by Watiek Ideo detail
short story

10 Dongeng Anak Pemberani

Pada Jumat malam. Alice menginap di rumah Pierre. Tiba-tiba Pierre berkata, “Aku punya cerita menyeramkan yang harus kau dengar!” Alice menatapnya, sambil mengulum sebatang permen loli di dalam mulutnya. “Hari Jumat lalu, seorang laki-laki muncul di rumah tetangga baruku...” Pierre mulai bercerita. “Lalu, apanya yang menyeramkan?” “Pertama, aku mendengar bunyi-bunyi aneh, lalu pada malam hari, aku melihatnya.” “Dia memindahkan mayat...

by Fleurus detail
short story

100 Cerita Rakyat Nusantara

Inilah 100 kisah abadi di beragam kota tanah air. Kisah romantis tentang cinta sejati, kisah tragis dalam keluarga, dan beragam kisah seru menghadapi raksasa. Setiap kisah mengajarkan pada anak untuk berani berjuang, cerdik menghadapi masalah, dan selalu jujur kepada siapa pun. Mari menjelajahi Indonesia lewat 100 cerita nusantara! Buku ini adalah buku ketiga cerita nusantara yang ditulis oleh Dian Kristiani....

by DIAN K detail
short story

Kumpulan Dongeng 4 Musim

    Lemari Pendingin Pierre Milou     Pierre Milou si koki istana sedang bingung. Dia teringat musim dingin tahun lalu saat badai salju melanda Kerajaan La Roche. Berminggu-minggu wilayah kerajaan terkepung tumpukan salju. Tak seorang pun bisa keluar masuk wilayah kerajaan. Akibatnya, Kerajaan La Roche mengalami kesulitan pangan. Persediaan makanan menipis. Untung saja sebelum jatuh korban jiwa, badai salju berlalu. Kerajaan La Roche...

by ERNITA DIETJERIA detail
short story

52 Dongeng di Hari Sabtu

Sangat Mirip Aslinya!   Celaka! Martin susah bangun pagi ini. Alarmnya sudah berbunyi, tapi Martin benar-benar tidur nyenyak. Dia baru saja menhentikan deringnya, tapi maiah tertidur iagi. Sekarang—alangkah bodohnya!—dia terlambat pergi ke acara kejuaraan bagi pemahat pemuia. Tahun ini, tema kejuaraan itu adaalah “memahat benda sehari-hari yang sangat mirip aslinya.” Martin merasa hal ini sangat lucu. Namun ketika dia akhirnya tiba, semua pemahat pemula lainnya sudah memilih objek mereka: sepasang sepatu, sebuah jam, sebuah teko... yang masih tersisa hanya sebuah bantal! Memang, ini objek yang idea bagi si tukang tidur. Namun, Martin lebih suka sesuatu yang lebih rumit, yang kurang persegi, yang kurang datar... Pokoknya apa saja selain bantal! Namun apa boieh buat, Martin tetap harus mengerjakannya. Dengan tekun, dia memotong,  memahat, membuat lengkungan, dan memoles sebuah bongkah batu putih yang besar. Pada akhirnya, pahatan bantal itu menjadi andalannya. Ketika waktu pemeriksaan final tiba, dia sudah siap. Oscar, Caesar, dan Gaspard; ketiga anggota juri, melewati pahatan demi pahatan dan menilai karya satu demi satu. ketika mereka sampai di tempat Martin, Oscar meneliti bantal putih yang besar itu. "Orang mengira bahwa bantal ini empuk,"katanya mengagumi. "Dan juga lembut untuk disentuh,” Caesar menambahkan. Sementara Gaspard mendekati bantal dari batu itu. Dia meletakkan kepalanya dengan nikmat... dan segera tertidur. Juri memutuskan dengan bulat. Inilah pahatan yang paling mirip yang pernah dibuat!" kata Oscar dengan antusias. "Saya sependapat," kata Caesar menyetujui. Grok, fyuuuu! Gaspard memutuskan sambil mendengkur. Dengan membiarkan rekan mereka tidur, Oscar dan Caesar pun menyerahkan piala pemahat pemula terbaik kepada Martin. Beberapa waktu kemudian, ketika Gaspard akhirnya bangun, benda-benda pahatan itu sudah dipamerkan untuk umum. Namun sebelumnya, Oscar meletakkan sebuah catatan kecil di bantal Martin. “Jangan dipakai untuk perang bantal!” (Diambil dari halaman 30-31)

