Welcome to Short story

short story detail

Tas-tas Zahra
oleh: Dian K. & Tethy Ezokanzo


Hari itu, Zahra lagi-lagi mendapat hadiah tas. Kali ini, Tante Mimi yang baru pulang dari Tiongkok menghadiahi tas bergambar boneka cantik.
“Bagusnyaaa ...,” Zahra mendekap tasnya erat-erat. Dia lalu memakai tas itu ke sekolah.
“Wow, tas baru lagi?” tanya Niar.
“Iya, Alhamdulillah dapat oleh-oleh.”
“Lalu, tas-tas lama kamu apakan? Aku belum pernah melihatmu memakai tas-tas itu lagi,” Niar bertanya-tanya.
Zahra terdiam. Pertanyaan Niar membuatnya ingat tasnya yang lain. Tas-tas itu tertumpuk di atas lemari pakaiannya. Tumpukannya begitu tinggi, nyaris mencapai langit-langit kamar. Plastik-plastik pembungkusnya juga berdebu. Zahra jadi harus rajin membersihkannya.
“Eh, anu. Ya, kusimpan saja.”
“Oooh, kirain kamu bagi-bagi ke anak lain yang membutuhkan. Sepupuku mirip kamu, tuh. Bukan tas, tapi sepatu. Padahal, kaki kita, kan, cepat besar. Sepatunya nggak kepakai lagi, deh.”
“Terus?” Zahra penasaran.
“Yaaa, dia sedekahkan sepatunya ke anak-anak yang kurang mampu.”
Sedekah? Anak-anak kurang mampu? Siapa, ya? Zahra tinggal di perumahan, dan seingatnya tidak ada anak kurang mampu di perumahannya.
Niar terkekeh. “Jangan bengong! Ada anak-anak pengungsi gunung meletus, korban kebakaran, korban banjir, panti asuhan, dan masih banyak lagi, kan. Minta tolong Mamamu untuk mencari tahu.”
“Oooh, iya, ya? Eng, tapi masa harus kusedekahkan semua. Sayang, kan?”
“Kalau didiamkan di atas lemari juga sayang, kan?”
Zahra tersenyum tipis. ‘Niar benar juga,’ pikirnya.
“Aku tahu! Nanti aku pilih saja satu atau dua tas yang paling aku suka. Selebihnya, aku sedekahkan saja, deh.”
Niar mengacungkan telapak tangannya. “Tos! Ide yang bagus.”
Zahra terkikik geli. Dia jadi kepengin cepat pulang dan memilah serta menyedekahkan tas-tasnya.


(Halaman 132-133)

close

Main menu