Welcome to Short story

short story detail

Aku dan Ayah di Pasar Festival


oleh: Theresia Praditya


Aku mempunyai Ayah yang hebat dan baik hati. Ayah sering menasihatiku tentang bagaimana menjadi anak yang baik. Suatu hari aku dan Ayah pergi ke Pasar Festival. Kami bermain mobil-mobilan. Aku dan Ayah juga bermain lempar bola. Aku mendapat hadiah sebuah robot-robotan.

Lalu, Ayah membeli es krim dan aku menunggu di belakangnya. Saat itu ada drum band yang melintas, dan aku mengikuti mereka. Aku lupa bahwa aku harus menunggu Ayah. Aku mengikuti drum band itu lalu tersadar kalau aku sudah jauh dari Ayah. Sekarang aku sendirian.

Aku menjadi takut. Tapi, Ayahku pernah berpesan bahwa aku harus menjadi anak yang berani. Maka aku memberanikan diri untuk bertanya pada orang lian, "Apa Ibu melihat Ayahku?" Ibu itu menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba, seorang anak menabrakku dengan sangat keras dan kami terjatuh. Aku ingin marah. Tapi Ayahku pernah berpesan kalau aku harus menjadi anak yang sabar. Jadi, saat anak itu meminta maaf, aku tersenyum dan memanfaatkannya.

Tak lama kemudian aku merasa lapar dan melihat sebungkus burger terjatuh. Aku ingin mengambil dan memakannya, tapi Ayah pernah berpesan kalau aku harus menjadi anak yang jujur. Burger itu kukembalikan kepada penjual burger.

Sambil menahan lapar, aku melihat seorang kakek meraba-raba tanah. Sepertinya, Kakek itu memerlukan pertolongan. Aku mencoba menghindar darinya, tapi aku teringat pesan Ayahku kalau aku harus menjadi anak yang suka menolong. Aku mendatangi Kakek itu. Ternyata, kacamatanya terjatuh. Aku pun membantu mencarinya dan menemukannya! Lalu, aku memberikan kacamata tersebut kepada Kakek itu.

Aku belum menemukan Ayahku. Akhirnya, aku menyerah dan menangis karena tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba, aku teringat pesan Ayah kalau aku harus menjadi anak yang pantang menyerah. Aku menghapus air mataku dan mulai berjalan lagi untuk mencari Ayah. Aku melihat pos satpam, lalu melapor pada satpam bahwa aku kehilangan Ayahku. Satpam itu pun mengumumkan informasi tentang aku yang terpisah dari Ayah dan memanggil nama Ayah.

Aku menunggu Ayah sambil mengingat pesan-pesan darinya. Ada satu pesan yang akan selalu kuingat, yaitu Ayah sangat mencintaiku. Tak lama kemudian, Ayah datang dan memelukku sambil mengingatkanku agar jangan terpisah darinya lagi.

Kami pun melanjutkan wisata di Pasar Festival sambil menyantap burger lezat yang dibeli Ayah. Aku mencintaimu, Ayah!

(Hal. 21-40)

close

Main menu