Aksaya Patra: The Awakening
Eunike Indira, seorang karyawati biasa yang memiliki kemampuan melihat hal-hal tak kasat mata. Karena kemampuannya itu, ia mengalami patah hati hebat oleh kejadian di luar nalar yang menyangkut hubungannya dengan pacarnya.
Demi bisa menenangkan diri, Indira memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual ke
Bali. Sayangnya, perjalanan tersebut tak semulus yang dibayangkan. Indira dihantui berbagai
makhluk mengerikan yang menginginkan jiwanya.
Beruntung, ia diselamatkan oleh seorang pemuda asing yang ramah, Rudra Abisatya. Namun, pertemuan mereka justru mengungkap berbagai misteri, termasuk legenda Roro Jonggrang yang menyimpan dendam.
| Author | : | Peria |
| Price | : | Rp 1 |
| Category | : | ROMANCE |
| Page | : | 208 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 13 X 19 |
| ISBN | : | 0 |
| Publication | : |
Ruang rapat tertutup berupa aula besar bercahaya temaram itu kini diliputi ketegangan. Tiga dari lima belas kursi kayu antik yang melingkar di sisi ruangan sudah terisi oleh dua pria; satu bersurjan, yang lainnya mengenakan udeng khas Bali; serta seorang wanita berpakaian kasual dengan syal dari kain tenun lotis. Ketiganya duduk saling berjauhan, masing-masing berjarak lima kursi dari yang lainnya. Di depan mereka, meja bundar nan besar berukiran rumitterbentang layaknya panggung yang kini hanya diterangi lampu gantung remang yang terbuat dari barisan lilin abadi—jenis lilin yang telah disihir untuk tidak bisa meleleh.
Jauh di depan mereka, menjulang podium tinggi yang tertutup kelambu gelap semi transparan. Di balik kelambu tersebut, tampak bayangan sosok besar yang sedang duduk di singgasana. Sosok itu tampak seperti pria muda berambut panjang dengan kain songket membalut tubuhnya.
“Sumbogo sudah bangun.” Sosok di balik kelambu membuka pertemuan yang terasa misterius itu. Suaranya rendah, penuh ketenangan. Tanpa intonasi berlebih, hanya datar dan dalam. Meski mereka berada di ruangan yang cukup luas, dengan langit-langit tinggi, tetapi semua orang jelas bisa mendengar ucapan pria itu.
“Apakah petinggi lainnya sudah mengonfirmasi informasi tersebut, Kama?” tanya pria paruh baya yang mengenakan udeng—Ida Bagus Agung sang pimpinan Cabang Tengah Aksaya Patra.
“Kau mempertanyakan ucapanku?” Kama Jagadita, salah satu dari yang tertinggi dalam organisasi tersebut, menyentak.
“Bukan begitu... hanya saja, biasanya setidaknya ada tiga petinggi yang hadir jika menyangkut masalah sebesar ini,” tangkis Agung mengelak.
Kama tak lantas menjawab, tetapi dari balik kelambu gelap, tatapannya yang menusuk mengawasi para bawahannya.
“Mohon maaf atas kelancangannya, Kama. Tapi ucapan Pak Agung juga tidak salah. Kebangkitan Sumbogo bukan hal yang remeh. Dia sudah diketahui tersegel di perut Patala selama ratusan tahun, dan meski kami semua mendapat banyak laporan anomali astral akhir-akhir ini, belum tentu itu adalah pertanda kebangkitan iblis tersebut,” imbuh pria bersorjan, yang tak lain adalah Ganda Jatmika, pimpinan Cabang Barat Aksaya Patra.
“Anda mengumpulkan kami para jenderal yang sedang bertugas di lapangan, tanpa mengundang tiga petinggi lain dan menyampaikan informasi yang begitu besar. Kami tidak tahu harus bereaksi seperti apa,” tukas satu-satunya wanita dalam pertemuan tersebut, Maruna Nadivah, sang pimpinan Cabang Timur Aksaya Patra.
