Welcome to Short story

Short story

short story detail

16 Januari 2008

by Nellaneva

Namaku Remi dan aku adalah gadis paling aneh sekomplek perumahan (karena menulis “sedunia” akan hiperbolis). Tidak, aku bahkan tidak pantas menyebut diriku seorang gadis. Anak bengal, begundal culun, alien terkucil; barangkali tiga sebutan tersebut lebih tepat.

Yang paling penting, kamu tahu namaku dan tidak akan bertanya-tanya lagi siapa pemilik diari ini.

Keputusanku menulis buku harian (lagi) agak jauh dari ekspektasi.
Terakhir kali aku menulis buku harian adalah pada bulan pertama aku masuk SMA. Lima lembar terakhir hanya tertulis “INGIN MATI” berulang kali. Masih ada sedikit tetesan darah ketika dengan konyolnya aku mau mengiris pergelangan tanganku, tetapi terlalu pengecut untuk melakukannya. Saat itu, aku jadi harus terus-terusan mengenakan kaus lengan panjang atau jaket selama beberapa minggu demi menutupi bekas lukaku. Ya, aku tidak bangga. Jangan melihatku dengan tatapan menghakimi itu, Para Pembaca dan Remi Masa Depan.

Kembali ke tujuanku menulis buku harian (lagi).

Tadi malam, aku bermimpi seram. Sepertinya umurku sudah lima puluhan dan aku hidup sendirian di rumah kusam yang telantar. Aku tidak menemukan orangtuaku, kakakku, juga adik-adikku. Aku punya banyak kucing, tetapi tak satu pun mau kupangku. Mereka hanya mendatangiku untuk minta makan lalu melengos kabur selepas kenyang. Anak-anak kecil melempari rumahku dengan batu sambil melontarkan ejekan dan cekikikan. Ibu-ibu rumah tangga saling ber-bisik dalam gosip acap kali melewati rumahku. Tidak ada telepon di dalam rumah, lagi pula siapa yang akan kuhubungi? Apa aku punya kawan atau kerabat? Aku bahkan tidak terpikir siapa-siapa.

Ketika aku melihat pantulan diriku lewat cermin, aku nyaris menjerit (tidak benar-benar menjerit sih karena aku sedang tidur). Helai-helai rambutku putih semua, pakaianku lusuh compang-camping, dan kulitku kusut berkeriput.

Yang paling parah, aku menikmati masa tuaku sendirian.

Aku pun terbangun, seketika menangis.

Saat ini, pada usiaku yang ke-16, aku santai-santai saja dengan kondisiku yang tak berkawan tak berlawan. Aku punya televisi, musik, dan novel untuk menemaniku. Stok mereka seakan tiada akhir. Tayangan-tayangan mutakhir, juga lagu-lagu psychedelic itu seakan memboyongku kabur dari dunia untuk sejenak. Namun... bila empat puluhan tahun kemudian aku masih begini, sungguh gawat.

Kuingat pakar psikoanalisis bernama Sigmund Freud pernah bercerita dalam satu bab karyanya yang berjudul Anxiety, seorang bocah me-miliki ketakutan terhadap gelap kecuali ketika sang bibi berbicara kepadanya. Bocah itu pun bertutur, “Ketika seseorang berbicara, sekitarku menjadi lebih terang.”

Kurasa aku serupa si bocah anonim itu: membutuhkan seseorang untuk diajak bicara dan melepas kesendirian.

Lalu aku sadari aku memang harus... berubah. Sebelum semuanya terlambat.

(Halaman 6-8)

close

Main menu