Lukacita
Best Seller

Lukacita

14-16 tahun
Synopsis

Lukacita adalah novel yang ditulis oleh seorang penulis wanita muda yang populer di Indonesia, bernama Valerie Patkar. Lukacita ini merupakan novel kelima yang sebelumnya diterbitkan di wattpad, layaknya karya Valerie yang lain berhasil menarik hati banyak orang hingga resmi dirilis dalam bentuk buku oleh penerbit Bhuana Ilmu Populer. Novel yang sudah dibaca lebih dari 1 juta orang di wattpad ini bercerita tentang dua orang pemimpi yang dikhianati oleh cita-cita mereka sendiri. 

Lukacita ini ditulis oleh Valerie dengan romansa cerita yang sangat menarik, di samping menarik, hal lainnya ialah cerita di dalamnya mengandung makna yang mendalam. Novel Lukacita dinilai sebagai novel dengan paket lengkap, karena bukan hanya menyuguhkan cerita romance, termasuk di dalamnya juga sarat tentang self improvement, nilai kekeluargaan, dan friendship. Novel Lukacita sangat cocok untuk kalian yang sedang memperjuangkan cita-cita. 

Sinopsis:

Untuk mereka yang berhasil menggapai cita-cita, tetapi masih terluka karenanya. Lukacita bercerita tentang para pemimpi yang dikhianati cita-cita mereka sendiri. Ada seorang pendiri perusahaan startup idealis bernama Javier dan seorang mantan atlet catur penakut bernama Utara. Saat mereka hampir menyerah untuk memperjuangkan apa yang mereka cita-citakan selama ini, mereka bertemu untuk belajar memaafkan keadaan. 


Author : Valerie Patkar
Price : Rp 125,000
Category : ROMANCE
Page : 448 halaman
Format : Soft Cover
Size : 13 cm X 19 cm
ISBN : 9786230406935
Publication : 14 March 2022

AGUSTUS 2017,

UTARA 

Di depan gedung sekolah gue dulu, ada seseorang yang disebut Abang Safari. Setiap minggu, pasti adaaa aja binatang yang dia jual di gerobak kayu dengan cat warna-warni mentereng. Ada kelinci, anak ayam, ikan mas kecil di dalam plastik bening yang diisi air, sampai keong. Dari semua binatang yang dia jual, gue paling suka keong. Tapi setiap gue bawa pulang ke rumah, keong itu cuma akan bertahan beberapa jam sebelum menghilang—meninggalkan cangkangnya, rumahnya. 

Keong itu berani, ya? Dia nggak pernah takut meninggalkan rumahnya meskipun banyak yang bilang dia nggak akan bertahan hidup lama kalau keluar dari cangkang. 

Seandainya gue bisa menjadi seberani itu. 

“Kami tanya sekali lagi, apa benar kamu ingin keluar dari Percasi1 dan berhenti total dari catur?” Pandangan gue tertuju pada kipas angin yang terus memutarkan porosnya di langit-langit ruangan itu. Sejak kedatangan gue setengah jam lalu, dia sudah berputar 547 kali. “Kamu ini masih muda, baru 22 tahun dan baru lulus kuliah. Anak-anak seumur kamu baru akan mulai mengejar mimpi mereka, tapi kamu malah mau berhenti dari apa yang sudah kamu bangun selama 14 tahun terakhir?”

Pagi ini adalah hari yang terlalu baik untuk menyambut sebuah perpisahan. Udara nggak terlalu panas dan terik, malah sejuk dan dingin. Jalanan protokol ibu kota nggak padat seperti biasa. Angin bertiup kencang dan membuat dedaunan ke kanan dan ke kiri seperti menari-nari.

“Utara Paramayoga?”

“Ya?” Ingatan gue akan pertanyaan mereka agak kabur.

“Kami tanya, apa benar—”

“Iya, bener kok.” Ketenangan hati gue sudah terlatih sejak masa kanak-kanak. “Iya, saya tahu saya masih muda, tapi tadi kalian sendiri bilang, kan? Saya bangun karier 14 tahun. Capek juga, Pak, Bu, belasan tahun melakukan hal yang sama setiap hari. Karena cuma sibuk catur, saya sampai nggak tahu cara masak nasi. Level parahnya udah sampai situ, jadi udah, yah. Keputusan saya udah bulat dari bulan lalu, dan nggak ada yang diubah sampai kapan pun. Jangan dipanggil-panggil lagi, jangan ditanya lagi.” Emosi harus tersisih saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Alangkah baiknya kalau gue bisa terdengar lebih santun tadi.

