Welcome to Short story

short story detail

Nyanyian Rintik Hujan
Oleh: Min Hae


Di suatu pagi, suara tetes-tetes air hujan menyapa. Tetesan pertama diikuti oleh tetesan lain, lalu beberapa tetes lagi. Lalu hujan mulai turun.
Tik, tik, tik! Ada tetesan yang jatuh di atap. Ada juga yang jatuh ke tanah. Ada pula yang jatuh di atas daun-daun hijau.

Tetes-tetes air hujan bertambah besar sehingga alunan rintik hujan terdengar makin keras.
Tik, tik, tik! Tik, tik, tik! Byur, byurrr, byurrr!
Genangan air terbentuk di mana-mana dan airnya mulai mengalir.

Tetes-tetes air hujan mengalir membentuk sungai kecil.
Krok! Krok! Krok!
Beberapa ekor katak menyanyikan kecintaan mereka pada air.
Sssrrr! Sssrrr! Ssssrrr!
Beberapa ekor siput juga ikut menyanyi riang.

Sungai kecil yang terbentuk dari tetesan air hujan mengalir.
Wisss, wisss!
Wusss, wusss!
Swirrr, swirrr!
Nyanyian rintik hujan terdengar makin keras hingga ... wuush!

Aliran air hujan mengalir menuju sungai yang tenang. Tempat batang padi di sawah berayun-ayun diterpa angin.
Akan tetapi, pada saat aliran air hujan melewati kota, nyanyian rintik hujan lenyap.
Brrrum, brrrumm! Tin, tin!
Wusss! Nggg, nggg!
Nyanyian rintik hujan lenyap di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota.

Akhirnya, aliran air hujan tiba di lautan.
Krrsshh!
Aliran air hujan menyatu dengan laut menjadi ombak yang besar.

Pada hari yang tenang dan angin sedang tidak bertiup, Matahari bersinar dan mengajak air hujan bergabung dengannya di langit.
“Hei! Ayo naik ke langit,” ajak Matahari.
Lalu satu per satu tetes air hujan melayang naik ke langit.

Petualangan mereka di darat telah berakhir. Mereka pun menjadi awan dan memulai petualangan baru di langit. Tetes-tetes air hujan melayang naik ke langit dan menghasilkan pelangi yang berwarna-warni. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Sepanjang perjalanan naik ke langit, tetes air hujan bertemu dengan arus dingin udara. Tetes-tetes air hujan berubah menjadi salju dan mulai mengalunkan lagu baru.
Pip! Pip! Beberapa keping salju jatuh di atas atap.
Pip! Pip! Ada yang jatuh di tanah.
Pip! Pip! Ada juga yang hinggap di dahan-dahan pohon.

“Lihat! Salju turun!”
Kepingan salju mulai menyanyikan alunan lagu baru yang seirama dengan langkah kaki anak-anak. Tetes air hujan beku itu melekat erat di tanah, lalu tertidur. Ketika musim semi tiba, tetes air hujan mulai mengalun kembali.
Tik, tik! Tik, tik, tik! Byur! Byur! Wissh, wussh, swirrr!

(Halaman 167 - 194)

close

Main menu