Welcome to Short story

short story detail

Tojo Sakit Gigi
Oleh: Fery Yanni


Sudah beberapa hari ini di Desa Kuntili tercium bau menyengat yang tidak sedap. Bunga-bunga dan tanaman lain jadi layu, ternak-ternak besar pingsan, bahkan
hewan-hewan kecil banyak yang mati. Orang-orang di desa itu juga terkena penyakit pusing, mual, sesak napas, bahkan sering pingsan.

Para penduduk Desa Kuntili lalu mengadakan pertemuan di balai desa untuk mencari jalan keluar guna mengatasi masalah ini. Namun, semua menemui jalan buntu. Tak seorang pun tahu sumber bau ini.

“Paman, Bibi, biar saya dan Kiko yang mencari sumber bau ini. Kemudian, kita cari jalan keluarnya bersama-sama,” kata Pino.
“Ya, kami akan mencari asal bau ini. Tolong percayakan tugas ini kepada kami,” jawab Kiko meyakinkan.

Pino dan Kiko memantapkan langkah menuju arah utara, mengikuti jejak paling menyengat bau itu. Di sepanjang perjalanan, mereka melihat tanaman-tanaman yang layu dan hewan-hewan pingsan. Semakin jauh ke utara, semakin tajam pula bau itu. Mereka sampai harus memakai masker!

“Baunya semakin tajam,” kata Pino.
“Iya, hampir pingsan aku rasanya,” jawab Kiko sambil tertawa.

Tiba-tiba ....

“A-apa itu?” tanya Pino bingung.
“Aku juga tidak tahu ...,” jawab Kiko.

Setelah getaran itu berhenti, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Suara erangan itu terdengar beberapa kali. Semakin lama getaran yang ditimbulkan semakin kuat. Bau yang mereka cari selama ini juga semakin menyengat. “Sepertinya dari balik bukit itu,” kata Pino seraya menunjuk sebuah bukit.

Pino dan Kiko segera berlari menuju bukit. Napas mereka tersengal, apalagi bau tak sedap itu semakin tajam menyengat. Tapi mereka tetap semangat mendaki. Dengan susah payah mereka sampai di puncak bukit. Pino dan Kiko mulai mengamati keadaan di sekitar. Tak lama kemudian, terdengar kembali suara erangan itu. Kali ini suara itu bertambah keras dan bau tak sedap itu juga sangat tajam.

“Hei, Tojo! Apa yang kamu lakukan?” tanya Kiko. Tojo sang raksasa langsung menoleh, lalu dia kembali mengerang. Suaranya menggelegar dan bau tak sedap tercium makin tajam.

“AAHHHHH!!! Gigiku sakit sekali! Tolong akuuu!” teriak Tojo sambil meringis dan menitikkan air mata.

Sekarang Kiko dan Pino tahu. Sumber bau tak sedap itu ternyata dari mulut Tojo yang sedang sakit gigi. Rupanya Tojo tak pernah sikat gigi sehingga napasnya menjadi bau dan giginya sakit.

“Tojo, tunggulah di sini! Kami akan pulang ke desa. Jangan khawatir, kami akan kembali membawa tabib untuk mengobati sakit gigimu,” kata Pino dan Kiko. Tojo hanya mengangguk. Kiko dan Pino bergegas pulang.

Sesampai mereka di desa, orang-orang sudah menunggu. Tanpa buang waktu, Kiko dan Pino menceritakan tentang Tojo dan sakit giginya yang telah menimbulkan bau tak sedap selama ini.

“Antar aku ke tempat Tojo. Biar kuobati dia,” kata Tabib Oleng. Dengan mengendarai kereta kuda Tabib Oleng, mereka bertiga menuju ke puncak bukit.

Di sana, Tojo masih menunggu sambil memegangi pipinya. “Huhuhuu....”
Tabib Oleng lalu menyuruh Tojo membuka mulutnya. Sang tabib memeriksa mulut Tojo, lalu berkata, “Minumlah obat ini, Tojo.”

Tabib Oleng memberikan sebotol kecil cairan kepada Tojo. Tak lupa, Tabib Oleng juga memberikan sikat gigi dan pasta gigi supaya Tojo rajin menggosok gigi.

Setelah Tojo meminum obat dan menggosok giginya, perlahan-lahan bau tak sedap itu mulai menghilang, berganti bau yang segar. Secara ajaib, tanaman yang layu mulai bersemi dan segar kembali. Hewan-hewan yang pingsan mulai sadar. Sejak saat itu, Tojo menjadi rajin menggosok giginya supaya tidak sakit gigi lagi.

***
Pernahkah kalian sakit gigi? Bagaimana rasanya? Tentu tidak enak, bukan? Yuk, rajin gosok gigi, terutama sehabis makan dan sebelum tidur supaya gigi sehat dan tidak sakit gigi seperti Tojo.

(Halaman 21-40)



close

Main menu