Welcome to Short story

short story detail

Menara yang Tumbuh (The Growing Tower)


Oleh: Arleen A.


Ini rumahku. Ya, bangunannya paling rendah dibandingkan semua bangunan lain di kotaku. Itu tidak asyik! Kamarku terletak di salah satu sisi dan satu-satunya yang terlihat dari jendela kamarku adalah jalanan di depan rumah. Jika saja kamarku terletak di lantai dua, aku akan bisa berdiri di balkon dan melihat lebih jauh.

Keesokan paginya, ketika membuka pintu kamar, aku terkejut melihat anak tangga menuju ke bawah. Kamarku ternyata telah tumbuh semalam! Bukankah itu menakjubkan? Sekarang daru balkonku, aku dapat berkirim-kiriman pesan dengan teman di sebelah rumah. Tetapi aku tetap tidak bisa meraih apel yang ada di pohon. Jika saja kamarku lebih tinggi.

Keesokan paginya, ketika aku membuka jendela, seekor cacing sedang memandangiku. Cacing itu sedang duduk di atas sebutir apel. Percayakah kamu? Kamarku ternyata sudah menjadi lebih tinggi lagi. Sekarang aku tidak akan pernah kehabisan camilan sehat. Tetapi, aku tetap tidak dapat melihat sarang burung itu. Padahal aku sangat penasaran dengan jumlah butir telur di dalamnya. Jika saja kamarku lebih tinggi lagi letaknya.

Esok paginya, aku terbangun oleh suara ketukan pada jendela. Seekor burung sedang mematuk-matuknya. Ternyata kamarku sudah menjadi lebih tinggi lagi. Sekarang aku dapat melihat bahwa ada tiga butir berbintik-bintik di dalam sarang

Saat itu memang rumahku jadi terlihat sedikit aneh. Di salah satu sisinya, kau akan dapat melihat sebuah menara yang tinggi. Tentu saja ini asyik. Dari balkonku, aku kini dapat melihat begitu jauh. Jika saja kamarku bisa tumbuh sampai ke bulan.

Tidak, menara kamarku tidak tumbuh setinggi bulan. Tapi sekarang, rumah kecil kami telah menjadi bangunan tertinggi di seluruh kota! Pertamanya tentu saja itu luar biasa. Tapi seraya menaraku terus dan terus meninggi, jadi perlu waktu waktu lebih lama untukku untuk turun ke bawah. Sampai-sampai, setiap hari pasti aku terlambat ke sekolah.  Juga tentu saja lebih sulit untukku untuk kembali naik ke kamar. Sampai suatu hari, aku tertidur di anak tangga ketika sedang berusaha kembali ke kamar. Ah, jika saja kamarku kembali seperti sedia kala.

Ini rumahku. Ya, bangunannya paling rendah dibandingkan semua bangunan di kotaku. Aku asyik-asyik saja, kok.

 

(Hlm. 161-180)

close

Main menu