Welcome to Short story

short story detail

Tempat Pengumuman Barang-Barang Hilang
Oleh Zheng Chun Huaa


Datou dan ayahnya pergi ke Taman Padang Hijau. Di sana banyak turis yang berlalu-lalang. Di sudut taman, ada sebuah papan kayu besar yang diletakkan telentang. Di atas papan kayu digantungkan bermacam-macam barang, seperti sepatu, kunci, sapu tangan, dompet, surat keterangan, kantong, dan lain-lain.
“Apakah barang-barang ini dijual ?” Datou bertanya dengan heran.
“Tidak. Ini tempat pengumuman barang-barang yang hilang.”
“Apa maksdunya tempat pengumuman barang-barang yang hilang?”
“Maksudnya adalah semua barang-barang yang ditemukan di sini, akan digantung agar pemilik yang mencarinya mudah menemukan kembali.”

Ayah melihat sebuah peta lokasi tamasya, sedangkan Datou meninggalkan ayahnya untuk mencari-cari sesuatu dengan teliti. Akhirnya, dia menemukan sebuah kancing dan buah apel yang sudah digigit. Saat Ayah membalikkan badan, dia melihat Datou
memegang sesuatu di tangannya.
“Datou, apa yang kamu pegang?” kata Ayah bertanya heran.
“Aku ingin meletakkan barang-barang ini di tempat pengumuman barang-barang hilang,” kata Datou.
“Tempat pengumuman barang-barang hilang hanya untuk barang-barang yang hilang dari pemiliknya, dan bukan sampah.
Kancing dan buah apel ini memang dibuang oleh pemiliknya, jadi kita tidak perlu mengambilnya,” kata Ayah menjelaskan.
Akhirnya, Datou membuangnya ke tempat sampah dan mereka meneruskan berjalan.

Di depan mereka ada tempat bermain anak.
“Ayah akan duduk di kursi ini sambil membaca koran, kamu boleh bermain di sana. Hati-hati saat bermain,” kata Ayah.
Datou bermain ayunan dengan gembira. Saat akan mengayun, dia melihat ada seorang anak perempuan yang menangis. Datou turun dari ayunan dan berlari menghampiri anak perempuan tersebut. Dia lalu mengajak anak perempuan itu untuk bertemu dengan ayahnya.
“Ayah, aku menemukan anak perempuan ini. Apakah aku boleh ke tempat pengumuman barang-barang hilang?”
Ayah hanya tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala. “Dia seorang anak perempuan bukan barang hilang, jadi kita harus mengantarnya ke Paman penjaga.”

Selesai mengantarkan anak perempuan tersebut, mereka kembali ke sudut taman. Tiba-tiba, Datou berteriak dan menangis sekeras-kerasnya. Ternyata, dia berjalan sambil menunduk, dan menabrak sebuah pohon.
“Kalau jalan harus hati-hati. Jangan berjalan sambil menunduk,” kata Ayah.
Tak lama, Datou berhenti menangis, matanya menatap tajam ke arah pohon. Di sana, dia melihat kunci yang bersinar.
Dia langsung berlari sambil berteriak. “Ayah, aku boleh memungut kunci ini dan meletakkannya di tempat pengumuman barang-barang hilang? Sepertinya kunci ini terjatuh dari pemiliknya.”
Tanpa menunggu persetujuan dari ayahnya, Datou langsung berlari menuju tempat pengumuman barang-barang hilang. Akhirnya, Datou berhasil menemukan barang yang mungkin
masih dicari pemiliknya.

(Halaman 88 - 93)

close

Main menu