Ada tiga orang—satu perempuan dan dua laki-laki—di sini. Ketiganya mengenakan kemeja putih yang dibalut dengan jas dan blazer hitam yang rapi. Karakteristik wajah para pengurus di bidang hukum dan disiplin Percasi memang selalu menegaskan integritas. Tatapan mata mereka penuh dengan rencana matang, dengan ambisi yang meletup-letup. Yang sedikit berbeda hanya dengung pertanyaan di kepala mereka akan penjelasan gue yang nggak masuk akal.

“Apa sudah benar-benar tidak ada keinginan dari Saudari untuk tetap di catur?”

“Nggak ada.” Sebuah akhir singkat untuk perjalanan selama 14 tahun. Semua angan tertimbun sudah, melebur dengan sebuah kalimat, “Saya ingin keluar dari catur.”

“Baiklah.” Salah seorang perempuan pengurus menghela napas. “Saya rasa sudah jelas jika dari pihak Anda sudah memiliki tekad bulat, kami tidak akan memberikan Anda kesempatan lagi untuk berpikir, dan benar-benar akan menyelesaikan kontrak kami dengan Anda.” Tatapan tajamnya sempat tertutup dengan tatapan antisipasi, mungkin menunggu gue mengatakan hal lain dan berhenti memberi atensi pada kipas angin yang sekarang sudah berputar 608 kali. “Dengan berat hati, kami memberi kamu kesempatan untuk mengadakan konferensi pers tentang pengunduran dirimu secara baik-baik. Publik berhak tahu kalau atlet catur kebanggaan mereka sudah menanggalkan papan caturnya.”

“Oke.” Gue langsung bangkit berdiri meninggalkan ruangan sebagai isyarat sebuah perpisahan. Sebab, pagi ini terlalu baik untuk dihabiskan dengan menyesali sesuatu yang sudah telanjur terjadi. Satu per satu langkah gue meninggalkan cita-cita yang gue bangun bagaikan sebuah rumah. Hari kian hari, ingin gue tambah perabot di dalamnya. Waktu kian waktu, ingin gue tambah kekuatan untuk memperkokohnya.

Namun cita-cita gue runtuh, habis tanpa sisa. Hanya tersisa puing-puing ingatan tentang betapa banyak waktu yang gue habiskan untuk mencapainya. Lalu mereka pikir, cuma mereka yang kecewa.

“Kamu itu sebenarnya memikirkan masa depan kamu atau nggak sih, Tara?” Cita-cita sebenarnya sederhana kalau hanya kita yang berperan. Untuk sebagian orang, cita-cita jadi rumit karena itu tidak hanya jadi urusan diri mereka sendiri, tetapi juga orangtua. Dan kebetulan, gue termasuk dalam sebagian orang itu. “Kasih tahu Mami kamu kenapa, ada apa sampai kamu mutusin untuk keluar begini?”

Mami membesarkan gue dengan kedua tangannya. Bagi seorang perempuan, memiliki putri tunggal adalah titipan Tuhan yang perlu diemban dengan setiap tetes darah dan keringat. Kelak, seorang anak akan menjadi cerminan bagaimana seorang ibu menjalani nalurinya. Dan bagi Mami, gue harus membuat semua orang tahu betapa hebatnya dia sebagai seorang ibu, hanya dengan melihat gue. Gue dan piala gue. Gue dan gelar gue.

“Aku udah bilang, aku capek. Aku nggak mau main catur lagi, aku mau lihat kehidupan yang lain.”

“Omong kosong itu, Tara! Kamu sudah menjalani 14 tahun dan semuanya baik-baik aja. Papi dan Mami yang lebih tahu daripada kamu karena kamu anak kami!”

Sementara bagi seorang lelaki, lahirnya seorang anak ke dunia berarti membangun sebuah kerajaan baru. Hanya Papi sendiri yang tahu apakah dia pernah menginginkan seorang anak lelaki atau nggak. Tapi dia nggak pernah terlihat kecewa terhadap gue, sebab dia memastikan gue nggak pernah mengecewakannya. Kecuali hari ini.

