Welcome to Short story

short story detail

Sang Putri dan Menara Menuju Bulan
Oleh: Arleen A. & Winda


Dahulu, ada seorang putri yang terbiasa memiliki segalanya. Dia punya banyak mantel mewah, banyak sepatu bagus, dan banyak tukang masak yang bisa membuatkan makanan lezat setiap hari.

Suatu hari, dia memandangi bulan dan memutuskan untuk mengunjunginya. Raja geleng-geleng kepala mendengarnya. Ratu pun mendesah. Namun, sang Putri tetap keras kepala. Lalu, sebuah pengumuman dibuat. Siapa pun yang dapat mengantarkan sang Putri ke bulan akan mendapat hadiah.

Ketika tidak ada yang mengajukan diri, Arsitek kerajaan pun menghadap. Dia akan membangun sebuah menara yang amat tinggi supaya sang Putri dapat mendakinya untuk tiba di bulan.

Ketika tidak ada yang mengajukan diri, Arsitek kerajaan pun menghadap. Dia akan membangun sebuah menara yang amat tinggi supaya sang Putri dapat mendakinya untuk tiba di bulan.

Sang Putri amat gembira! Dia pun memerintahkan supaya menara itu segera dibangun.

Setahun kemudian, menara itu selesai dibangun. Itu memang menara tertinggi yang pernah ada.

Sang Putri pun mulai mendaki. Ketika kakinya lelah, dia beristirahat. Saat beristirahat, dia melihat banyak anak-anak di bawah sana yang berjalan di jalanan tanpa alas kaki. Dia membayangkan pastilah kaki mereka kotor dan lebih lelah lagi. Dia membayangkan pastilah kaki mereka kotor dan lebih lelah lagi. Dia lalu teringat sepatu-sepatu yang dimilikinya. Dia pun mengirimkan perintah supaya sepatu-sepatu itu dibagikan.

Setelah melihat anak-anak berlarian dengan sepatu, sang Putri tersenyum dan mulai mendaki lagi. Saat lelah, dia lalu beristirahat lagi. Kali ini, dia melihat di bawah sana banyak anak yang kedinginan. Saat itu, angin terasa cukup dingin. Dia lalu teringat mantel-mantel yang dimilikinya. Dia pun mengirimkan perintah supaya mantel-mantel itu dibagikan.

Setelah melihat anak-anak mengenakan mantel-mantel hangat, sang Putri tersenyum dan mulai mendaki lagi. Saat lelah dan lapar, dia beristirahat sambil
mengeluarkan bekal. Kali ini di bawah sana, dia melihat banyak orang, tidak hanya anak-anak, yang sedang lapar. Dia lalu teringat semua tukang masaknya. Kali ini, alih-alih mengirimkan perintah, dia sendiri yang berlari turun untuk mengawasi tukang-tukang masaknya bekerja dan mengawasi pembagian makanan.

Sejak saat itu, sang Putri masih sering mendaki menaranya yang menuju bulan. Tetapi, dia melakukan itu bukan untuk mencapai bulan karena dia sadar bahwa menaranya tidak benar-benar setinggi bulan. Dia mendakinya untuk mencari tahu apa lagi kira-kira yang dapat dilakukannya untuk rakyatnya. Karena ketika membantu rakyatnya, dia merasa sudah benar-benar terbang ke bulan.

(Halaman 1 - 20)

close

Main menu