Welcome to Short story

short story detail

Sahabat untuk Si Kelinci Kecil (A Friend for a Bunny)


oleh: Arleen Amidjaja


Suatu pagi yang indah di musim semi, seekor kelinci putih kecil terbangun di lubangnya. Dia keluar untuk melihat dunia. "Ibu akan mencari wortel. Apa yang akan kamu lakukan hari ini?" tanya ibunya. Si kelinci putih kecil memandang sekelililngnya dan berkata, "Aku juga akan mencari sesuatu." Dan dia pun pergi.

Ketika dia melewati kolam, dia bertemu dengan seekor katak muda. "Kung kong! Kamu hendak ke mana, Kelinci Putih Kecil?" tanya si katak muda. "Aku akan mencari seorang teman untuk diriku," kata si kelinci. "Seperti apa rupa seorang teman itu?" tanya si katak. Kelinci kecil berpikir sejenak lalu menjawab, "Yah, rasanya dia punya dua telinga panjang dan sebuah ekor pendek seperti punyaku.'' "Oh, aku tidak seperti itu. Tapi aku akan membantumu mencari teman itu," kata si katak. Lalu mereka berangkat.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan seekor burung kecil. "Cuit! Kalian hendak ke mana, Kelinci dan Katak?" tanya si burung. "Kami sedang mencarikan teman untuk Kelinci Kecil. Apakah kamu melihat sesuatu dengan dua telinga panjang dan ekor kecil?" tanya si katak. "Yah, aku tidak punya dua telinga panjang. Tapi aku dapat membantu mencarikannya. Aku bisa terbang, jadi lebih mudah bagiku untuk mencarinya," kata si burung. Dan bertiga mereka melanjutkan perjalanan.

Pada siang hari, mereka telah mencari ke sana-kemari. Tapi tetap saja mereka tidak menemukan sesuatu yang punya dua telinga panjang dan satu ekor kecil. Si kelinci kecil jadi sedih. Si katak muda menyanyikan lagu untuk menghibur si kelinci. Si burung kecil berakrobat di udara. Si ayam kecil mengambilkan beberapa wortel lagi dari peternakan. Lalu mereka beristirahat.

Tiba-tiba mereka mendengar suara ribut di semak-semak. "Semuanya mundur. Biar kupastikan dulu apakah ini aman!" kata si burung kecil. Dan dia pun terbang menuju semak-semak. Ketika kembali, si burung membawa kabar baik. "Di balik semak-semak ada sesuatu yang punya dua telinga panjang dan atu ekor kecil!" katanya. Si kelinci, katak, ayam, dan burung pun menuju semak-semak.

Benar saja, ada seekor kelinci kecil di sana. Kelinci putih kecil segera bertanya, "Hai, maukah kau jadi temanku? Kau punya dua telinga panjang dan sebuah ekor kecil, seperti diriku!" Kelinci itu pun memandang kelinci putih kecil. Lalu dia memandang si katak, si burung, dan si ayam kecil.

"Tentu! Aku mau menjadi temanmu. Dan kamu beruntung sekali sudah punya banyak teman!" katanya. Si kelinci putih kecil memandang rekan-rekannya. Dia memandang si katak kecil. Dia memandang si ayam kecil. Dia memandang si burung kecil. Ketiganya tidak punya telinga panjang dan ekor kecil seperti dirinya. Bahkan si katak kecil tidak punya ekor sama sekali. Tapi dia sadar mereka telah ada di sana untuk dirinya, dan mereka telah melakukan semua yang mereka bisa untuk membantunya. Dia memang benar-benar punya banyak teman.

"Ayo, Teman-teman, kita bermain!" katanya. Dan mereka berlima sama-sama menikmati sore hari di musim semi yang indah itu. Dan ketika matahari terbenam, si kelinci putih kecil pulang ke lubangnya. "Apakah kamu menemukan apa yang kamu cari?" tanya ibunya. "Ya! Banyak! Dan besok aku akan mencari lebih banyak lagi," kata si kelinci putih kecil seraya bergelung untuk tidur.

(Hal. 1-20)

close

Main menu