Gue dibesarkan di keluarga keturunan Tionghoa-Jawa. Papi lahir dan besar di Singkawang, Kalimantan Barat, lalu meninggalkan kota itu untuk mengadu nasib di ibu kota. Lalu bertemu Mami, seorang wanita biasa asal Solo yang saat itu baru lulus SMK jurusan Tata Boga. Gue hampir buram soal cerita romansa mereka. Mungkin karena waktu gue habis oleh catur sampai-sampai gue nggak punya kesempatan untuk mendalami siapa kedua orangtua gue. Yang gue tahu hanya Papi akhirnya membangun usaha konveksi dan kain yang diwariskan Opa, lalu Mami turut serta membantunya. Pabrik besar itu ada di Singkawang, makanya mereka berdua cukup rutin bolak-balik ke sana tiap bulan untuk mengecek supaya kualitas barang yang diperdagangkan tetap baik bahkan meningkat.

Keadaan keluarga kami termasuk baik. Nggak pernah ada pertengkaran berarti, kecuali kalau itu menyangkut keluarga besar Papi yang selalu memperlombakan anak dan keponakan mereka cuma untuk tahu siapa yang lebih baik. Papi punya 7 saudara—4 laki-laki dan 3 perempuan. Gue lupa berapa jumlah anak dari masing-masing keluarga karena gue hampir nggak pernah membangun hubungan akrab dengan mereka. Tapi yang paling gue ingat, mereka semua nggak pernah menyukai gue. Karena menurut Papi dan Mami, gue adalah cucu Opa yang paling membanggakan, dan mereka semua iri dengan apa yang sudah gue capai. Jadi, mungkin sekarang kedua orangtua gue agak berkeras hati. Sebab dengan berhentinya gue dari catur, berhenti juga rasa iri keluarga besar mereka terhadap gue. Papi dan Mami jadi nggak memiliki seorang anak yang bisa dibanggakan lagi.

“Sekarang umur kamu sudah 22, mau cari kerja di mana? Astronomi? Orang mana di Jakarta yang buka lapangan kerja untuk lulusan Astronomi? Ini juga salah kamu, kenapa waktu itu kamu harus kuliah Astronomi segala! Lagi pula, Tara, kamu sendiri tahu kan nilai kamu juga nggak bagus? Kenapa sekarang malah nekat cuma karena ego sesaat? Kenapa kamu nggak diskusi sama Mami dulu?” Terus terang, gue sering tersinggung dengan perkataan orangtua gue melebihi perkataan orang lain. “Kalau kamu nganggur dan nggak dapat pekerjaan, orang-orang bakal nyukurin kamu! Nggak malu kamu? Apa nanti kata Oma? Tante Rita juga pasti akan ketawain Mami gara-gara kamu!” Mungkin saat kemarahan meluap, mereka terdengar lebih memikirkan apa kata orang lain dibanding perasaan anaknya sendiri.

Cuma sejak lama, gue menyisihkan semua ketersinggungan itu. Kalau diperinci, ada beberapa alasannya. Pertama, karena perjuangan gue di catur selama 14 tahun terakhir bukanlah perjuangan sendiri, melainkan perjuangan mereka yang membesarkan gue. Makanya, karena gue tahu reaksi mereka akan seperti ini, gue mengambil keputusan dan bertindak seorang diri sebelum memberi tahu mereka, supaya apa yang gue kehendaki sesuai. Kedua, karena apa yang mereka katakan benar.

“Papi kasih tahu, hidup itu tidak mudah. Hidup itu sulit Tara! Kalau begini saja kamu sudah menyerah, bagaimana nanti? Kamu sendiri sadar, tidak ada hal lain yang becus kamu lakukan selain catur!”

Gue memang nggak mampu melakukan apa pun dengan benar. Yang gue mampu hanyalah mengambil keputusan dengan kepala kosong. Ah, gue juga mampu menerima semua perkataan orang yang menyakitkan tentang gue tanpa sakit hati. Itu bisa menjadi talenta terbaik yang gue miliki selain catur. 

“Ngomong terus terang sama Mami.” Gue masih menunduk, nggak ada keinginan menatap Mami sebelum dia melanjutkan, “Kamu keluar bukan karena Edwin, kan?” 