by Fleurus detail
short story

52 Dongeng di Hari Jumat

Kembang Api untuk Sebuah Ulang Tahun   Saat ini ada kesibukan besar di pulau bajak laut! Mereka merayakan ulang tahun ketujuh Nathan, putra kepala bajak laut. Untuk mempersiapkan ulang tahun itu, ayahnya telah mengirimkan kapal-kapal ke seluruh penjuru. Lihatlah kapal-kapal itu kembali dengan membawa barang-barang jarahan: berkoper-koper mainan curian dan berpeti-peti permen yang dirampok. Aris, biapak angkat Nathan, bahkan menangkap sebuah perahu layar agar anak angkatnya berlatih memimpin kapal pertamanya! Namun perahu layar itu tidak kosong. Kepala bajak laut melihat tiga tawanan turun dari perahu itu: seorang ayah, seorang ibu, dan anak mereka. Dia bertanya kepada anak itu, “Siapa namamu? Berapa umurmu?" "Namaku Armand dan umurku tujuh tahun," jawab anak laki-laki itu dengan takut-takut. Demi tengkorak bendera hitamku, kebetulan sekali. Kamu akan menjadi teman buat Nathan!" Armand merapat paa orangtuanya. Dia tidak ingin menjadi teman seorang bajak laut! “Tabahlah, Armand! Berusahalah agar kita selamat,” bisik ayahnya. Beberapa jam kemudian, Nathan berjalan-jalan dengan Armand di antara bergunung-gunung hadiah. “Wow, luar biasa!” Armand mengangkat bahu. “Ah, masih kurang kembang api untuk pestamu. Pada ulang tahunku yang ketujuh, aku mendapatkan pesta kembang api yang dapat dilihat sampai lebih dari seribu kilometer!” Nathan merasa iri dan berkata, “Ayah, aku juga mau kembang api!” Kepala bajak laut itu merasa tidak enak hati. Hari ini, dia telah berjanji untuk mengabulkan semua keinginan putranya! Oleh karena itu, dia membisikkan perinta ke telinga Aris. Beberapa menit kemudia, sebuah ledakan membuat seluruh pulau bergetar. Aris telah meledakkan gudang peluru! Kembang api berwarna-warni meluncur ke langit dan berpijar-pijar. Nathan terpseona, sedangkan Armand tersenyum. Tipu muslihatnya berhasil. Ternyata dari daratan, prajurit-prajurit raja melihat ledakan itu. "Para bajak laut itu sudah meledakkan gudang peluru mereka! lnilah saatnya menyerang mereka!" Dengan segera mereka naik ke kapal-kapal perang dan langsung menyerbu pulau itu. Ketika melihat mereka datang, para bajak laut bergegas ke meriam-meriam mereka. Namun, mereka tidak punya satu peluru pun untuk ditembakkan... dan pedang-pedang mereka tidak dapat berbuat banyak melawan para prajurit itu! Setelah peperangan yang singkat, semua ditangkap. Nathan menarik Iengan baju ayahnya, “Ayah, sekarang aku ingin meniup lilin-Iilinku!” Namun ayahnya begitu marah, sehingga Nathan hanya bisa terdiam.     (Diambil dari halaman 61-71)

