Welcome to Short story

short story detail

Salju di Dalam Rumah
Oleh Zheng Chun Huaa


Hari ini adalah hari ulang tahun Ayah. Dia membeli kue berukuran sebesar meja dan bertingkat tiga untuk dirinya sendiri.
“Kue yang Ayah belisaat aku ulang tahun ukurannya bahkan tidak lebih besar dari kepalaku!” kata Datou sambil melihat kue besar di atas meja dengan sangat iri.
Ayah meminum air lalu berkata, “Kamu itu anak kecil, tentu saja aku belikan kue kecil. Aku ini orang dewasa, tentu saja aku beli kue yang besar. Selain itu, hari ini Kakek, Nenek, Paman, Bibi, dan Paman Ding akan datang merayakan pesta ulang tahun Ayah. Kalau tidak beli yang besar, nanti tidak cukup untuk semua,” kata Ayah panjang lebar.
“Orang dewasa selalu punya banyak alasan saat ingin melakukan sesuatu,” kata Datou. Kemudian, Datou pun beranjak pergi.

Tak lama kemudian, semua tamu datang. Datou tambah kesal karena semua tamu tidak ada yang memberinya hadiah. Semua orang hanya membawa hadiah ulang tahun untuk Ayah. Hadiahnya ada ikat pinggang, kemeja, dasi, dan alat cukur. Datou pun sangat kesal karena tidak bisa menghabiskan makanan ulang tahun satu per satu. Nenek yang perhatian, melihat Datou seperti tidak senang.
Nenek langsung memeluknya dan berkata, “Tunggu sampai kamu berulang tahun, ya. Kamu ingin hadiah apa pun akan Nenek belikan.” Mendengar hal itu, Datou tetap tidak senang. Masih ada waktu hingga pesta itu usai. Ayah ingin membawa semua orang melihat tulip di sebuah taman dekat rumah.
“Aku tidak pergi!” Datou sudah menjawab terlebih dahulu meskipun Ayah belum bertanya kepadanya. Ayah melihat kue di atas meja, lalu berkata, “Jangan memakan kuenya, ya!” Datou pun menatapnya.

Semua tamu pergi. Datou duduk di atas sofa sambil melihat kue Ayah dan berkata, “Pesta ulang tahun Ayah sungguh menyenangkan!” Setelah berpikir sebentar, tiba-tiba dia berdiri dan memindahkan sebuah tangga.
Lalu, Datou menaikinya untuk melihat kipas angin di langit-langit. Tidak lama, para tamu kembali ke rumah. Mereka memuji bunga tulip tersebut sambil duduk mengitari kue besar itu.

Saat mereka melihat tangga, Datou terlihat sudah siap untuk menyalakan kipas angin. “Astaga! Turun salju! Turun salju!” Potongan kertas tebal tampak berjatuhan dari baling-baling kipas, seperti salju yang memenuhi sekeliling ruangan. Salju itu jatuh di atas rambut dan pakaian para tamu.
“Hei! Sungguh mirip salju!”
“Cantik sekali!” Para tamu melihat salju itu dengan terpesona, lalu memujinya.
Melihat hal itu, Ayah langsung mengambil payung dan membukanya. Dengan sigap, Ayah langsung memayungi kue ulang tahunnya. Tapi, sudah terlambat. Kue itu sudah tertutup dengan penuh potongan kertas yang tertempel di atasnya.
“Kamu ini ...,” kata Ayah kesal. Ayah memelototi Datou sambil melempar payungnya ke lantai.
“Ini hadiah ulang tahun dariku!” kata Datou merasa bersalah. Akan tetapi, Paman Ding bertingkah seperti kanak-kanak.
Dia bilang, “Tidak apa-apa. Sekarang kuenya, kan, sudah tidak bisa dimakan, kita hancurkan dan mainkan saja kuenya. Pasti akan sangat menyenangkan, bukan?”

Setelah itu, Paman Ding yang pertama memotong potongan besar kue. Kemudian, dia melemparkannya ke kepala Ayah, plak! Ayah seperti memakai topi krim.
“Hahaha ...,” semua tamu tertawa. Akhirnya, mereka pun saling melempar kue. Datou yang paling banyak dilempari kue. Tapi, dia juga yang paling menikmati permainan. Dia benar-benar sudah mengubah ulang tahun Ayah menjadi seperti ulang tahunnya sendiri.

(Hlm. 80-87)

close

Main menu