Ya, ada beberapa hal yang masih sulit gue terima. Salah satunya adalah kepergian Edwin.

“Maaf, Pi. Maaf, Mi.” Nggak ada kata lain yang lebih baik daripada maaf untuk mengakhiri sebuah pertengkaran. Sama seperti kata maaf gue untuk Alden Keva Setrayasa keesokan harinya.

“Nggak tahu kenapa, aku lega kamu mutusin untuk istirahat dari catur.” Dia menjemput gue langsung dari kantor pusat Percasi di Senayan untuk membawa gue ke sebuah tempat pementasan seni bernama Komunitas Mahakata yang tepat berada di sebelahnya. Di tempat ini ada sebuah ruangan di lantai 4 berupa bioskop mini yang selalu menjadi tempat memutar film-film kesukaannya, termasuk filmnya sendiri—film yang tahun ini berhasil mendapat banyak penghargaan, baik nasional maupun internasional. Yasa memang nggak akan pernah membuat film jelek. Sayangnya, gue nggak sempat menonton film itu saat pertama kali ditayangkan karena harus berangkat ke Tromso bulan lalu. Itu yang membuatnya sedikit kesal dengan gue. Syukurlah, hari ini gue bisa menontonnya.

“Iya, aku udah nggak di catur lagi,” tutur gue sambil memperhatikan layar. Film ini berjudul Tanpa Judul. Ya, judulnya saja sudah menarik. Durasinya hanya 65 menit dengan dialog yang padat dan berisi, serta adegan-adegan dengan setting indah yang memperlihatkan kecantikan ibu kota pada malam hari.

“Waktu kamu juga jadi lebih banyak,” ucapan Yasa nggak ada yang salah. “Kamu bisa dateng tepat waktu ke premiere film aku. Kamu juga nggak perlu pergi ke Tromso sampai berbulan-bulan lagi. Kamu juga bisa ikut aku pas aku syuting di luar kota.”

“Hmm,” yang salah gue. Makanya gue setuju dengan semua perkataannya. “Yas, kamu tahu nggak kenapa aku pengen banget main catur dulu?” Gue menoleh dan Yasa langsung menatap gue sebelum menggeleng.

“Kenapa emang?”

“Karena ada bidak Raja dan bidak Ratu.” Yasa masih mencoba mencerna perkataan gue. “Karena bidak Ratu berjuang mati-matian supaya Raja nggak mati duluan.” Gue tersenyum menatap layar ketika film sudah hampir menuju akhir. “Because the reason why Queen exists... is the King. Queen should live for her King. Once the Queen dead, King would be dead too.”

Yasa lalu bertanya, “Ratu yang harus hidup buat Raja, atau Raja yang nggak bisa hidup tanpa Ratu?” Dua pilihan yang terdengar sama, tapi sesungguhnya punya arti berbeda. Sangat berbeda.

“Nggak dua-duanya,” gue menoleh dengan tatapan mendayu, tenang, seolah perpisahan ini adalah perkara mudah. “Ratu nggak harus selalu hidup buat Raja. Dan Raja… dia bisa tetap hidup meskipun tanpa Ratu.” Sama seperti hubungan gue dengan catur, hubungan gue dengan Yasa juga akan berhenti seperti seharusnya. “Ratu harus hidup untuk Raja, dan Raja yang nggak bisa hidup tanpa Ratu… itu cuma pilihan yang ada waktu mereka di papan catur.” Gue menatap Yasa dalam, dan saat itu dia hanya bungkam. “Di tempat lain, Ratu bisa hidup untuk dirinya sendiri. Dan Raja bisa tetap hidup karena dirinya sendiri. Ratu dan Raja cuma perlu sama-sama saat mereka di papan catur. Di tempat lain, mereka bisa jalanin hidup masing-masing.” Lalu pada akhirnya gue berkata, “Begitu juga kita, Yas.” Barulah Yasa tahu bahwa arah pembicaraan ini berbeda dengan yang dia perkirakan. “Kita bukan berada di papan catur lagi, dan artinya...” gue mengembuskan napas untuk melanjutkan, “kamu bukan Raja aku lagi.” 

