Welcome to Short story

short story detail

Zigoto, si Burung Lamban
Oleh: Fleurus Éditions


Di hutan ada seekor burung bernama Zigoto berdiri di pucuk pohon tertinggi. Dia bertengger di atas kaki-kaki kecilnya. Dia bangga seperti seekor elang yang gagah.
Zigoto adalah seekor anak burung yang agak lamban. Dia punya mata bundar yang besar, sayap yang mungil, dan bulu yang berantakan. Tapi yang terpenting, Zigoto tidak pernah meninggalkan sarangnya yang nyaman.

Hewan-hewan lain keheranan saat melihatnya berdiri di tempat setinggi itu. “Hebat, Zigoto! Kamu kuat sekali! Bagaimana caranya kamu naik ke tempat yang tinggi seperti ini?” kata Bizi, sahabatnya.
Bizi pun memberitahukan hal tersebut kepada kumbangkumbang. “Hei, tahukah kalian? Zigoto bertengger di atas pohon tertinggi di hutan!”
“Zigoto? Zigoto, anak burung yang lamban itu, ya?” tanya kumbang-kumbang yang lain.
“Itulah yang banyak diketahui tentangnya,” jawab Bizi. Karena terkagum-kagum, kumbang-kumbang itu terbang ke rumah si Burung Hantu. Mereka membangunkan si Burung Hantu yang sedang tidur siang. Keluar dari sarangnya, si Burung Hantu menggerutu.
“Kenapa kalian membangunkanku?”
“Hei, Zigoto naik sendiri ke atas pohon tertinggi di hutan!” teriak kumbang-kumbang itu.
“Zigoto? Zigoto, anak burung yang lamban itu?” tanya si Burung Hantu.
“Itulah yang banyak diketahui tentangnya,” jawab kumbang-kumbang itu.

Burung Hantu sangat terkejut dan terkesan. Lalu, dia terbang menuju rumah Tupai, tetangganya, dan berkata
pada mereka.
“Hei, Zigoto terbang dengan sayapnya sendiri sampai ke atas pohon tertinggi di hutan!”
“Zigoto? Zigoto, anak burung yang lamban itu?” tanya Tupai.
“Itulah yang banyak diketahui tentangnya,” jawab si Burung Hantu.

Sejak berada di atas puncak pohon itu, Zigotomelihat semua keramaian itu. Anak-anak burung yang lain terbang mengelilinginya sambil memberi ucapan selamat. Zigoto tersenyum. Dia bangga pada dirinya sendiri.

Tupai-tupai itu tercengang. Mereka sendiri bahkan tidak pernah memanjat ke tempat yang setinggi itu! Mereka turun dari pohon dan pergi memberitahukan kabar itu kepada para landak. Kebetulan landak sedang sibuk menggerogoti jamur.
“Hei, Zigoto terbang seperti seekor burung elang!”
“Zigoto? Zigoto, anak burung yang lamban itu?” tanya landaklandak itu.
“Itulah yang banyak diketahui tentangnya,” jawab salah satu tupai.

Lalu, landak-landak itu menggelinding sampai ke keluarga babi hutan. Keluarga babi hutan sedang sibuk mencari biji pohon ek di dalam tanah.
“Hei, Zigoto adalah burung yang paling cepat di hutan ini!”
“Zigoto? Zigoto, anak burung yang lamban itu?” ujar Babi Hutan terheran-heran.
“Itulah yang banyak diketahui tentangnya,” jawab landak-landak itu.

Di puncak pohon, Zigoto gemetaran. Angin bertiup dan pohon bergoyang-goyang. Anak-anak burung lain bergegas ingin melihatnya terbang.
Babi Hutan berlari menemui temannya, Sam si Elang.
“Hei, Zigoto ingin kamu mendengar ini. Katanya, dia lebih cepat daripada kamu!”
“Zigoto? Zigoto, anak burung yang lamban itu?” Sam si Elang tertawa mengejek.
“Itulah yang banyak diketahui tentangnya,” jawab si Babi Hutan.
“Baiklah, ayo kita lihat ...,” bisik Sam sambil terbang.

Puluhan burung berputar-putar mengelilingi Zigoto. Sam si Elang tidak sulit menemukan Zigoto. Dia pun hinggap di dahan pohon dan menatap Zigoto dengan sorot mata tajam.
“Jadi, Zigoto … mereka di seluruh hutan bilang kalau kamu lebih cepat daripada aku, ya. Aku penasaran ingin melihatnya! Maukah kamu berlomba denganku?”
Semuanya menatap Zigoto. Mereka pun menyemangatinya.
“Ayo, Zigoto!”
“Kamu pasti bisa mengalahkannya!”
Namun, anak burung itu tidak bergerak sama sekali.
“Jadi, apa yang kamu tunggu, Burung Kecil yang Lamban?” ejek Sam si Elang.
Semua burung hinggap di dahan pohon untuk melihat mereka. Seluruh hutan menjadi hening. Muka Zigoto memerah dan pucat pasi. Tubuhnya seolah menjadi lebih kecil. Akhirnya, dia berbisik.
“Sebenarnya Mama yang menaruhku di sini pagi tadi agar bisa belajar terbang. Dan sekarang … aku ingin turun!”

(Halaman 50 - 61)

close

Main menu