Welcome to Short story

short story detail

Jangan Suudzon
oleh: Dian K. & Tethy Ezokanzo


Beni mengajak teman-teman main ke rumahnya. Ada Ali, Ridwan, dan Umar. Mereka asyik menyusun puzzle raksasa yang baru saja dibelikan ayah Beni.


"Allahu akbar ... Allahu akbar ...," adzan Dzuhur berkumandang.

"Ayo kita ke masjid dulu," ajak Ali. Saat melangkah keluar, tiba-tiba Ali memekik. "Masya Allah! Sepedaku hilang!" Beni, Ridwan, dan Umar terkejut. 'Aduh, kok bisa sih?' pikir Beni.

"Sabar Ali, jangan-jangan ada yang meminjam sepedamu tanpa izin."

Tiba-tiba, Bu Nina, tetangga sebelah, melongok, "Ada apa ribut-ribut?" tanyanya. Beni lalu bilang kalau sepeda Ali hilang. Bu Nina mengernyitkan kening. "Apa sepedamu berwarna kuning?" tanya Bu Nina pada Ali. Ali mengangguk.

"Tadi, pamanmu membawa sepeda itu," kata Bu Nina pada Beni.

"Hoaa, pamanmu pencuriiii!" teriak Ali.

"Jangan sembarangan. Ayo kita bilang ke ayah dan ibuku. Barangkali mereka tahu sesuatu." Ayah Beni memutuskan untuk menelepon Paman. Sayang, teleponnya tak diangkat.

"Pasti Paman sedang di pasar loak," bisik Ridwan dan Umar. Ali semakin cemberut mendengar bisikan teman-temannya itu. Beni sedih mendengar teman-temannuya berburuk sangka pada Paman. Tapi Beni jugabingung, kenapa Paman membawa sepeda Ali tanpa izin? Untunglah, Paman segera pulang. Ternyata, Paman membawa sepeda Ali karena bannya gembos. Paman membawanya ke tukang tambal ban di jalan raya depan perumahan.

"Ban dalamnya sobek. Paman membawanya ke bengkel karena Paman kaihan padamu. Kalau bannya gembos, bagaimana kamu pulang nanti?" cerita Paman.

"Seharusnya, kamu bilang dulu pada Ali. Jadi nggak ada prasangka buruk padamu," kata Ayah.

Paman mengangguk, "Maaf, ya, Ali. Paman terlalu bersemangat."

"Aku yang minta maaf, Paman. Aku sudah berburuk sangka pada Paman," Semua orang pun akhirnya lega.

(Hlm. 24-25)

close

Main menu