Diamnya Yasa cukup memudahkan gue untuk mengakhiri. Seperti yang sudah-sudah, gue memilih kata maaf untuk mengakhiri hubungan kami.

“Maaf, Yas.”

Lina Meilina
3 weeks ago
Satu kata untuk buku ini, KEREN! Konfliknya yang relate dan juga dekat dengan keadaan kebanyakan orang membuat cerita ini kayak buku self-improvement berbalut fiksi. Cerita di buku ini bukan yang WOW BANGET, sederhana sebenarnya, tapi NGENAK gituloh.. :) Setiap karakter di buku ini punya strugglenya masing-masing. Mereka yang merasa terbuang, tidak punya kesempatan kedua untuk bangkit, perlahan merakit kembali impiannya. Kemudian ada yang merasa clueless sama masa depannya, insecure dan gak mencintai diri sendiri, bahkan sampai hilang jati dirinya karna terlalu berfokus sama 'gimana maunya orang'. Ada Utara, dia atlet catur Indonesia yang berprestasi. Selama karirnya, dia yang paling berjuang keras untuk mempelajari catur. Perjuangannya itu Utara nikmati dengan baik. Sampai berita duka itu terdengar, sahabat baik Utaraβ€”Edwin, bunuh diri. Ada banyak gejolak yang membuat Utara memilih mundur jadi atlet. Keputusannya tentu membuat kedua orangtuanya marah, tapi Utara bersikeras dengan keputusannya. Perubahan hidup Utara butuh adaptasi yang keras, karena selama hidupnya Tara hanya mengenal catur. Keputusan Utara membawa dirinya berkenalan dengan Javier. Pertemuan pertama mereka berdua tuh epik ya, kok bisa Javier yang ganteng dikirain Abang Grab?! πŸ˜† Kembali ke Javier, dia itu tipikal cowok nyebelin yang omongannya tuh selalu nyelekit sampai ulu hati. Tajem banget coy kayak cutter yang baru dibeli! Tapi, tipe yang kayak Javier ini penting untuk dipunya setiap circle persahabatan. Sifatnya yang logis abis dan menjunjung self love itu prioritas bikin kita jadi sadar diri. Tapi percaya gak, setiap orang tuh punya lukanya sendiri. Walaupun kelihatan nggak punya masalah, terlihat playboy dan gak punya tata krama dalam bicara, ternyata Javier punya luka yang begitu dalam. Plis, pas aku tau apa yang dia alami, AKU PENGIN NANGIS 😭 Rasanya aku mau bilang ke Javier, kalau dia tuh berhak bahagia dan meminta orang untuk stay di hidupnya. πŸ’” Aku suka banget sama novel ini, ada banyak pelajaran hidup mengenai mencintai dan menghargai diri sendiri. Plotnya bagus banget juga, bikin aku yg baca ngerasa ikut gundah dan sedih. Jujur, aku baca buku ini gak sampai nangis emang, tapi perasaan nyesek dan hampanya tuh ngenak asli!! Lewat buku ini aku setuju, kalau bukan kita yang menghargai dan mencintai diri sendiri, lalu siapa lagi? Akhir kata, buku ini mantap abis untuk masuk ke dalam reading listmu. πŸ“–βœ¨
Lina Meilina
3 weeks ago
Satu kata untuk buku ini, KEREN! Konfliknya yang relate dan juga dekat dengan keadaan kebanyakan orang membuat cerita ini kayak buku self-improvement berbalut fiksi. Cerita di buku ini bukan yang WOW BANGET, sederhana sebenarnya, tapi NGENAK gituloh.. :) Setiap karakter di buku ini punya strugglenya masing-masing. Mereka yang merasa terbuang, tidak punya kesempatan kedua untuk bangkit, perlahan merakit kembali impiannya. Kemudian ada yang merasa clueless sama masa depannya, insecure dan gak mencintai diri sendiri, bahkan sampai hilang jati dirinya karna terlalu berfokus sama 'gimana maunya orang'. Ada Utara, dia atlet catur Indonesia yang berprestasi. Selama karirnya, dia yang paling berjuang keras untuk mempelajari catur. Perjuangannya