When Our Summer Meet Again
Hiduplah sebaik mungkin hingga kalian merasa tidak masalah jika harus mengulangi kehidupan ini sekali lagi.
Yeo-reum yang dinyatakan meninggal karena kecelakaan lalu lintas, mendapat kesempatan kedua untuk hidup kembali selama satu tahun. Di antara momen-momen hidupnya, ia ingin menemui Yu-hyeon, laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.
Laki-laki yang selalu berwajah riang itu pernah mewarnai hidupnya, tapi Yeo-reum mencampakkannya. Ia tidak ingin menyesal untuk kali kedua.
Seandainya saat itu Yeo-reum memilih laki-laki itu, apakah hidupnya akan berubah?
| Author | : | Bombinoon |
| Price | : | Rp 1 |
| Category | : | ROMANCE |
| Page | : | 296 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 13.5 X 20 |
| ISBN | : | 0 |
| Publication | : |
“Friedrich Nietzsche pernah berkata bahwa hidup yang sedang kita jalani sekarang akan terus berulang selamanya. Apakah kalian akan menjadikan hidup yang hanya sekali ini dengan penuh penyesalan, atau menjadikannya kehidupan yang ingin kalian jalani kembali. Keputusan itu ada di tangan kalian. Hiduplah sebaik mungkin hingga kalian merasa tidak masalah jika harus mengulangi kehidupan ini sekali lagi. Ini kuliah terakhir kita di semester ini. Selamat menikmati liburan musim dingin.”
“Terima kasih, Profesor.”
Para mahasiswa memberi salam dengan riang setelah mendengar berita bahwa kuliah telah resmi berakhir.
Biasanya aku akan langsung berjalan keluar kelas, tapi hari ini aku berdiri di mimbar, memandangi para mahasiswa yang sedang merapikan barang-barang mereka. Profesor Shin yang baru diangkat juga mengambil konsentrasi filsafat modern, jadi aku tidak punya tempat untuk berdiri lagi. Saat aku hendak meninggalkan ruangan 301—tempatku mengajar selama tiga tahun, berbagai kenangan selama ini melintas di pikiranku.
Beberapa mahasiswa jurusan lain yang berbondong-bondong keluar kelas dan melangkah di belakang kerumunan mahasiswa Filsafat berbincang tentang Natal. Mahasiswa terakhir yang keluar dari kelas adalah pasangan dari jurusan arsitektur. Meski berbeda jurusan, mereka tetap mengikuti kelas filsafatku selama dua semester. Hal itu membuatku merasa bangga dan mengingat kehadiran mereka. Si mahasiswi yang berpostur mungil dan berambut hitam pendek itu mengambil syal di atas kursi, lalu melilitkan syal pada lehernya. Sementara si mahasiswa itu memasukkan tablet ke tas, mengetuk layar ponselnya beberapa kali, dan memperlihatkannya pada sang pacar. Ketika pacarnya tersenyum dan mengangguk, mahasiswa itu memberikan satu sisi earphone nirkabel berwarna putih padanya. Mereka masing-masing menyematkan earphone di salah satu sisi telinga, dan menaikkan ritsleting mantel mereka. Aku berpura-pura tidak memperhatikan mereka dan sibuk dengan laptopku agar mereka tidak merasa diawasi.
“Profesor Baek Yeo-reum. Kami berencana mengambil kelas Profesor lagi semester depan. Hidup seperti Profesor adalah impian saya.”
Mahasiswi itu bicara dengan suara bergetar sambil melepas earphone di telinganya. Melihat sorot mata yang seolah-olah mengagumiku itu membuatku hanya mampu membalasnya dengan ucapan singkat dan formal yang menyatakan semoga liburan musim dinginnya menyenangkan. Barangkali dia menyamakanku dengan Friedrich Nietzsche. Ironisnya, meski aku mengajarkan tentang filsafat Friedrich Nietzsche yang mencintai kehidupan, hidupku sendiri penuh dengan penyesalan. Lebih buruknya lagi, aku bahkan tidak punya keberanian untuk mengubah hidupku menjadi lebih baik. Ucapan gadis itu membuatku kembali berhadapan dengan diriku yang sebenarnya, dan membuat wajahku memanas karena malu.
RECOMMENDED FOR YOU Explore More