Welcome to Short story

short story detail

The Paper Bird (Burung Kertas)


Oleh: Arleen A.


Dahulu ada sebuah burung kertas kecil yang berdiri di bingkai jendela. Setiap hari burung kertas ini memandang jalanan yang sibuk di depannya. Ia melihat banyak burung beterbangan yang sekali waktu hinggap di jalanan untuk memakan biji bijian yang dilemparkan orang. Ia ingin sekali menjadi salah satu dari mereka. Suatu hari, seorang gadis berhenti di depan jendela dan menunjuk ke arah si burung kertas kecil.

Lalu sebuah tangan mengambil si burung kertas dan memberikannya kepada si gadis. Si gadis memegang si burung kertas dekat dengan pipinya. Tapi, si burung kertas sibuk memandang bangunan dan awan dan burung-burung yang beterbangan. Ia ingin sekali menjadi salah satu dari mereka. Si gadis membawa pulang si burung kertas, dan meletakkannya di atas tempat tidurnya.

Si gadis lalu mengamati burung kertas itu dengan saksama. Ia melihat dari segala sudut. Ia menekuk sayapnya ke segala arah. 'Sekarang setelah ia menyadari bahwa aku bukan burung sungguhan, ia akan membuangku di tempat sampah', pikir si burung kertas dengan sedih. Tapi si gadis tidak membuangnya di tempat sampah. Ia menaruhnya di samping lalu sibuk sendiri. Si burung kertas hanya memandang ke luar jendela, memandangi burung-burung yang berkicau di atas tiang listrik. Ia ingin sekali menjadi salah satu dari mereka.

Keesokan harinya, si gadis meletakkan si burung kertas di dalam sebuah kotak dan membawanya. 'Oh, mungkin sekarang ia akan membuangku,' pikir si burung kertas. Kotak itu bergerak-gerak dan si burung kertas mengintip melalui lubang. Ia melihat burung-burung di atas ppohon. Ia ingin sekali menjadi salah satu dari mereka. Tiba-tiba kotak itu dibuka. Si burung kertas melihat banyak pasang mata melihat ke arahnya. Ia belum pernah setakut itu.

Si gadis mengeluarkannya dengan hati-hati dan meletakkannya di atas sebuah tempat istimewa. Lalu gadis itu berbicara pada banyak gadis kecil. Gadis-gadis itu memegang selembar kertas bewarna. Dan mereka pun melipat-lipat kertas itu. 'Oh, mereka membuat burung-burung kertas!' teriak si burung kertas dalam hati. Di luar jendela, banyak burung sedang berkicau. Tapi si burung kertas tidak memperhatikan. Ia sedang sibuk memandangi gadis-gadis kecil yang sibuk melipat kertas.

Sebentar kemudian, setiap gadis pun memegang seekor burung kertas. Burung-burung kertas baru itu terlihat bingung. Mereka memandang ke arah si burung kertas seolah meminta penjelasan. Tapi si burung kertas sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Ia sendiri juga bingung. 'Apa keistimewaan burung-burung kertas? Mengapa mereka membuat begitu banyak? Kami hanya bisa duduk diam', pikir si burung kertas. Setiap gadis memegang burung kertas mereka dekat dengan pipi. Semuanya memandangi burung kertas mereka dengan penuh sayang. Dan si burung kertas mendapati dirinya sendiri di tangan si gadis. Si gadis tersenyum padanya. Itu adalah senyuman terindah yang pernah dilihatnya. Dan si burung kertas tahu bahwa senyum itu memang untuknya.

Sejak hari itu, si burung kertas menemani si gadis ke banyak lagi sesi pembuatan burung kertas. Setiap kali, ia selalu duduk di atas tempat istimewanya, sibuk memandangi gadis-gadis cilik. Semua gadis cilik memandangi si gadis dengan tatapan memuja. Dan semua burung kertas baru akan memandangi si burung kertas, dengan pandangan penuh tanya. Dengan sorot matanya, si burung kertas menjawab, 'Semuanya akan baik-baik saja'.

Di luar jendela, banyak burung di atap, di jalan, di kabel listrik, di pohon, di mana-mana. Tapi sekarang, si burung kertas tidak pernah lagi ingin menjadi salah satu dari mereka.

(Hal. 61-80)

close

Main menu