itu Utara nikmati dengan baik. Sampai berita duka itu terdengar, sahabat baik Utaraβ€”Edwin, bunuh diri. Ada banyak gejolak yang membuat Utara memilih mundur jadi atlet. Keputusannya tentu membuat kedua orangtuanya marah, tapi Utara bersikeras dengan keputusannya. Perubahan hidup Utara butuh adaptasi yang keras, karena selama hidupnya Tara hanya mengenal catur. Keputusan Utara membawa dirinya berkenalan dengan Javier. Pertemuan pertama mereka berdua tuh epik ya, kok bisa Javier yang ganteng dikirain Abang Grab?! πŸ˜† Kembali ke Javier, dia itu tipikal cowok nyebelin yang omongannya tuh selalu nyelekit sampai ulu hati. Tajem banget coy kayak cutter yang baru dibeli! Tapi, tipe yang kayak Javier ini penting untuk dipunya setiap circle persahabatan. Sifatnya yang logis abis dan menjunjung self love itu prioritas bikin kita jadi sadar diri. Tapi percaya gak, setiap orang tuh punya lukanya sendiri. Walaupun kelihatan nggak punya masalah, terlihat playboy dan gak punya tata krama dalam bicara, ternyata Javier punya luka yang begitu dalam. Plis, pas aku tau apa yang dia alami, AKU PENGIN NANGIS 😭 Rasanya aku mau bilang ke Javier, kalau dia tuh berhak bahagia dan meminta orang untuk stay di hidupnya. πŸ’” Aku suka banget sama novel ini, ada banyak pelajaran hidup mengenai mencintai dan menghargai diri sendiri. Plotnya bagus banget juga, bikin aku yg baca ngerasa ikut gundah dan sedih. Jujur, aku baca buku ini gak sampai nangis emang, tapi perasaan nyesek dan hampanya tuh ngenak asli!! Lewat buku ini aku setuju, kalau bukan kita yang menghargai dan mencintai diri sendiri, lalu siapa lagi? Akhir kata, buku ini mantap abis untuk masuk ke dalam reading listmu. πŸ“–βœ¨
Chacha
3 weeks ago
Utara dan Javier, mereka berdua adalah definisi couple yang saling menemukan. Baca buku ini tuh nggak henti-hentinya bikin aku jatuh cinta sama kedua tokoh ini. Di tengah mereka sedang terluka karena cita-cita mereka sendiri, semesta mempertemukan mereka berdua. Utara dan Javier adalah couple kedua yang aku sayang dari bukunya Kak Valeria, nomor satu tetep Glendy dan Jeara di Game Over. Utara punya cita-cita terhadap catur. Bagi Tara catur adalah hidupnya, karena hampir separuh hidupnya dihabiskan bersama catur. Hanya catur yang bisa ia lakukan dan membuat orangtuanya bangga. Tetapi karna satu peristiwa yang melibatkan orang yang ia sayangi membuatnya harus melepas cita-citanya. Javier punya cita-cita ingin membuat dan memimpin perusahaan yang mau menerima orang-orang dengan latar belakang buruk, orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh dunia. Namun ia harus merelakan cita-citanya menjadi pemimpin perusahaan, karena satu kejadian, kejadian yang juga melibatkan seseorang yang ia sayangi, sehingga dia bahkan nggak bisa untuk membenci orang tersebut. Baca buku ini tuh ngalir aja, sumpah 441 halaman buku ini nggak berasa banget. Aku bacanya kayak cepet banget ternyata udah setengah buku, eh ternyata mau habis aja. Aku suka gaya penulisan di buku ini yang menceritakan secara bergantian antar tokohnya (Javier dan Utara). Seperti biasa, aku paling suka gaya novel yang kayak gini, karena menurut aku lebih merasakan karakter tokoh di novelnya. Oh ya di novel ini juga aku nggak menemukan karakter tokoh yang annoying, malah tiap karakter punya ceritanya masing-masing. Kayak Yasa dan Gigi yang juga punya Pov sendiri. Sedih banget pas bagian Javier dan Tara harus pisah dan sangat related sama lagu Tak Ingin Usai-nya Keisya Levroenka. Pokoknya banyak love deh buat buku ini, Dan aku juga SANGAT MEREKOMENDASIKAN buku ini untuk kalian baca. Harus masuk wishlist kalian deh dan masuk rak buku kalian.. Rate : 5/5
