Welcome to Short story

short story detail

Bertualang di Teluk Mayalibit


oleh: Widya Ross


Di sebuah rumah, seorang anak laki-laki bernama Michael sedang merajuk pada ayahnya. "Hari ini adalah hari ulang tahunku yang kesembilan. Aku mau hadiah," kata Michael.

Papa Michael yang sedang membakar ikan pun heran. "Selama ini kamu tidak pernah minta hadiah. Kamu bisa hidup sehat selama sembilan tahun, bukankah itu juga hadiah?" tanya Papa Michael.

Michael masih saja merengek. Dia bahkan tidak mau menyantap ikan bakar yang sudah matang. "Tadi ada turis bilang kalau liburannya ke Raja Ampat adalah hadiah ulang tahun dari orangtuanya," Michael menjelaskan. "Kamu tidak perlu meniru dia, Michael. Kita tidak punya cukup uang untuk liburan," Mama Michael berkata sambil meletakan kuah berwarna kuning di meja. "Aku ingin hadiah," Michael cemberut. Papa Michael memandangi putranya beberapa saat.

"Baiklah. Sabtu malam nanti, papa akan memberimu hadiah. Tapi sepulang sekolah, kamu harus tidur yang lama, ya," Papa mengedipkan mata. Mama sepertinya masih tidak mengerti. Dia hanya memandangi Papa kebingungan. "Papa mau kasih hadiah apa untuk Michael? tanyanya. Papa hanya tersenyum dan malah meminta Michael untuk menghabiskan makanannya.

Sabtu malam kurang empat hari lagi. Namun bagi Michael, waktu bergerak selambat cacing berjalan. Dia sudah tak sabar menunggu datangnya Sabtu malam.

Akhirnya, Sabtu malam pun tiba. Michael lalu menagih janji Papa. "Kita akan berangkat," ujar Papa. "Ke mana, Pa?" tanya Michael. "Mencari ikan," sahut Papa. "Itu hadiah yang kurang bagus!" jeritnya karena kecewa mendengar jawaban Papa.

Papa tersenyum. "Tahu dari mana kalau kurang bagus? Kamu, kan, belum pernah ikut Papa mencari ikan. Kamu juga belum pernah tahu rasanya bertualang di Teluk Mayalibit pada malam hari, kan?"

Michael tidak bisa berkata apa-apa. Papa benar, Michael belum pernah ikut menangkap ikan. Tapi tetap saja, Michael kurang puas. Dia menginginkan hadiah yang lebih menarik daripada menangkap ikan. Apa asyiknya menangkap ikan?

"Pokoknya kalau aku tidak gembira, aku mau hadiah yang lain," ketus Michael. Mama tersenyum lalu mengusap-usap rambut Michael, "Selamat menikmati petualanganmu."

Michael dan Papa pun naik perahu. Papa meletakkan lampu petromaks di ujung depan perahu. Perahu mulai bergerak di atas air, dan hanya ada kegelapan di sekeliling mereka. "Kenapa semuanya gelap? Kenapa cuma perahu-perahu saja yang terang? desis Michael. "Coba intip ke sisi perahu, Michael," kata Papa sambil terkekeh.

Michael memekik tertahan. "Astaga! Papa! Ikan-ikan mengikuti kita. Banyak sekali!"

"Itu ikan lema. Mereka mengikuti lampu petromaks kita. Jadi, kita tidak perlu bersusah payah menangkap ikan," Papa menjelaskan.

Michael melongo memerhatikan ratusan ikan berenang di sisi perahunya. "Kurasa tidak. Mereka mengikuti kita karena aku berulang tahun. Mereka hendak merayakannya bersamaku," Michael mulai mengkhayal.

Perahu lalu masuk ke sebuah lingkaran batu. Papa pun mengajak Michael turun lalu menyerahkan serok besar pada Michael. "Sekarang, ambil ikan-ikannya dan masukkan ke dalam perahu," kata Papa. Wah, dengan penuh semangat Michael menyerok ikan-ikan yang terperangkap di dalam lingkaran batu! Ada banyak sekali ikan yang berhasil dia masukkan ke dalam perahu. Michael sesekali menjerit bila ada ikan yang melompat.

Setelah menyerok ikan, Papa Michael membawa perahu kembali ke laut. Michael bersenandung lembut sambil terus memerhatikan ikan-ikan berenang di sampingnya. Saat malam sudah mulai larut, Papa dan Michael pun pulang. Michael sepertinya sudah mengantuk.

Setibanya di rumah, Mama pun menyambut mereka. "Bagaimana, Michael? Menyenangkan?" tanya Mama. "Iya, Ma. Menyenangkan sekali. Aku merayakan ulang tahun bersama ikan lema," balas Michael setengah mengantuk.

Malam semakin larut. Setelah berganti baju, Michael pergi tidur. Dalam tidurnya, dia bermimpi menjadi raja laut. Kemudian, ikan-ikan lema yang berpakaian indah mendatangi Michael sambil membawa kotak emas.

Ikan-ikan lema itu menyanyikan lagu, "Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun, oh, Michael, semoga panjang umur." Michael pun terlelap dengan bibir tersenyum.

TAHUKAH KAMU?

Teluk Mayalibit berada di Kepulauan Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat.

Konon, nama "Mayalibit" berasal dari kata "Maya", yakni suku yang tinggal di pulai ini.\

Para penduduk Teluk Mayalibit sangat peduli lingkunga, lho. Masyarakat di sana juga patuh pada ketentuan adat yang ada, seperti tidak menangkap ikan lema atau ikan kembung terlalu banyak saat masa bertelur. Hal itu dilakukan supaya jumlah ikan lema tidak habis.

Penduduk Teluk Mayalibit menangkap ikan dengan cara sederhana yang disebut "Balobe Ikan Lema". Pada malam hari, penduduk mendayung perahu sambil meletakkan lampu di ujung perahu. Nah, ikan-ikan lema akan mengikuti sinar lampu itu.

(Hlm. 78 - 91)

close

Main menu