Sewelas
Terlahir sebagai pematah kutukan di desa yang kekeringan panjang, hanya satu yang Mangara inginkan: mati.
Namun, empat makhluk dari empat penjuru mata angin selalu menahannya.
Kehadiran seorang gadis pun membuka tabir rahasia; makhluk-makhluk itu adalah perwujudan dari sedulur papat-nya. Air ketuban, plasenta, darah, dan tali pusar. Sosok-sosok itu adalah bagian dari diri dan takdirnya sendiri.
Mengapa Mangara dihantui makhluk-makhluk itu?
Apa kaitannya dengan desa yang dikutuk?
Terlebih, mengapa dirinyalah yang menjadi pematah kutukan?
| Author | : | Ika Agustina |
| Price | : | Rp 95,000 |
| Category | : | MYSTERY & THRILLERS |
| Page | : | 232 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 13 X 19 |
| ISBN | : | 9786230424564 |
| Publication | : |
“Tarik napas lagi! Tahan sebentar!” Dahi Marlia dihiasi butiran-butiran keringat sebesar jagung, sedangkan satu tangannya memberikan arahan di udara. Pandangan matanya waspada. Ia bersiap menyambut kepala bayi yang sudah menyembul keluar dari jalan lahir. “Buang pelan-pelan. Iya, begitu—” Marlia menelan ludah.
Satu detik berlalu terasa amat lambat, sebelum akhirnya tangis kelahiran membahana memenuhi ruang. Marlia membantu menarik bayi laki-laki itu. Senyum tipis terukir di bibir Marlia. Ia segera memberikan bayi mungil terbalut lendir dan darah itu kepada sang ibu.
Seperti perempuan-perempuan lain yang pernah Marlia tangani, ibu muda itu bercucuran air mata. Raut kesakitan saat mengejan telah lenyap. Namun, kebahagiaan itu sirna ketika tiba-tiba pintu kamar menjeblak terbuka.
“Bunuh anak itu!” Bapak sang bayi itu menerobos masuk. Murka.
“Dia akan hidup, Mas,” ujar istrinya lemah. Perempuan itu mengulurkan bayinya kepada Marlia. Tangan sang bidan kemudian menjangkau kain persegi yang sudah disiapkan, menyelimuti bayi itu dengan hati-hati.
“Berikan dia kepadaku, Mar!” Pria itu mendekati Marlia.
Marlia menjauh dari jangkauan tangannya. “Tidak akan kubiarkan kamu menyentuhnya.”
“Kamu tidak lihat sungai mulai surut? Mereka menghukum desa ini. Mereka menghukumku, Mar. Dia terlahir di malam Kamis Kliwon, hari Lakuning Banyu. Dia akan tetap mati di usia ke-20. Anak itu akan melebur bersama air yang mengakhiri bencana kekeringan ini,” terang pria itu sambil menunjuk ke arah pintu. Dagu dan lehernya yang melepuh terlihat kemerahan.
“Mas, dengarkan aku. Waktuku tidak banyak.”
Marlia memandang sang ibu muda yang wajahnya sepucat tembok, kemudian beralih pada pria yang berdiri di depannya—tangannya gemetar, matanya berair.
“Berjanjilah kepadaku kamu akan membesarkannya.” Perempuan yang berbaring itu kembali berucap. “Kamu boleh gagal menjadi manusia yang baik, tapi aku harap kamu tidak gagal menjadi bapak yang baik.”
“Aku tidak mau membesarkan anak yang nantinya akan menjadi tumbal desa ini.”
Helaan napas terdengar sebelum sang ibu berucap, “Namanya Mangara Wardana. Mangara, supaya nanti dia bisa memberi petunjuk bagi hidupnya. Dan, Wardana sebagai pengingat bahwa dia adalah anakmu, putra Pradana.”
“Dia bukan anakku, Asmarani. Mulai saat ini, dia sudah menjadi milik… mereka.”
RECOMMENDED FOR YOU Explore More