Welcome to Short story

Short story

short story detail

Namdongsaeng

by Pratiwi Mayasari

FREYA masih ada di depan pintu walaupun pintu itu sudah menutup. Perkara “adik laki-laki”-nya itu selalu membuatnya pusing. Dia tahu benar Gio tadi mencoba menciumnya. Dan dia sangat menghargai usaha cowok itu untuk menahan niatnya.


Sebuah helaan napas panjang ia lepaskan sembari berbalik menuju ruang tamu. Diurut dadanya sendiri agar napasnya kembali teratur. Freya memang tak ingin Gio menciumnya, tapi tetap saja Gio itu sangat tampan. Freya yakin Gio adalah cowok idola di SMA-nya. Dan berada dengan jarak sedekat itu dengan Gio membuat napasnya sempat berhenti selama beberapa detik.


Freya menyambar ponselnya dari atas meja kopi, kemudian mengempaskan tubuhnya di atas sofa. Ia mencari nama sahabatnya—Roya—di daftar telepon kemudian menekan tanda gagang telepon berwarna hijau.


Halo?” Suara Roya menyambut panggilan itu. Ada lagu
Shape of You” dari Ed Sheeran melatari suaranya.
“Roro, kamu di mana?”
Di jalan, Frey. Lagi nyetir. Kenapa?
“Oh, ya udah. Nggak apa-apa. Nanti aja aku telepon lagi kalau nggak lagi sibuk—”
Kenapa memangnya?
“Soal Gio—”
Mendengar nama itu dia langsung berseru panik, “Tunggu, tunggu, tunggu. Aku nepi dulu. Tunggu, ya.”


Roya adalah satu-satunya yang tahu dilema Freya soal Gio. Freya tahu, hanya Roya yang bisa ia percaya. Mereka sudah berteman sejak kecil dan Roya tidak akan menghakiminya, seburuk apa pun tindakan yang Freya ambil.


Kenapa Gio?” Suara Roya muncul kembali. Kali ini hanya suaranya. Sepertinya dia sudah mematikan pemutar musiknya.
“Tadi dia coba-coba cium aku—”
HAH?! Yang bener?! Gila pisan!


Bukan. Roya bukan orang Sunda. Dia hanya suka memakai sembarang bahasa daerah.


“Akhirnya nggak jadi, sih. Tapi dari gelagatnya, aku tahu banget dia mau cium aku. Gimana nih, Roro? Semua tambah kacau.” Freya merengut sambil menendang-nendang di udara saking frustrasinya.
Tadi pagi bukannya kamu bilang mau bikin dia kapok?
“Udah, Ro. Aku berani sumpah tadi pintunya udah sengaja aku buka dan aku bikin scene sama Brandon pas dia bilang
mau ke kamar.”
Aduh, Frey. Aku ikutan bingung, nih. Menurutku, kamu jujur aja. Bilang sama dia, kalau kalian nggak mungkin bisa bersama.
Ini nggak cuma masalah umur, tapi hubunganmu sama Brandon juga.
“Iya… tapi…” Freya memijat kening. Rasanya sebentar lagi kepalanya akan pecah dan isinya berserakan di mana-mana.
“Aku nggak bisa, Ro. Dia itu rapuh banget. Inget kan aku cerita pas dia baru masuk ke apartemen ini? Mukanya murung, tatapannya kosong, hidupnya berantakan, dan dia nggak percaya siapa-siapa. Aku nggak mau gara-gara ini, dia balik lagi kayak dulu.”


Terdengar embusan napas Roya di pengeras suara ponselnya.


Freya, kamu bukan ibunya. Kamu nggak punya kewajiban apa-apa untuk memastikan hidupnya baik-baik aja.
“Bahkan kalau umur bukan masalah, aku nggak bisa sama dia. Aku cuma bisa sama Brandon. Sekarang aku nggak tahu
gimana caranya biar dia lepas dan cari cewek lain yang lebih pantas.”
Iya. Kamu harus cari cara, Frey. Gimana kalau misalnya dia tiba-tiba cium kamu di depan Brandon?
“Aduh, jangan dong!”
Ya makanya! Dia bisa aja kan nekat. Mending kamu lepasin dia daripada pertaruhin hubungan kamu sama Brandon yang udah tujuh tahun. Cowok kayak Brandon itu langka. Jangan dilepasin.
Freya terdiam beberapa saat. Ia baru ingat Roya tidak tahu apa yang ia sembunyikan tentang Brandon darinya. Astaga,
dia menyembunyikan banyak hal dari semua orang.
Frey?
“Iya. Aku coba sekali lagi. Kalau nggak berhasil juga, aku akan bilang terang-terangan ke Gio untuk jauhin aku.”


Freya mengakhiri panggilannya dengan Roya. Dilemparnya ponsel itu kembali ke atas meja. Freya sendiri tetap berbaring di sofa itu, memeluk bantal. Kepalanya menengadah ke
langit-langit, seakan-akan di sana jawaban kekalutannya sudah
tertulis jelas. Tentu saja, tidak ada apa-apa di sana. Dia harus membuat Gio mundur dan menjauh darinya karena
Brandon. Dulu, ini soal cinta.
Dulu.


(Halaman 15-18)

close

Main menu