Welcome to Short story

short story detail

Piala Persahabatan


“Ribi pandai berhitung, lho.”
“Kalau Kiti, sudah pintar membaca.”
“Ribi selalu membantu membereskan meja.”
“Kiti juga membantuku tanpa disuruh.”
“Ribi sudah bisa berpakaian sendiri.”
“Wah, Kiti bisa melipat bajunya sendiri.”

Kiti bersama Mama bermain ke rumah Ribi hari ini. Mama Kiti mengobrol dengan Mama Ribi sambil menemani kedua anaknya bermain. Kiti dan Ribi mendengar obrolan mamanya. Mereka tidak suka dibanding-bandingkan.

“Benarkah Ribi lebih pandai dariku?”

“Apa benar Kiti lebih hebat?”

Keesokan harinya, Kiti belajar berhitung dengan tekun. Dia ingin dianggap pintar berhitung juga oleh mamanya. Ribi tidak mau kalah. Dia berusaha melipat baju-baju dengan rapi.

‘Siapa bilang hanya Kiti yang bisa melipat baju?’ pikir Ribi dalam hati.

Hari-hari berikutnya, Kiti dan Ribi terlihat semakin bersaing.

Siapa yang dapat berjalan lebih cepat?

Siapa yang mendapat nilai lebih bagus?

Suasana di sekitar mereka jadi kurang menyenangkan.

Hari ini Ibu Guru mengumumkan sesuatu.
“Kita akan menghias kelas. Pilih satu teman untuk dijadikan kelompokmu, lalu buatlah sebuah gambar yang sangaaaaaat bagus untuk ditempel di dinding kelas.”

Semua anak sibuk mencari pasangan. Hanya Kiti dan Ribi yang belum punya pasangan.
Akan tetapi, mereka tidak mau bekerja dalam satu kelompok. Kiti murung karena tidak mendapat pasangan untuk mengerjakan tugas. Dia menceritakan masalah itu kepada mamanya.

“Kenapa tidak berpasangan saja dengan Ribi? Bukankah kalian teman baik?”

“Mama bilang Ribi lebih pandai berhitung, bisa berpakaian sendiri, dan rajin membereskan meja. Aku tidak suka dibanding-bandingkan. Jadi, aku tidak mau sekelompok dengan Ribi!”

"Oh, tidak, Sayang. Itu Mama Ribi yang bilang. Ribi hebat, kamu hebat. Kalian berdua bisa jadi pasangan yang hebat!"

Di rumahnya, Ribi juga terlihat murung. Mama Ribi yang melihatnya kemudian bertanya. Lalu, Ribi menceritakan semua keluh kesahnya.

“Oh, gara-gara itu. Ribi, Mama hanya menceritakan kehebatanmu karena bangga padamu. Mama Kiti juga begitu. Kami tidak membanding-bandingkan, dan tidak ingin kalian bersaing gara-gara hal itu.”

Keesokan paginya, Ribi dan Kiti bertemu saat mereka sedang berjalan menuju sekolah.
“Ribi, aku ingin ....”
“Kiti, aku mau ....”
“Satu kelompok denganmu!”
Keduanya tertawa bersama dengan perasaan lega.
“Kita akan jadi pasangan kerja yang hebat!”

Hari ini semua murid membawa hasil karyanya. Ibu Guru menempelkannya satu per satu di dinding. Semuanya bagus, tapi menurut teman-teman, karya Ribi dan Kiti adalah yang terbaik.
Kiti dan Ribi tersenyum senang mendengarnya.

(Halaman 69 - 88)

close

Main menu