Welcome to Short story

Short story

short story detail

Earpiece


Bel tanda akhir pelajaran baru saja berbunyi. Para murid dan guru Amachi Gakuen seketika berhamburan dari ruang kelas masing-masing. Keheningan yang meliputi segala penjuru sekolah sebelum bel berdering pun sirna, tergantikan oleh suara teriakan dan gurauan para murid yang kini ramai menyapu setiap koridor.

Di kelas 3-2, seorang gadis bernama Kuroda Yuki sedang membereskan barang-barang di dalam laci mejanya. Dengan cekatan, tangannya memasukkan alat tulis yang berserakan di atas meja ke dalam kotak pensil. Buku tulis dan buku teks miliknya pun ia masukkan ke dalam ransel.

Setelah mendorong kursi ke arah meja di depannya, tangan Yuki merogoh ransel untuk mencari earpiece kesayangannya. Begitu ketemu, ia menancapkan salah satu ujungnya ke ponsel dan ujung yang satu lagi ke telinga. Tak lama setelah jemari Yuki bergerak lincah di atas layar sentuh ponsel, lagu ballad favorit gadis itu mulai mengalun lembut. Yuki refleks memejamkan mata sekilas, membiarkan alunan tersebut memanjakan telinga. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sambil menyampirkan ransel ke pundak.

“Kuroda-san!” panggil salah satu murid sambil berlari menghampiri Yuki. “Ano… jadwal piket hari ini—”

Yuki mencabut sebelah earpiece dari telinganya, lalu menatap gadis berkacamata di depannya dengan sebelah alis terangkat.

Sasaran tatapan tajam Yuki langsung berkeringat dingin. Gadis itu membetulkan letak kacamatanya karena panik. “Eh, ti—tidak. Lupakan saja.”

Yuki menurunkan sebelah alisnya yang terangkat, lalu mengalihkan pandangannya dari gadis itu sambil menghela napas. Ono Hiromi—pengurus kelas yang bertanggung jawab, walaupun nyalinya ketika berhadapan dengan orang lain cuma sebesar ibu jari, batin Yuki.

Yuki memasang earpiece-nya kembali, lalu meninggalkan ruang kelas 3-2 dengan langkah santai. Ia memandang lurus sambil melangkah menuju ruangan yang paling sering ia kunjungi di sekolah, selain ruang kelas 3-2 yang memang wajib ia datangi setiap hari.

Sambil berjalan, Yuki melihat beberapa murid seangkatannya dari sudut mata. Mereka yang berjalan bersebelahan, mereka yang bersenda gurau dalam kelompok, serta satu-dua orang yang berjalan sendirian—seperti dirinya.

Teman... sahabat dekat... teman... gumam Yuki di dalam hati, sambil menerka-nerka hubungan antara orang-orang yang berjalan di dekatnya berdasarkan jarak di antara mereka.

Kenalan, lanjut Yuki ketika matanya menangkap mereka yang sesekali menyerukan sapaan singkat kepada orang lain yang kebetulan lewat. Sapaan yang menurut Yuki hanya sekadar basa-basi, karena tidak dilanjutkan dengan percakapan yang lebih berarti.

Beberapa kali Yuki juga berpapasan dengan orang-orang yang ia anggap “kenalan”. Yuki memberi mereka label tersebut karena ia tahu nama dan wajah mereka, tetapi gadis itu tidak pernah benar-benar berniat membuka percakapan dengan mereka kalau tidak sedang ada perlu. Yuki pun tidak pernah memberi mereka “sapaan basa-basi” seperti yang dilakukan orang-orang yang ia lihat tadi, karena menurutnya sapaan kosong semacam itu sungguh tidak perlu.

Hanya Yuki yang memasang earpiece di telinganya ketika berjalan di koridor sekolah. Menurutnya, earpiece itu adalah kebutuhan mutlak untuk bertahan hidup di tempat penuh keramaian seperti sekolah karena ia sangat tidak menyukai kegaduhan. Tepatnya, ia tidak suka berada di tengah-tengah orang banyak.

Yuki menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu berwarna marun di ujung koridor. Ia melepaskan earpiece kesayangannya sebelum membuka pintu itu.

(Halaman 9-12)

close

Main menu