Welcome to Short story

short story detail

Ujian Kesabaran untuk Riko
Oleh Herry Prasetyo


Riko sedang belajar di meja belajarnya. Namun, kali ini wajah Riko cemberut. Tidak seperti biasanya, jika belajar Riko merasa merasa senang.
“Kok Riko cemberut?” tanya bundanya sambil mendekati Riko.
Riko belum menjawab. Dia masih belum bisa tersenyum dan belajar dengan baik. Buku dan pensil di atas meja belajarnya tergeletak begitu saja.
“Ada apa, Nak?” tanya sang bunda.
“Habisnya, pelajaran yang ini susah, Bunda. Angka-angkanya susah dijumlahkan. Riko sebal, nih!” kata Riko sambil cemberut.
“Oh, Riko sedang belajar Matematika? Kenapa tidak memanggil Bunda untuk diajari?” balas Bunda.
“Tadi Riko mau belajar sendiri, mencoba mengerjakan latihan sendiri, Bunda,” kata Riko, “Tapi ternyata susah, Riko kesulitan mengerjakannya.”
“Belajar itu harus sabar, Nak. Harus tekun. Tidak boleh mudah menyerah. Kalau mengalami kesulitan, coba lagi. Nanti kamu pasti bisa,” kata Bunda sambil melihat buku Riko. Riko mengangguk.
“Yuk, belajar berhitung bersama Bunda. Bunda ajari soal yang tidak bisa dikerjakan Riko,” kata Bunda kepada Riko.
Akhirnya, Riko bisa mengerjakan soal-soal berhitung yang ada di bukunya. Senyum kecil sudah mulai terlihat di wajah Riko. Dia mengerjakan soal-soal berhitung dengan tekun.
“Nah, anak Bunda sudah mulai bisa tersenyum, nih. Belajarlah yang rajin, Nak. Sabarlah jika mengalami kesulitan. Teruslah berlatih,” pesan Bunda.
“Terima kasih, Bunda. Riko akan terus belajar dengan sabar, tekun, dan tidak mudah menyerah.”

 

(Hlm. 24)

close

Main menu