by Fleurus detail
short story

Cerita Klasik Dunia

Orang yang Tidak Pernah Berbohong   Di pasar, orang-orang tertawa terbahak-bahak. “Kamu mengarang cerita itu,” kata mereka pada seseorang yang sedang berbicara. “Pembohong,” lanjut mereka. Lalu mereka semua tertawa lagi. “Tidak, aku tidak berbohong,” sanggah orang itu. “Setelah melalui dua puluh hari perjalanan dari sini, kalian bisa menemui orang bijak yang tidak pernah berkata bohong. Dia tidak pernah berbohong sekali pun.” Sementara orang-orang itu bercanda dan saling menggoda, lewatlah sang raja sambil menunggang kuda. Dia bertanya apa yang membuat orang-orang itu tertawa geli. Setelah tahu penyebabnya, sang raja ingin tahu lebih banyak lagi. Dia berkata kepada seorang pelayannya. “Aku ingin bertemu dengan orang bijak itu. Pergi dan bawalah dia kemari.” Orang bijak itu mengenakan pakaian lusuh. Tetapi dia sama sekali tidak takut saat dibawa ke hadapan raja. “Apakah benar kau tidak pernah berkata bohong?” tanya sang raja. “Benar,” jawab si orang bijak. “Apakah kau sendiri yang memutuskan untuk tidak pernah berbohong?” “Ya,” jawab si orang bijak. Sang raja tampak terkesan. “Niat yang sangat bagus. Akan tetapi, berhati-hatilah. Kebohongan selalu berusaha hadir di setiap perkataan,” ujar sang raja. Satu minggu berlalu. Pagi-pagi benar, untuk kedua kalinya raja memanggil si orang bijak. Orang itu tiba ketika raja sudah siap berangkat berburu. Jadi saat itu sang raja sedang memegang bulu tengkuk kuda dan kaki kirinya berada di sanggurdi, siap naik ke punggung kuda. "Pergilah ke istana musim panasku, dan beritahukan ratu yang sedang berada di sana bahwa besok kami akan tiba di sana untuk jamuan makan tengah hari,” titah sang raja. Si orang bijak membungkuk lalu pergi. “Sekarang kita akan bersenang-senang. Kita tidak harus pergi berburu, dan sebagai gantinya kita akan menikmati hiburan musik,” kata sang raja kepada rombongannya. “Besok kita akan pergi dan mengingatkan orang bijak itu betapa mudahnya seseorang dikelabui.” Sementara itu, si orang bijak bergegas menuju istana musum panas dan menjelaskan kedatangannya. “Mungkin Ratu harus menyiapkan perjamuannya, atau mungkin juga tidak,” tuturnya. “Mungkin Raja akan datang pada tengah hari, tetapi mungkin juga tidak.” “Aku meminta jawaban yang jelas,” ucap sang ratu. “Apakah Raja akan datang atau tidak?” “Saya tidak tahu,” jawab si orang bijak. Saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Raja setelah saya pergi. Apakah Raja lalu naik ke atas kuda, atau menurunkan kaki kirinya dari sanggurdi? Apakah Raja lalu pergi berburu, atau mengubah rencananya? Apakah Raja akan datang sesuai rencana, atau ada sesuatu yang terjadi sehingga beliau mungkin tidak datang?” Pada hari berikumya. sang raja datang, itu pun ketika malam sudah menjelang. Saat memasuki istana, dia melihat para pelayan membuka penutup hidangan yang mereka sajikan di meja. Sang raja tersenyum. “Si orang bijak yang meminta kalian untuk menyiapkan semua ini melakukan kekeliruan. Aku rasa dia tidak mengatakan yang sebenarnya," katanya. Namun. sang ratu memberi tahu suaminya apa tepatnya yang disampaikan oleh orang bijak itu dan bahwa mereka mempersiapkannya dengan kemungkinan Raja akan datang sewaktu-waktu. atau tidak datang sama sekali. Maka, sang raja pun sadar bahwa orang yang bijak itu hanya menyampaikan kebenaran atas hal-hal yang dia lihat dengan matanya sendiri. (Diambil dari halaman 76-81)

by Lois Rock detail
close

Main menu