Welcome to Short story

short story detail

 


Marius, Kesatria Kecil Pemberani


Oleh: Fleurus Éditions


Di sebuah kerajaan, berdirilah sebuah kastel yang besar. Tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Di sana ada sebuah menara tinggi. Di dalam menara itulah Putri Isabel ditahan. Selama bertahun-tahun, dia menanti seorang kesatria yang akan menyelamatkannya. Bahkan dia sudah cukup lama menantinya.
“Kesatriaku sedang apa, ya?” katanya dalam hati.
Apakah dia takut pada parit yang penuh dengan belut listrik? Apakah dia takut pada raksasa yang menjaga kastel? Atau, dia takut pada penyihir yang menahanku di kastel ini?

Tidak ada seorang pun yang berani menyerang kastel penyihir itu. Semua orang sangat takut. Semua orang … kecuali si kecil Marius!
“Tidak!” kata ibunya. “Kamu tidak boleh keluar rumah sendirian!”
“Mustahil! Tidak ada baju zirah yang seukuran tubuhmu!” kata ayahnya.
“Kamu lucu! Bagaimana caranya kamu bisa mengalahkan monster-monster itu?” kata kakak laki-lakinya sambil tertawa. Marius memang hanya anak kecil. Dia tidak lebih besar daripada sebuah bangku. Tapi, dia memiliki jiwa pemberani.

Suatu hari, orangtuanya tidak ada di rumah. Keadaan itu dimanfaatkan Marius untuk pergi menyelamatkan Putri Isabel. Dia pun mengenakan baju zirah paling kecil yang ditemukan. Baju zirah itu sangat kebesaran untuknya. Tapi, apa boleh buat. Marius mengambil katapelnya. Dia menarik katapelnya seolah tak seorang pun bisa melakukannya seperti dia! Seorang kesatria sejati harus menunggang seekor kuda. Tapi, tidak ada seekor kuda pun yang cocok dengan ukuran badannya.
“Temanku, Lucius. Maukah kamu kujadikan tungganganku seperti kuda?” tanya Marius.
Lucius adalah anjing peliharaan keluarganya. Dan anjing itu tak pernah menolak untuk jalan-jalan.

Marius menunggangi anjingnya melintasi ladang gandum hingga sampai ke kastel si penyihir. Dia pun melihat menara tinggi itu. Saking tingginya, menara itu ditutupi awan. Marius kebingungan saat berhadapan dengan parit yang dipenuhi belut listrik. Bagaimana dia menyeberanginya? Lalu, dia melihat bunga teratai yang cantik. Dia letakkan kakinya di atas daunnya dan ternyata bisa mengapung. Tubuhnya yang ringan membuatnya bisa meluncur di atas air seperti berada di atas rakit. Akhirnya, sampailah dia di kastel.

Setelah itu, Marius berhadapan dengan pagar terali. Anak itu kebingungan. Bagaimana dia membukanya? Tidak perlu dibuka! Karena tubuhnya kecil, dia bisa lolos melewati pagar terali itu. Tapi, dia berhadapan dengan raksasa besar di halaman kastel. Raksasa itu terus menyeringai dan menyebarkan bau busuk. Namun, Marius begitu lincah. Dia berhasil melarikan diri dengan cara melewati sela-sela kedua kaki raksasa itu. Sang Raksasa terus mencoba menangkapnya. Tapi, dia justru terjungkir dan kepalanya terbentur. Rasanya pasti sakit sekali! Marius berlari menuju menara yang tinggi itu. Dia pun memanjat tangga yang besar dan sangat tinggi. Alangkah melelahkannya! Tapi, kesatria kecil itu tidak peduli.

Betapa terkejutnya Putri Isabel saat melihat seorang anak laki-laki kecil datang tanpa membawa pedang.
“Ikuti aku, Putri Cantik. Sekarang, kamu akankubebaskan!” kata Marius sambil menunjukkan tangga kastel padanya.
Celakanya, si Penyihir datang. Dia tampak mengerikan. Kedua matanya tampak menakutkan dan ada kutil di atas hidungnya.
“Makhluk kecil apa ini yang berani datang ke kastelku?” tanyanya.
Marius kesal. Dia tidak suka diremehkan seperti itu. Tidak boleh! Lalu, Penyihir mengangkat tongkatnya dan mengucapkan mantra sihir.
“Berubahlah kamu menjadi katak yang buruk rupa!”

Dengan cepat, Marius mengeluarkan katapelnya dan meluncurkan sebuah batu tepat di depannya. Batu itu mengenai sihir yang melayang. Kemudian, berubah menjadi katak yang meluncur tepat ke arah Penyihir. Si Penyihir lalu
jatuh telentang. Marius dan Putri Isabel memanfaatkan keadaan itu untuk melarikan diri. Mereka menuruni tangga dan berhasil keluar dari kastel yang menakutkan.

Saat kembali ke desa, semua orang terheran-heran. Belum pernah tercatat dalam sejarah, ada seorang anak laki-laki yang berhasil meraih keberhasilan yang luar biasa seperti itu. Jadi, tidak harus bertubuh besar untuk menjadi hebat, yang terpenting jadilah pemberani!

(Halaman 41 - 47)

close

Main menu