Desibel
Saat menempuh studi magister di Liverpool, Alia berusaha menata masa depan dan melupakan luka-luka lamanya. Sebagai seorang penyandang disabilitas, ia hanya ingin dunia berjalan dengan tenang. Namun, takdir mempertemukannya dengan Aria, seorang dokter asal Indonesia yang menyeretnya ke dalam sebuah perjalanan yang tak pernah ia duga.
Di antara sunyinya dunia dan dinginnya kota-kota di Britania Raya, hidupnya mendadak berubah riuh. Ujian persahabatan, konflik keluarga, dan rasa kehilangan yang mendalam mendadak datang menghantam, bagaikan derau bising yang tak bisa dihindari. Alia dipaksa mendengarkan apa yang selama ini ia abaikan. Akankah Alia mampu mengurai derau-nya menjadi harmoni baru baginya? Akankah Alia mampu menemukan desibel yang selama ini ia dambakan?
| Author | : | Asroruddin Zoechni |
| Price | : | Rp 1 |
| Category | : | MEMOIRS |
| Page | : | 392 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 13 X 19 |
| ISBN | : | 0 |
| Publication | : |
Perth, Mei 1996
Mereka menunggu di depan kamar operasi, Operating Theatre
of St John of God Hospital dengan harap-harap cemas. Sebetulnya
mereka diperbolehkan masuk ke dalam kamar operasi, tetapi
keduanya tak tega melihat prosedur operasi yang membuat
ngilu bagi siapa saja yang melihatnya. Sekitar dua jam yang lalu,
mereka masih merasa belum siap melepaskan seorang anak perempuan
yang menginjak usia tiga tahun itu memasuki ruang
operasi. Gadis kecil itu, dengan cara berbicaranya yang belum
sempurna, tampak tenang terduduk di atas kursi roda dengan
baju berwarna hijau, sebelum akhirnya perempuan itu memeluknya
erat cukup lama, sambil meneteskan air mata. Sang suami
pun ikut terharu, mencoba menenangkan perasaan sang istri
yang campur aduk.
“Ini memang harapan terakhir kita, Bu. Mari kita ikhlaskan
apa pun hasilnya. Sabar ya, Bu.” Lelaki muda itu tak kuat menahan
air mata yang mulai menggenang.
Operasi pada organ penting putri mereka membuat Bimo
dan Dyah cukup terguncang. Operasi dilakukan oleh ahli bedah
ternama di rumah sakit terkenal di Perth. Dyah tak henti-hentinya
terisak sejak gadis kecil itu memasuki ruang operasi. Bimo
pun melakukan hal yang sama. Namun, Bimo sengaja memasang
wajah tersenyum kepada Dyah sebagai simbol kesabaran
dan kekuatan. Sesungguhnya, hati Bimo juga basah dan remuk,
melihat putrinya tak berdaya terbaring di atas meja operasi.
Bimo akhirnya memberanikan diri masuk ke ruang operasi,
dan melihat langsung proses operasi dari layar monitor yang
terpampang jelas di dinding kamar operasi. Tahap demi tahap
tindakan operasi pada organ sisi kanan dimulai. Sang dokter
melakukan irisan awal dengan pisau paling tajam, menembus
tubuh gadis itu, mulai dari kulit, otot, sampai ke tulang. Suara
suction yang menyerap darah pun terdengar, dan tak lama kemudian
terdengar pisau dan bor yang memahat tulang kepala
bagian temporal, yang menimbulkan suara berdecit. Bimo yang
memakai masker, merasakan rasa ngilu yang teramat tajam. Ia
berusaha tegar sekuat mungkin, hingga tak sadar air matanya
kembali menetes. Semakin lama semakin deras, membasahi
baju seragam kamar operasi berwarna hijau tua.
Setelah mengusap aliran air mata, Bimo merasa tak kuat
menyaksikan lebih lanjut live surgery itu. Ia memilih berada di
recovery room, sambil memeluk erat Dyah.
“Kasihan Alia, ya, Pak. Aku nggak tega banget mau ngelihat,”
ungkap Dyah lirih.
“Iya, Bu. Kalau Bapak sebetulnya kuat, tapi nggak kuat menahan
air mata yang terus mengalir, Bu.”
“Panjatkan terus doa kita untuknya, ya, Pak.”
Bimo mengangguk-angguk dari arah punggung Dyah. Ia pun
berkata, “Kamu harus terus hidup dan sehat, Nak. Kamu juga
jangan takut, karena Bapak dan ibumu akan memberikan kamu
pendidikan terbaik,” ungkap Bimo lirih. “Setinggi-tingginya.”
“Sejauh-jauhnya,” imbuh Dyah, sambil terus terisak di dalam
dekapan Bimo yang begitu kuat.
Asroruddin Zoechni
RECOMMENDED FOR YOU Explore More