Mendengar keluhan para bawahannya, Kama tampak menghela napas. “Aku datang ke sini hanya dengan wujud astralku. Tubuh fisikku masih menjaga pasak selatan di Pulau Rote. Dharma Wikra yang menjaga pasak barat di Gunung Kerinci juga mengetahui hal ini, tetapi ia masih terkunci dalam tapa-nya secara fisik maupun astral. Aku akan menghubunginya untuk datang jika urusannya sudah selesai,” ungkap pria itu.
“Tapi...” lanjutnya muram. “... kita kehilangan akses dari Arta Mahesa dan Moksha Nanda. Beberapa kali aku mencoba menghubungi mereka baik secara astral maupun fisik, tetap tidak ada jawaban. Kuduga ini pengaruh kemunculan energi gelap dari Patala. Ketidakseimbangan energi memutus hubungan empat penjaga pasak. Karena itu aku segera kemari dan memanggil kalian,” pungkas Kama kemudian.
Sontak ketiga orang lain yang mendengar kabar tersebut tampak terkejut. “Artha dan Moksha terputus?” tanya Maruna dengan ekspresi kaget.
“Apa karena itu Anda menyimpulkan kemungkinan kebangkitan Sumbogo?” sambung Ganda.
“Memang itu salah satu kecurigaanku. Tapi melalui tapaku semburat energi gelap dari Patala terasa semakin pekat. Bahkan sebelum ke sini, kesadaran astralku nyaris tersedot dalam pusaran mereka dan aku hampir tertangkap oleh salah satu panglima Patala, Wuni,” ujar Kama.
“Wuni? Panglima Patala naik ke medan energi kita? Di dunia manusia?” tanya Agung tak kalah kaget.
“Belum sepenuhnya, tapi jelas mereka sedang bergerak naik dan menghimpun lebih banyak pengikut di dunia manusia. Kekuatan energi mereka terutama didapat dari sesembahan dan pemujaan orang-orang yang mereka sesatkan. Kalau mereka sudah mampu mencapai tapaku di pasak selatan, berarti energi mereka memang sudah cukup kuat untuk menembus alam manusia.
“Dengan energi sebesar itu, bukan tidak mungkin kebangkitan Sumbogo sudah diinisiasi. Terlebih, dalam Serat Kalatapa, disebutkan kalau segel yang menidurkan iblis itu akan melemah setelah seribu tahun. Tidak ada catatan tahun yang pasti dalam serat itu, tetapi berdasarkan waktu terkuburnya, masa-masa sekarang adalah hitungan yang cukup dekat. Kita patut waspada,” terang Kama panjang lebar.
Ketiga pimpinan cabang tak lantas menjawab, tetapi kegelisahan mulai terpancar dari raut wajah mereka. Kehilangan akses dari dua petinggi paling sakti di organisasi jelas bukan berita baik. Justru hal itu merupakan ancaman besar setelah selama bertahun-tahun organisasi mereka mempertahankan kestabilan astral di alam nusantara.
“Informasi keberadaan kita sangat rahasia. Tapi kalau salah satu dari petinggi kita tertangkap pihak mereka....” Kama memecah keheningan. “... tidak butuh waktu lama bagi pihak mereka menghancurkan organisasi ini dan membangkitkan kekuatan Sumbogo sepenuhnya. Di saat itulah Nusantara akan lenyap dalam kegelapan, menjadi negara yang dikuasai oleh nafsu bejat para penitis Patala.”
Semua orang masih terdiam, tepekur dalam pemikiran masing-masing tentang bahaya yang mendekat. Kebangkitan Sumbogo mungkin tidak serta merta mengakibatkan kiamat bagi para manusia, tetapi keruntuhan moral, kehancuran secara jiwa dan astral yang membawa orang-orang pada loop samsara yang semakin dalam. Ini adalah perputaran energi gelap yang menjadi makanan para kaum Patala dan mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bagi manusia juga para entitas penjaga cahaya.
RECOMMENDED FOR YOU Explore More