Serangkai Edisi Koleksi
Tetapi bukan masalah kalau kita nggak selalu bisa berani, Deverra. Karena manusia bukan hanya lahir dari tulang, melainkan juga hati. Semesta bukan hanya menciptakan tubuh, melainkan juga rasa. Dan waktu bukan hanya tentang hari esok, melainkan juga kemarin."
Kecelakaan di perhelatan Grand Prix Formula 1 membawa Kai Deverra yang masih merayakan penyesalan ditinggal kekasih lamanya kepada Karina Maladivas Nota yang baru pulang dari kesepian.
Setangkai cerita kesedihan Deverra menyatu dengan setangkai cerita kesunyian Divas, membentuk serangkai cerita untuk mengenang yang hilang.
Tentang Deverra, Dari Divas, untuk Zacchio.
| Author | : | Valerie Patkar |
| Price | : | Rp 1 |
| Category | : | ROMANCE |
| Page | : | 400 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 13 X 19 |
| ISBN | : | 0 |
| Publication | : |
Kehilangan selalu dimulai dari cinta yang patah.
Biasa dimulai dari sepasang yang putus, erat yang pisah, rekat yang lepas.
Namun kehilangan di sini dimulai pada pohon yang buahnya jatuh meskipun nggak jauh dari pemiliknya.
Dari keripik balado yang terbiasa habis, kemudian masih terisi penuh di dalam stoples.
Sepatu baru yang nggak pernah terpakai karena nggak ada yang mengingatkan.
Lagu yang selalu terputar tanpa pendengar.
Dan seni yang nggak kunjung selesai di dinding bawah kolong jembatan Ciputat.
Kehilangan versi mereka.... berbeda.
“Divi!” Nggak ada yang berubah dari seorang Karina Maladivas Nota. Sama seperti rumahnya yang juga nggak pernah berubah. Setiap pukul 6 sore, dia akan selalu menyendiri di ruang istirahat Rumah Sakit Adisoebroto. Hasil tes dari psikiater menunjukkan kalau dia negatif PTSD, tapi bukan berarti Divas nggak perlu waktu untuk menyembuhkan diri. Sampai sekarang, Divas masih berusaha, dan gue selalu bersamanya. Sesekali kami akan pergi ke kolong jembatan di Ciputat, menikmati angin sore sambil memakan Batagor Kang Aji.
Dan ketika pulang, Om Bhima akan duduk di ayunan kayunya sambil merokok. Sepatu pantofel pemberian Divas sudah dia kenakan setiap hari meskipun sepatu lamanya selalu tersimpan rapi di sebuah kotak dalam kamarnya.
Tante Nia akan tetap bercerita tentang masa mudanya yang menyenangkan sambil memastikan kalau keripik balado di stoplesnya selalu terisi penuh.
Kehilangan bukan mayat yang bisa dikubur tanah hari esok.
Kehilangan ialah nyawa yang tumbuh besar bersama meskipun hari tak lagi elok.
“Divas, ayo temenin gue jalan.”
Valerie Patkar
RECOMMENDED FOR YOU Explore More