484- Dian Novita Octavia
4 weeks ago
Luka Cita πŸ“š Judul : Luka Cita Penulis : Valerie Patkar Penerbit : Buana Sathra Genre : Romance, friendship, family Halaman : 441 ⭐ 5/5 - semoga hari ini, kamu mulai berhenti menyalahkan dirimu sendiri dan belajar memaafkannya - Buku ini nyeritain tentang Utara yanng bergelut dengan dunia catur dan Javier yang mendirikan perusahaan startup dibidang kreatif. Keduanya harusnya dihianati oleh cita-citanya sendiri, Utara yang rela keluar dari tim Percasi dan Javier juga keluar dari perusahaan yang selama ini ia rintis bersama teman-temannya. 🌱 Walaupun ini novel tapi dari buku ini banyak banget pelajaran yang bisa kita ambil, mulai dari kita yang harus mempercayai kemampuan diri kita sendiri, jangan menjadi orang lain karena selalu akan ada yang lebih baik kalau kamu ingin menjadi orang lain, kamu juga harus sadar bahwa bukan tanggung jawab kita untuk bikin semua orang tau siapa kira, menyerah disaat kita sudah tidak sanggup lagi juga bukan pilihan yang salah, itu juga salah satu keputusan yang bagus, karena kalau terpaksa kita akan lebih berat lagi menjalaninya dan belajar bahwa ketika kita sudah siap menjalin hubungan dan dengan kata "gue sayang sama lo" artinya didalam situ ada tanggung jawab besar dan masih banyak pelajaran lain yang bisa kita ambil πŸ’–πŸ’ž 🌱 Dari segi fisik buku aku suka banget 10/5😍 covernya super cantik, kalian liat sendiri kan dislide yang aku up, dibalik cover itu ternyata banyak tulisan ini "semoga hari ini, kamu mulai berhenti menyalahkan dirimu sendiri dan belajar memaafkannya". Mungkin tulisan ini dibuat banyak karena banyak juga dari seseorang lupa untuk memaafkan dirinya sendiri atau bahkan enggan yang membuat seseorang takut melangkah kedepan. Ini buku karya Ka Valerie yang pertama aku punya, emang bener review" dari teman kalau buku kakak ini bagus", aku ada serangkai juga tapi belum sempet aku baca, next aku juga bakal up reviewnya. πŸ’žπŸ’–πŸŒ· buat kalian yang sedang mengejar mimpi, atau sedang futur, menyerah atau fase2 menyakitkan lainnya, aku saranin kalian baca buku ini, minimal sekali seumur hidup, karena ceritanya bagus banget, banyak yang related sama kehidupan kita. Semangat untuk kalian dan diriku yang sedang memperjuangkan mimpi kita masing-masing, semoga apapun badainya kita bisa tetap tegak dan sampai tujuan. Semangat πŸ’žβ€οΈπŸ’–
ara.library
4 weeks ago
Well, pertama-tama gue mau makasih banget sama kak vale karena udh membuat cerita yang bagus banget, gue ampe nggak tau gimana mau ngungkapkan sesayang itu gue sama buku ini. Buku yang kisahnya bener-bener relate banget bahkan gue selama 2 hari baca buku ini di bkin nangis juga selama 2 hari saking relatenya buku ini. Gue sama sekali blm pernah membaca tipe buku yang kek gini dan buku ini langsung masuk di dalam best read gue di tahun 2023 ini. Gue baca buku ini di gramedia digital dan dikarenakan di gramdig blm bsa di tandain kek di playbook jdinya agak susah buat gue untuk anotasi, tapi tau nggak? 99% gue tandain semua saking relate dan bagsusnya buku ini. Gue seketika baca buku digitalnya jadi pengen beli buku fisiknya dan pengen punya!!!!! ❀。