Dissection of a Murder
Coming Soon

Dissection of a Murder

17 tahun ke atas
Synopsis

Mana mungkin aku bisa melawan suamiku sendiri, sedangkan dialah jaksa paling tangguh yang mengajariku segalanya? —Leila Reynolds, Pengacara Pembela


Aku pasti memenangkan kasus ini, bahkan jika harus mempertaruhkan rumah tangga kami. —Julian Kesler, Jaksa Penuntut


Aku tidak membunuh Anton Smythe. Orang lain yang melakukannya. Sudah kubilang, aku tidak bersalah. —Jack Millman, Terdakwa

Aturan #1, jangan tertangkap. —Saksi X

Pembunuhan terhadap hakim ternama Anton Smythe mengguncang sistem peradilan sekaligus menyeret sepasang suami-istri ke dalam pertarungan paling menentukan dalam hidup mereka. Leila Reynolds harus membela Jack Millman yang dituduh membunuh sang hakim, sementara suaminya, Julian Kesler, memimpin penuntutan dengan keyakinan bahwa terdakwa memang bersalah.

Saat sang terdakwa menolak bicara, muncul rahasia dari masa lalu dan sesosok saksi yang keberadaannya terus disangkal.

Waktu terus bergulir. Di hadapan dua belas juri yang harus diyakinkan, Leila tak hanya bertarung demi memenangkan kasus... tapi juga untuk memenangkan hidupnya sendiri.


Author : Jo Murray
Price : Rp 1
Category : MYSTERY & THRILLERS
Page : 472 halaman
Format : Soft Cover
Size : 13,5 X 20
ISBN : 0
Publication :

Apa itu keadilan?

            Pertanyaan itu sering kutanyakan kepada diri sendiri, berulang kali, selama delapan hari belakangan ini.

            Apakah itu berarti menaati hukum secara utuh? Atau memastikan keadilan yang sebenarnya ditegakkan, sekalipun itu berarti sedikit melenceng dari peraturan? Sebagian besar orang tidak pernah merasa perlu memikirkannya.

            Akankah aku menyebut diriku pemberontak? Iya, kurasa begitu. Pelanggar aturan? Tidak.

            Aku tahu aturan mana yang bisa kubelokkan tanpa diketahui. Namun, aku melakukannya hanya demi kebaikan. Akan tetapi, aku tidak bisa menyebutkan konsep itu di depan juri. Yang perlu mereka lihat tidak melulu “kebenaran”, melainkan apa yang tampak seperti kebenaran. Kau pasti berpikir itu dua hal yang sama, kan? Sebenarnya tidak. Setidaknya dalam kasus ini.

            Aku tahu dari pengalamanku sendiri bahwa jika anggota juri menoleh dan melihat ke arahmu ketika mereka berjalan memasuki ruang sidang untuk menyampaikan putusan, itu artinya kau dibebaskan. Jika mereka tidak melakukannya, kau akan divonis bersalah.

            Itu masuk akal, kurasa. Kau tentu tidak mau menatap langsung mata seseorang yang hendak kau kirim ke penjara.

            Seorang pembunuh.

            Aku sudah mengamati mereka semua, duduk di bilik juri di sebelah kiriku. Tujuh lelaki dan lima perempuan. Bersama-sama, kedua belas orang yang berasal dari masyarakat umum itu akan memutuskan nasibku, setelah mendengarkan bukti mengerikan yang menodai udara di Ruang Sidang 1, yang kursi-kursinya berdecit dan dindingnya tak berjendela.

            Ini ruang sidang modern, bukan ruang sidang tua seperti yang sering kau lihat di TV. Aku membayangkan ruang sidang ini didesain untuk terasa lega, dengan langit-langit yang luar biasa tinggi dan panel abu-abu muda, tapi, pada akhirnya, ini tetaplah ruangan di mana orang dipaksa untuk menebus dosa mereka di bawah sorotan lampu neon.

            Jaksa penuntut berdiri di depan juri untuk memberikan argumen penutup. Jaksa itu tipe pengacara agresif—sombong, terlalu membanggakan dirinya sendiri. Congkak dan arogan. Dia membuatku duduk di kursi saksi sepanjang hari selama pemeriksaan silang dan bertingkah seolah dia sudah menang. Tak ada keraguan dalam pikirannya bahwa bukti yang ia tampilkan di depan juri cukup kuat untuk menghukumku. Dia berdiri, bersandar di kursi, lengannya bersedekap saat dia memberondongku dengan pertanyaan layaknya senapan mesin. Tak pernah kurasakan godaan yang lebih kuat untuk meninju wajah seseorang. Namun, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak boleh menunjukkan tanda-tanda kemarahan atau semacamnya karena, di mata orang awam, sikap agresif akan menyiratkan bahwa aku seorang pembunuh.

            Barrister-ku kebalikan dari si jaksa penuntut. Dia pendiam tapi tegas, cerdas dengan taktiknya, dan tampak dingin di bawah tekanan. Menarik. Aku punya firasat dewan juri terkesan olehnya. Kuharap begitu.

