Welcome to Short story

short story detail

Ketika Aku Jadi Sepatu (The Day I Became a Shoe)


Oleh: Arleen A.


Aku tidak cukup tidur tadi malam. Itu karena aku lupa mengerjakan pekerjaan rumah, dan Ibu memarahiku. Memang lebih enak jadi orang dewasa atau bayi karena oranng dewasa dan bayi tidak punya pekerjaan rumah. Pada pagi hari, aku bangun dalam keadaan bau. Yah, bangun tidur dalam keadaan bau bukan hal yang aneh, bukan? Itulah sebabnya kita menyikat gigi dan juga mandi setiap pagi. Tapi pagi ini, aku merasa lebih bau dari biasanya.


Lalu aku tersadar bahwa aku berada di lantai, di antara sepatu bot kerja Ayah dan sandal kelinci Adik. Ya ampun! Aku hampir terjungkal karena kaget, tapi aku lalu sadar aku bahkan tak punya kaki. Aku telah berubah jadi sepatu ibuku!


Sebelum aku bisa mencerna situasinya, Ibu telah memasukkan kakinya ke dalamku lalu berjalan. Seraya kami menuju pintu, aku melihat dengan iri ke arah sepatu bot Ayah dan sandal Adik yang masih tidur. Aku tahu ke mana Ibu akan pergi.


Pasar ribut dan penuh orang walaupun masih pagi. Tanah yang kupijak kotor, berlumpur, dan bau. Kami harus berjalan cepat dari satu penjaja ke penjaja lainya, dan beban yang harus diangkat yang diangkat terus bertambah. Sandal jepit si penjual ayam tersenyum kepadaku. Sandal itu sudah tua dan sudah hampir putus. Aku melihat beberapa bekas gigitan. Pasti ada banyak tikus tempat tinggalnya. Aku benar-benar kotor dan bau ketika tiba di rumah. Tapi paling tidak aku tidak punya bekas gigitan tikus. Aku sedang berpikir kapan aku bisa jadi diriku sendiri lagi.


Namun, tiba-tiba aku malah berubah jadi salah satu sepatu bot Ayah! Aku merasakan kaki Ayah yang besar masuk ke diriku, lalu kami berjalan ke tempat kerja Ayah. Tempat kerja Ayah keren banget! Ada truk dan mesin derek di sana. Tapi aku dan pasanganku hampir saja remuk karena terkena batu bata yang jatuh. Kami harus lincah bergerak untuk menghindari paku-paku yang bersembunyi, yang siap menyakitiku dan kaki Ayah.


Aku sedang meringkuk di dekat sebuah paku besar berkarat ketika tiba-tiba, anehnya, aku mendapati diriku kembali berada di rumah. Apakah aku sudah menjadi diriku lagi? Ternyata tidak! Aku malah berubah jadi sandal adikku.


Aku mendesah nyaman ketika adikku berjalan dengan langkah-langkah mungilnya di atas lantai bersih yang telah dipel Ibu tadi. Jika aku harus jadi sepatu, rasanya aku memilih untuk jadi sandal Adik. Sandal Adik tidak pernah pergi ke tempat-tempat berbahaya. Tiba-tiba, sesuatu yang lengket dan bau menimpaku. Seolah itu belum cukup menjijikkan, cairan hangat yang bau pesing juga menghujaniku.


Tapi sebelum aku sempat protes, aku mendapati diriku di sekolah. Apakah aku jadi sepatuku sendiri kali ini? Ternyata tidak! Aku telah menjadi diriku sendiri! Aku begitu gembira sampai rasanya ingin memeluk guruku. Tapi aku cuma tersenyum.


Bu guru memberikan lebih banyak pekerjaan rumah daripada kemarin, tetapi aku tidak keberatan. Senyumku malah melebar. Di rumah, aku membuat Ibu kagum karena dengan cepat aku telah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Kubirakan Ibu penasaran.


(Hal. 1-20)

close

Main menu