‒ *β‚ŠΒ°γ€‚ ❀°。 Gue pengen jelasin secara singkat aja kisah di buku ini (karena saking bagusnya gue nggak bsa ngomong apa-apa karena ya...sebagus itu!!!!). Luka cita ini nyeritain kisah tentang utara dan javier yang memilih untuk mundur dengan cita-cita yang selama ini mereka inginkan. Utara berhenti menjadi pemain catur setelah menggeluti catur selama10 tahun lebih, dan javier nggak menemukan alasan buat bertahan d pengantara (perusahaan start up yang dia bangun dari bawah banget). Lewat cerita mereka berdua ini kita tuh bisa ngeliat betapa strugglenya mereka berdua, dan sebenarnya sih bukan cuman permasalahaan utara sama javier melainkan struggle dari masing-masing tokoh (seperti aslan, rumi, lando, dan bang jul dan mereka ini adalah sahabat dari javier yang juga bekerja di pengantara dan yg dipekerjakan oleh javier). ❀。‒ *β‚ŠΒ°γ€‚ ❀°。 Selama baca buku ini emang mix feeling banget rasanya. Kadang gue senyum-senyum sendiri melihat kegemasan dan tingkah laku javier ke utara, gue juga dibuat nangis dan banjir air mata karena kisahnya yang lagi-lagi se-relate itu!!!. Dan di buku ini aku merasa diterima dan dihargai bahkan bener-bener dimengerti. Di buku ini banyak banget kata-kata dan kalimat yang selama ini nggak pernah aku dapatin dari siapapun bahkan itu dari orang tua gue sendiri, tapi malah yang mengungkapkan kalimat yang pengen aku denger di ucapin ke aku malah aku dapatnya dari javier dan tara, bhkan dri temenΒ²nya.
_auliaesa
4 weeks ago
"𝑰 π’˜π’‚π’π’• 𝒕𝒉𝒆 π’”π’•π’“π’π’π’ˆ π’šπ’π’–, 𝒂𝒏𝒅 𝑰 π’˜π’‚π’π’• 𝒕𝒉𝒆 π’˜π’†π’‚π’Œ π’šπ’π’– 𝒂𝒔 π’˜π’†π’π’. 𝑰 π’˜π’‚π’π’• 𝒕𝒉𝒆 π’ˆπ’π’π’… π’šπ’π’–, 𝒂𝒏𝒅 𝑰 π’˜π’‚π’π’• 𝒕𝒉𝒆 𝒃𝒂𝒅 π’šπ’π’– 𝒂𝒔 π’˜π’†π’π’." ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ | #worthtoread | Luka Cita | Valerie Patkar | Novels 15+ | Bhuana Sastra | 441 hlm Ngga ada manusia sempurna. Jadi bagaimanapun kita mari kita terima saja. Dan jika ada yang bisa kita ubah menjadi lebih baik, teruskan. Karena pada dasarnya kita berharga. Ini buku pertama yang ku baca dari kak Valerie dan puas banget, i want to read more her books😍 Ceritanya paket lengkap, tentang pertemanan,keluarga, cita-cita dan cinta. Oo iya buku ini National BEST SELLER friends dari penulis lokal, awalnya aku kira penulis luar negeri. 😍😍😍 Ini layak diterjemahkan ke bahasa internasional.πŸ’• Jarang aku temui profesi atlet catur jadi latar belakang tokoh. Walaupun pekerjaannya ngga dijelasin mendetail, tapi porsinya pas dihubungkan dengan potongan plot lain. Menggunakan sudut pandang orang pertama, membuat cerita lebih dalem rasanya karena si tokoh menceritakan perasaannya sendiri. Pengembangan karakternya okayπŸ‘Œ, jadi ada progres nyata seperti utara yang belajar skill baru untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Banyak kata kata bijak dan ngena di hati. Salah satunya, "𝑺𝒐 π’π’Šπ’—π’† 𝒂𝒏𝒅 𝒕𝒓𝒆𝒂𝒔𝒖𝒓𝒆 π’šπ’π’–π’“π’”π’†π’π’‡ π’Žπ’π’“π’† 𝒕𝒉𝒂𝒏 π’‚π’π’šπ’π’π’† 𝒆𝒍𝒔𝒆." (Jadi hiduplah dan hargai diri kamu lebih dari orang lain.) To : Javier, walaupun kamu womenizer tapi aku tetep kagum sama karakter kamu, ngga bisa disebutin satu-satu, karena kelebihan kamu banyak banget.πŸ™β€οΈβ€πŸ”₯ Sangat rekomended buat semua orangπŸ˜πŸ’― Tertarik baca friends ?😊
redaksi_bip
1 year ago
Saya suka buku ini, sangat menginspirasi.
Disa Pracita Dewi
1 year ago
Suka banget sama buku ini!

RECOMMENDED FOR YOU Explore More