Welcome to Short story

short story detail

Kisah Dua Jembatan (The Tale of Two Bridges)


Oleh: Arleen Amidjaja


Dahulu di sebuah pulau terpencil, tinggal sekelompok manusia. Yang menjadi penghubung antara mereka dan peradaban adalah dua buah jembatan. Jembatan yang satu berukuran besar, terbuat dari marmer, dan amat cantik. Jembatan yang satu lagi hanyalah sebuah jembatan kayu yang kecil. Tetapi, perbedaan di antara keduanya bukan hanya itu.

Jembatan kayu yang kecil selalu menyemangati orang-orang yang melewatinya. "Ayo! Berpegangan saja padaku. Aku akan membawamu ke pulau utama dengan selamat," katanya. Tidak seperti jembatan kecil, jembatan marmer yang besar tidak suka jika dirinya dilewati. Dia tidak suka pada suara-suara ribut. Maka, dia memasang tarif yang tinggi bagi yang akan melewatinya.

Pada masa itu, belum ada alat komunikasi. Penduduk pulau terpencil itu agak takut pergi ke pulau utama karena tempat itu asing bagi mereka. Jadi, tidak banayk orang yang melewati jembatan itu setiap harinya. Tetapi, jembatan kayu kecil selalu mengabarkan semua yang dia ketahui tentang pulau utama. Sebagai sebuah jembatan, dia sendiri belum pernah menjelajahi pulau utama. Namun, dia mendengar banyak hal dari burung-burung.

Jembatan kayu kecil berteman baik dengan burung-burung. Dia membolehkan mereka beristirahat pada dirinya dan juga membiarkan mereka membuat sarang di bawahnya. Jembatan marmer justru benci pada burung-burung itu. Dia tidak suka dijatuhi kotoran burung, dan suara burung mengganggu tidurnya.

Setiap siang, orang-orang akan berkumpul di dekat jembatan kayu kecil untuk mendengarkan cerita-ceritanya. "Di pulau utama, baru-baru ini orang-orang sedang butuh gandum. Jadi kalian bisa membawa gandum, menyebrangiku, dan menjualnya di sana," katanya suatu siang. Maka keesokan harinya, beberapa penduduk pulau itu pun menyeberang dan menjual gandum di pulau utama.

"... oh dan mereka juga perlu lebih banyak bulu domba untuk bersiap-siap menghadapi musim dingin," kata si jembatan pada hari lain lagi. Maka keesokan harinya, beberapa penduduk pun menyeberang untuk menjual bulu domba di pulau utama. "Jika kamu membiarkan mereka menggunakan dirimu seperti itu, pasti sebentar lagi kamu akan rusak, tahu!" kata Jembatan Marmer kepada Jembatan Kayu. Tetapi, Jembatan Kayu hanya tersenyum dan menyemangati orang-orang untuk melewatinya.

Seraya tahun-tahun berlalu, orang-orang di pulau terpencil itu tidak lagi takut untuk pergi ke pulau utama. Selain membawa benda-benda untuk dijual di sana, mereka juga membawa pulang benda-benda dari sana untuk dijual di pulau. "Ada sekolah yang baik di pulau utama," kata si jembatan kayu suatu hari. Maka, anak-anak pun mulai bersekolah di pulau utama. Orang dewasa juga mulai bekerja di sana.

Setelah beberapa dekade, orang-orang pulau tidak lagi tertinggal oleh peradaban. Dan apa yang terjadi pada jembatan kayu kecil itu? Apakah jembatan itu telah rusak karena terlalu sering digunakan? Orang-orang memang melihat jembatan itu semakin lemah dan mulai bergoyang. Maka, mereka pun membangunnya kembali. Itu karena mereka sadar bahwa kemajuan mereka adalah berkat jembatan kayu itu.

Apa yang terjadi dengan jembatan marmer? Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengannya karena jembatan itu telah lama terlupakan.

(Hal. 161-178)

 

close

Main menu