Welcome to Short story

short story detail

Prince Mujahid Latihan Menahan Lapar
Oleh: Fadila Hanum dan A. W. Wibowo


Prince Mujahid adalah putra mahkota Kerajaan Seviyorum. Sejak umur enam tahun, Prince Mujahid ditinggal ayahandanya, Raja Ahmad yang wafat karena sakit.


Sebelum Prince Mujahid naik takhta, pemerintahan dipegang oleh Pamanda Patih Haidir di bawah pengawasan Ratu Khansa, ibunda Prince Mujahid.

“Wah, nikmatnya,” sorak Prince Mujahid saat pesta makan buah bersama keluarga kerajaan.

Prince Mujahid tidak pernah melewatkan pesta makan. Dia pun selalu minta disediakan banyak makanan. Ibundanya tidak pernah melarang kegemarannya itu.

Beberapa bulan kemudian, Kerajaan Seviyorum dilanda musim paceklik. Banyak lahan pertanian yang gagal panen karena serangan hama. Persediaan makanan di lumbung kerajaan semakin sedikit. Jika tidak menghematnya, rakyat Seviyorum terancam kelaparan.

Ratu Khansa, Pamanda Patih Haidir, dan para pejabat kerajaan mengadakan pertemuan. Setelah dipertimbangkan dengan matang, akhirnya Ratu Khansa membuat satu keputusan.

“Mulai pekan ini, rakyat diwajibkan berpuasa setiap Senin dan Kamis, tak terkecuali keluarga kerajaan. Diharapkan, seluruh rakyat dapat menghemat cadangan makanan sampai musim kembali normal.”

Prince Mujahid yang mendengar keputusan tersebut, segera menemui Ratu Khansa. “Ibunda, akhir pekan depan tetap diadakan pesta
makan, bukan?” tanyanya cemas.

“Tidak lagi anakku,” jawab Ratu Khansa datar.

“Tapi, Ibunda ….”

“Negeri kita sedang dilanda paceklik. Tak baik jika kita terus berpesta, sedangkan rakyat berpuasa menahan lapar,” jawab Ratu Khansa.

“Oh ya, Senin ini kamu mulai ikut puasa, ya?” ajak Ratu Khansa yang membuat Prince Mujahid melongo tak percaya.

Hari Senin, Prince Mujahid terpaksa menjalankan puasa. Rasanya berat sekali. Detik demi detik berjalan begitu lambat. Prince Mujahid sempat menyerah dan pergi ke ruang makan. Sayangnya, di sana tidak ada apa pun.

“Prince harus kuat. Puasa adalah latihan melawan hawa nafsu,” pesan Ratu Khansa.

Tiba waktu berbuka puasa, Prince Mujahid ingin memakan semua yang ada di meja makan. Namun, yang terhidang hanya tiga buah kurma, sepiring nasi, ikan goreng, dan segelas air mineral.

“Aku sangat lapar, Ibunda,” lirih Prince Mujahid.

“Dinikmati dulu, Anakku. Jangan lupa baca doa,” ujar Ratu Khansa lembut.

Keesokan harinya, Prince Mujahid tidak berpuasa. Tapi, sarapan yang terhidang hanya sepotong roti dan segelas susu. Prince Mujahid hendak protes, tapi Ratu Khansa sudah terlebih dahulu bicara.

“Hari ini, temani Patih Haidir berkeliling ke desa-desa kerajaan. Ada yang ingin beliau tunjukkan padamu.” Prince Mujahid tak bisa menolak.

Tiba di sebuah desa, mereka menambatkan kuda dan berjalan kaki melewati rumah-rumah, pasar, sampai ladang bercocok tanam. Selama perjalanan, Prince Mujahid lebih banyak diam. Dia melihat sendiri bagaimana keadaan rakyatnya yang begitu memprihatinkan.

Prince Mujahid meminta izin berteduh di salah satu rumah penduduk milik seorang ibu dengan lima anak.

“Kalian mau?” ujar Prince Mujahid saat membuka bekal makanannya. Mereka menggeleng. Anak tertua menjawab,

“Kami sedang puasa.”

“Oh, maaf, aku tidak tahu. Tapi bukannya ini hari Selasa?” tanya Prince Mujahid.

“Iya. Tapi makanan kami hanya cukup dimakan satu kali sehari,” jawab anak itu sambil tertawa. Prince Mujahid terdiam. Dia tersadar. Saat dia hanya memikirkan jatah makanan yang dikurangi, ada rakyatnya yang harus menahan lapar setiap hari.

Alhamdulillah, Prince Mujahid mau belajar menahan lapar melalui puasa. Dia telah berjuang melawan hawa nafsu (mujahidun linafsih) dengan mengendalikan kesenangan di dunia, antara lain harta dan makanan.

Rasulullah bersabda dalam haditsnya, “Tidak beriman seseorang dari kamu, sehingga dia menjadikan hawa nafsunya tunduk pada ajaran Islam yang aku bawa.” (HR. al-Hakim)

(Halaman 71-84)

close

Main menu