            “Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya,” seru jaksa penuntut dengan nada suara sok berkuasa, memegangi mimbar untuk kesan tambahan. “Kalian sudah mendengar semua bukti dalam kasus ini, dan sekarang waktunya kalian membuat keputusan. Terdakwa di depan kalian dituduh membunuh Anton Smythe, hakim Pengadilan Tinggi berusia 56 tahun. Diduga pada Jumat, 6 September 2024, dia tewas di tangan terdakwa setelah mengalami hantaman fatal di kepala.”

            “Sekarang,” lanjut sang jaksa, dengan nada suara dingin yang ia gunakan sepanjang persidangan. “Sidang ini berlangsung bukan tanpa drama. Kalian tentu ingat bukti pengacara pembela sangat ‘berwarna,’ jika bisa dikatakan demikian.”

            Duduk di kursi terdakwa, mataku melirik ke arah juri. Lelaki di barisan depan, yang hampir belum cukup umur untuk memberikan suara—aku menamainya “Hannibal Lecter Muda”—menaikkan alisnya seolah sengaja ingin menarik perhatianku. “Susan Sedih”—yang sepertinya sebentar lagi akan menangis tersedu—menoleh untuk melihat reaksiku. Perempuan itu terlihat sangat stres. Aku tahu perasaanmu, Sayang. Aku tidak bergerak sedikit pun—toh, aku juga tidak bisa tersenyum kepadanya.

            “Jika persidangan ini mengajari kalian sesuatu, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, itu adalah bahwa tidak semua seperti kelihatannya. Namun, satu hal yang pasti, yaitu terdakwa tidak bisa dipercaya. Negara ini menolak cerita tidak masuk akal yang disampaikan terdakwa. Dia suka berkhayal. Dia pembohong. Dia pembunuh. Dan pada saatnya nanti, saya meminta Anda sekalian menjatuhkan vonis bersalah dalam kasus ini.”

            Aku tetap terdiam ketika jaksa penuntut menancapkan paku lebih dalam ke peti matiku. Selagi dia menjabarkan semua bukti yang memberatkanku, aku mengamati para juri yang menatapnya dengan saksama. Mata hakim menyusuri ruang sidang yang penuh. Semakin hari semakin ramai daripada sebelumnya. Mereka semua menunggu untuk melihat: bersalah atau tidak bersalah?

            Dalam kasus seperti ini, juri memulai bukan dengan asas praduga tidak bersalah seperti yang seharusnya, melainkan dengan praduga bersalah. Bukti yang memberatkanku terlihat meyakinkan. Rencananya adalah selalu menanamkan benih keraguan di dalam kepala mereka, kemudian menyiraminya dan mengamatinya tumbuh.

            Dua belas juri. Bahkan, sekalipun mayoritas dari mereka menganggapku bersalah, yang harus dilakukan hanyalah menanamkan keraguan pada setidaknya tiga kepala mereka, dan mereka tidak bisa menjatuhkan vonis bersalah kepadaku.

            Tiga. Itu saja.

            Apa itu berhasil? Aku akan mengetahuinya sebentar lagi.

            Semua istilah resmi ini, yang disampaikan berulang kali dalam suasana tegang, membuatku gelisah saat aku duduk terpenjara di kursi terdakwa yang ada di bagian belakang ruang sidang.

            Ketika jaksa penuntut menjabarkan potongan bukti utama yang mengakhiri nyawa Anton Smythe—yang mengarah pada kehancuranku—cuplikan adegan malam itu berkelebat di kepalaku layaknya lampu strobo.

            Aku melihat jasadnya tergeletak di lantai; kau tidak akan tahu dia sudah mati berjam-jam jika bukan karena aliran darah tipis tapi fatal yang keluar dari hidungnya.

            Aku tahu segalanya akan berubah. Bahwa aku akan berakhir di sini.

            Malam itu, mataku menyusuri ruangan tersebut—“TKP”—tahu bahwa setiap sentinya akan diselidiki. Aku sudah cukup berpengalaman untuk tahu ini adalah ketenangan sebelum datangnya badai. Mulai detik itu hingga ke depannya, semua yang kulakukan akan diamati. Kala aku melihat luka-luka itu lagi, aku hanya akan melihatnya lewat foto, dan semuanya tampak lebih terang karena efek cahaya dari kamera petugas TKP. Penggaris akan ditempatkan di samping benda mati dan diberi label nama seperti “senjata pembunuhan”.

            Kupikir aku sudah sangat berhati-hati.

            Kejatuhanku ada pada ponsel itu.

            Namun, bagaimana jika semua bukti mengarah kepadamu dan itu lebih rumit daripada kelihatannya? Apa kita harus menerima begitu saja; jika kau bukan korban, kau pastilah pembunuhnya, dan tidak bisa di antaranya? 

            Itu bukan keadilan yang sesungguhnya.

            Jaksa penuntut bisa menceritakan kisah apa pun sesuka mereka, tapi aku yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan salah sangka—semua benar-benar di luar kendali. Ketika aku memikirkan kebohongan yang kukatakan, orang-orang yang aku libatkan, kehidupan yang aku hancurkan, aku membenci diriku sendiri. Akan tetapi, vonis seumur hidup sama sekali tidak adil.

            Aku membunuhnya, itu benar. Namun, itu bukan salahku. Aku terpaksa melakukannya.

            Aku tidak pernah punya pilihan.

Jo Murray
View Profil

RECOMMENDED FOR YOU Explore More