Welcome to Short story

short story detail

Putri Duyung yang Terus Melompat (The Mermaid Who Hops and Hops and Hops)


Oleh: Arleen A.


Dahulu ada putri duyung muda bernama Medy yang terus saja melompat. Sewaktu kecil, dia menemukan sebuah benda di salah satu kapal yang karam. Benda itu milik manusia. Ketika dia bermain-main dengan benda itu, dilihatnya gambar anak perempuan yang sedang melompat-lompat.

Medy amat kagum pada kaki anak perempuan itu walaupun dia tidak tahu bahwa itu dinamakan kaki. Medy pikir anak itu punya dua ekor karena selalu melompat. Sejak itu Medy melompat sepanjang hari dengan harapan ekor keduanya akan tumbuh juga. Tetapi, sekalipun dia telah melompat dan melompat selama bertahun-tahun, ekor keduanya tidak tumbuh juga. Maka, Medy punya rencana lain. Terkadang dia melihat manusia melintasi lautan dengan mangkuk logam besar yang disebut kapal....

Maka suatu hari, dia naik ke salah satu kapal itu untuk mengamati. Pengasuhnya tidak menyetujui rencana Medy, tapi Medy memaksa. Mereka pun memakai rok yang panjang supaya terlihat seperti manusia. Di atas kapal, yang pertama kali Medy lihat adalah sekelompok manusia yang berolahraga pagi. "Lihat! Mereka memang selalu melompat!" bisiknya pada pengasuhnya.

Tapi kemudian, dia melihat manusia-manusia itu melakukan hal-hal lain juga. Dia tertarik pada semua aktivitas itu, terutama yang mereka sebut berdansa. Medy mengendap-endap masuk ke ruang dansa dan Medy masuk ke ruangan dansa dan mencoba berdansa. Tetapi, bagaimanapun juga, dia tidak dapat melakukannya.

Medy merasa sedih. "Ayo kita pulang saja," kata pengasuhnya. Medy mengangguk. "Sesampai di rumah, aku harus lebih sering lagi melompat," katanya. Sebelum mereka melompat ke laut, Medy melihat seorang wanita menggendong seorang manusia kecil. "Lihat! Manusia sekecil itu saja sudah punya ekor kedua!" katanya pada pengasuhnya.

Si ibu meletakkan manusia kecil itu dan dia merangkak. "Padahal dia belum bisa berdiri dan melompat!" tambah Medy. "Oh! Itu berarti mereka punya dua ekor bukan karena mereka melompat terus!" "Medy, rasanya memang mereka terlahir dengan dua ekor," kata si pengasuh. "Berarti aku tidak punya harapan untuk memiliki ekor kedua," kata Medy, lalu menangis. "Ayo, kita pulang saja. Aku akan buatkan selada rumput laut kesukaanmu," kata pengasuhnya. Namun, ketika mereka hendak melompat, mereka mendengar keributan. Balita yang mereka lihat tadi ternyata terjatuh ke laut.

Ibunya pingsan. Beberapa manusia pria bersiap melompat. Namun Medy tidak membuang-buang waktu. Dia langsung melompat. Sebagai putri duyung, tentu saja dia yang berenang paling cepat. Ketika mereka sudah kembali ke kapal, orang-orang muali meyadari bahwa Medy adalah putr duyung. Mereka terkesima. Gadis-gadis kecil datang untuk mengagumi ekor Medy. "Ibu, aku mau ekor seperti itu!" kata salah satu anak itu.

Medy tersenyum. Dia menyuruh si gadis cilik duduk di dekatnya. Dia menunjuk ke arah kaki gadis itu. "Dua ekor lebih baik daripada satu," katanya pada gadis cilik itu, lalu mengedipkan mata ke arah ibunya. Si gadis cilik tersenyum. Begitu perpisahan dan sesi pemotretan yang berlangsung lama usai, Medy dan pengasuhnya pun berenang pulang.

Setelah kejadian itu, Medy tidak lagi melompat-lompat karena dia sudah sadar bahwa ada banyak hal asyik lainnya yang dapat dia lakukan dengan satu ekor saja.

(Hal. 21-40)

close

Main menu