Welcome to Short story

short story detail

Jangan Jajan Sembarangan


Oleh: Widya Ross


Saat bel istirahat berbunyi, Cici Kelinci segera berlari keluar kelas. Oo, hendak ke manakah dia? Rupanya Cici ingin membeli jajanan yang ada di luar sekolah. Padahal, Bu Kelinci sudah membawakan bekal untuknya, yaitu roti wortel dan jus labu. Namun, Cici enggan memakannya. Dia lebih suka jajan sembarangan. Di rumah, Bu Kelinci telah mengingatkan Cici untuk tidak jajan sembarangan. "Hati-hati kalau jajan. Banyak makanan dan minuman berbahaya," kata Bu Kelinci.

Bu Nana Tupai, guru Cici, juga sudah memberi tahu para murid untuk jajan di kantin sekolah saja. "Kalau mau jajan, di kantin sekolah saja, ya. Makanan di sana sehat dan bersih," ucap Bu Nana. Tapi Cici tidak mau mendengar. Di luar sekolah, Cici sibuk memilih jajanan yang ingin dimakannya. Setelah melihat-lihat, dia pun memutuskan membeli es merah, yaitu es serut yang diberi sirup merah terang.

Nyam! Nyam! Nyam! "Segar kelai," kata Cici. Tidak lama, bel masuk berbunyi. Cici pun cepat-cepat pergi ke kelas sebelum Bu Nana datang. "Seperti janji Ibu kemarin, sekarang kita akan bernyanyi bersama. Sudah siap?" kata Bu Nana. "Sudah, Bu Nana," murid-murid menjawab. Bu Nana lalu mulai bernyanyi, yang diikuti oleh semua murid, kecuali Cici.

Kenapa begitu? Sebab badan Cici tiba-tiba panas dan tenggorokannya terasa sakit sekali. Bu Nana melihat Cici kesakitan, lalu mendekatinya. "Badanmu panas sekali. Cici pulang saja, ya?" Cici pun pulang diantar Pak Herman Landak.

Sesampainya di rumah, Bu Kelinci langsung membawa Cici ke dokter. "Cici kena radang tenggorokan. Cici habis jajan apa?" Pak Dokter Berang-berang bertanya. "Makan es merah," Cici mengaku. "Kalau bisa jangan jajan sembarangan ya, karena banyak makanan yang tidak sehat dan tidak bersih," ucap Pak Dokter mengingatkan.

Pak Dokter kemudian menyuruh Cici untuk istirahat di rumah selama tiga hari. Karena tidak dibolehkan untuk beraktivitas, lama-kelamaan Cici menjadi bosan. Maka tidak heran Cici menjadi sangat senang saat sudah sembuh dan boleh ke sekolah lagi. Setelah merasakan tidak enaknya sakit, Cici kini sudah tidak jajan sembarangan lagi. Dia selalu memakan bekal yang dibuatkan Bu Kelinci.

Walaupun begitu, terkadang Cici ingin sesekali jajan di luar lagi. Tapi, dia langsung teringat penderitaannya ketika sakit akibat jajan sembarangan. Keinginan itu pun lenyap seketika.

(Hal. 1-10)

close

Main menu